Selasa, 30 Juni 2009

Merealisasikan Tauhid Dengan Tahkimu Syariah (Bag. 6, Hal 40-47)

5). Sebagai penutup penjelasan mengenai urgensi tahkimu syariah ini kami tunjukkan bahwa tahkimu syariah merupakan sikap memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya yang mengandung kehidupan dan kebaikan.

Sebagaimana firman Allah :

يا أيها الذين آمنوا استجيبوا لله و للرسول إذا دعاكم لما يحييكم

“ Hai orang-orang yang beriman, penuhilah panggilan Allah dan Rasul-Nya jika menyeru kalian kepada apa yang membawa kehidupan bagi kalian.” [Al Anfaal :24].

Syaikh As Sa’di berkata,”
" Jika menyeru kalian kepada hal yang memberi kalian kehidupan" merupakan sifat yang senantiasa berlangsung (ada) ada tiap apa yang ajakan Allah dan Rasul-Nya, juga menerangkan faedah dan hikmahnya karena hidupnya hati dan ruh itu dengan beribadah kepada Allah, senantiasa mentaati-Nya dan senantiasa mentaati Rasul-Nya."
Sesungguhnya menolak syariah Islam dan tidak memenuhi panggilan tahkimu syariah merupakan sikap memenuhi panggilan hawa nafsu, itulah kesesatan yang jauh di dunia dan adzab yang pedih di akherat.

Allah berfirman :

فإن لك يستجيبوا لك فاعلم أنما يتبعون أهواءهم ومن أضل ممن اتبع هواه بغير هدى من الله
“ Jika mereka tidak memenuhi ajakanmu maka ketahuilah bahwasanya mereka mendengarkan hawa nafsunya dan siapakah yang lebih sesat melebihi orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa mengikuti petunjuk Allah?” [Al Qashash :50].

Allah berfirman :
يا داود إنا جعلناك خليفة في الأرض فاحكم بين الناس بالحق ولا تتبع الهوى فيضلك عن سبيل الله إن الذين يضلون عن سبيل الله لهم عذاب شديد بما نسوا يوم الحساب.

“ Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu sebagai khalifah di bumi maka menghukumilah di antara manusia dengan kebenaran dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu sehingga hawa nafsu menyesatkanmu dari jalan Alah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah, bagi mereka adzab yang pedih pada hari perhitungan nati akibat mereka melupakan (perintah Allah).” [Shad : 26].
Allah berfirman :

ومن يعص الله ورسوله ويتعد حدوده يدخله نارا خالدا فيها وله عذاب مهين
” Dan barangsiapa berbuat maksiat kepada Allah dan rasul-Nya dan melanggar batasan-batasan Allah, maka Allah akan memasukkannya dalam neraka . Ia kekal di dalamnya dan baginya adzab yang menghinakan.” [An Nisa’ :14].
Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini :
“Karena ia telah mengganti hukum Allah dan menentang Allah dalam maslaah hukum-Nya. Ini hanya akan keluar dari sikap tidak ridha dengan pembagian dan hukum Allah. Karena itu Allah membalasnya dengan menghinakan dalam adzab yang pedih dan kekal.”
Nash-nash dua wahyu ( Al Qur’an dan As Sunah) telah datang mengingatkan untuk tidak bertahakum kepada selain hukum Allah. Allah berfirman :
وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ وَلاَتَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَن بَعْضِ مَآ أَنزَلَ اللهُ إِلَيْكَ فَإِن تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللهُ أَن يُصِيبَهُم بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kemu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati. hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik .” [Al Maidah :49].
Syaikh Ismail bin Ibrahim al Azhari berkata:
” Allah memerintahkan nabi-Nya untuk memutuskan perkara di antara ahlu kitab dengan apa yang Allah turunkan dan melarangnya untuk mengikuti hawa nafsu mereka karena hal itu menyelisihi apa yang diturunkan Allah. Allah mengingatkan beliau jangan sampai terkena fitnah mereka sehingga menghalangi beliau dari sebagian yang diturunkan Allah. Allah memberitahukan kepada beliau bahwa jika mereka berpaling dari hukum yang diturunkan Allah kepadanya maka Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka dan menguji mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka . Maka dari sini diketahui bahwa berpaling dari hukum Allah kepada hukum sesuai hawa nafsu adalah seabab kenapa Allah menimpakan musibah kepada mereka.”
Ibnu Qayyim menyebutkan sebagian akibat dari meminggirkan hukum Allah
“ Ketika manusia berpaling dari hukum Allah dan sunah dan bertahakum kepada keduanya, dan mereka meyakini tidak cukuap dengan keduanya dan mereka berpaling kepada fikiran akal, qiayas dan istihsan dan pendapat para pemuka kaum maka mereka ditimpa kerusakan dalam fitrah mereka dan kegelapan dalam hati mereka dan kekeruhan dalam pemahaman mereka dan dan akal mereka. Persoalan-persoalan ini mengenai mereka semua sampai seorang anak segera tumbuh dewasa karenanya dan orang tua pikun karenanya.”
Dalam hadits dari Nabi beliau bersabda :

يَا مَعْشَرَ اْلُمَهاجِرِيْنَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيْتُمْ بِهِنَّ وَ نَزَلْنَ بِكُمْ وذكر منها : وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ الله إِلَّا جَعَلَ الله بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ. وفي رواية : وَمَا حَكَمُوْا بِغَيْرِ مَا أَنْزَلَ الله إِلَّا فَشَا فِيْهِمُ اْلفَقْرُ.

” Wahai kaum muhajirin, aku berlindung kepada Allah dari lima kerusakan, jangan sampai menguji kalian dan mengenai kalian,” Beliau menyebutkan salah satunya,” Dan tidaklah para pemimpin mereka tidak berhukum dengan selain hukum Allah kecuali Allah akan menjadikan perang saudara di antara mereka. Dalam riwayat lain,” Dan tidaklah mereka berhukum dengan selain hukum Allah kecuali akan melauaslah di kalangan mereka kefakiran.”
Dalam hal ini Ibnu Taimiyah berkata:
” Jika para pemimpin telah keluar dari ( Al Qur’an dan As sunah) maka mereka telah berhukum dengan selain hukum Allah dan terjadilah perang sesama mereka, sebagaimana sabda Rasulullah,” Tidaklah suatu kaum diperintah (dihukumi) dengan selain hukum Allah kecuali akan terjadi perang sesama mereka.” Inilah sebab terbesar jatuh bangunnya negara-negara sebagaimana terjadi lebih dari sekali di zaman kita ini dan selain zaman kita. Siapa yang Allah menghendaki kebahagian bagi dirinya, maka Allah menjadikannya mengambil pelajaran dari apa yang menimpa orang lain, sehingga ia menempuh jalan orang-orang yang dikuatkan dan dibenarkan Allah dan menjauhi jalan orang-orang yang dihinakan Allah.”
Maha Benar Allah dan rasul-Nya, karena siapa yang melihat kondisi umat Islam saat ini akan melihat musibah dan keburukan yang menimpa negeri-negeri kaum mauslimin, juga berbagai permusuhan dan perpecahan di antara mereka, demikian juga saling perang, sebagaimana juga muncul kemiskinan dan kemunduran ekonomi padahal negara-negara umat Islam sebagaimana sama-sama diketahui merupakan negara yang paling besar kekayaan alam dengan berbagai jenisnya. Sebab paling besar dari semua musibah ini semua adalah peminggiran syariah Islam dan berhukum kepada thaghut. Wallahu Al Musta’anu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Apapun tanggapan anda, silahkan tulis...