Kamis, 18 Juni 2009

TAKKAN KUBIARKAN ISLAM DIGEROGOTI, SELAGI AKU MASIH HIDUP!

TAKKAN KUBIARKAN ISLAM DIGEROGOTI, SELAGI AKU MASIH HIDUP!

Syaikh: Abu Mush‘ab Az-Zarqawiy v
Segala puji bagi Alloh, yang memuliakan Islam dan pertolongan-Nya. Yang menghinakan kesyirikan dengan kekuatan-Nya. Mengatur semua urusan dengan perintah-Nya. Mengulur batas waktu bagi orang-orang kafir dengan makar-Nya. Yang mempergilirkan hari-hari bagi manusia dengan keadilan-Nya, dan menjadikan hasil akhir sebagai milik orang-orang bertakwa dengan keutamaan-Nya.
Sholawat dan salam terhatur selalu kepada Nabi Muhammad, manusia yang dengan pedangnya Alloh tinggikan menara Islam.
Ammâ ba‘du…
Sesungguhnya Alloh menciptakan segenap makhluk-Nya dengan tingkat semangat yang berbeda-beda. Ada yang semangat membawanya terbang hingga ke langit, dan yang semangatnya kerdil sehingga membuatnya lebih cenderung kepada dunia.
Yang itu menempati bumi dengan turun menghampirinya,
Yang ini menempati langit dengan menaikinya
Orang yang memiliki semangat tinggi, rela mengorbankan nyawa dan semua yang mahal demi meraih apa yang ia cita-citakan. Semakin mulia suatu jiwa dan semakin tinggi semangat, maka badan pun akan lebih banyak berpayah-payah dan sedikit bersikap santai.
Seorang pemuda yang semangat hatinya tak tertampung oleh hati
Jika itu ditampung oleh hati, tentu dada tak mampu menampungnya
Orang yang bersemangat tinggi tidak pernah merasa kesepian dengan sedikitnya penempuh jalan, tidak peduli dengan sedikitnya orang yang selamat, tidak menggubris banyaknya orang-orang yang mentelantarkan, tidak peduli dengan pelanggaran orang-orang yang menyimpang. Hatinya tak kenal “menguap”, tak kenal bersantai, tak kenal bertenang-tenang, tak kenal hidup bersenang-senang.
Sedangkan orang yang bersemangat rendah, setiap kali tergerak untuk mendaki ketinggian dan menaiki derajat-derajat tinggi, setan langsung menutup hatinya dan mengikat ubun-ubunnya, seraya berkata: “Tidurlah, malam masih panjang.”
Setiap kali ia berusaha mengadakan peningkatan dengan semangatnya dan menyingkirkan kesalahannya, tentara-tentara pengacau dan pembawa angan-angan langsung menyambut, jiwanya yang sering memerintahkan kepada maksiat berseru: “Apakah kamu lebih hebat daripada kenyataan?”
Ketika seorang manusia “runtuh”, ia akan meluncur ke lembah terdasar yang belum pernah dicapai oleh makhluk lain, di kala hewan pun lebih tinggi dan lebih lurus darinya. Ketika ia tenggelam bersama hawa nafsunya menuju lembah dasar yang binatang pun tak mampu untuk tenggelam di dalamnya. Jika ghiroh terhadap dirinya dan terhadap hal-hal yang diharamkan Alloh telah padam, ketika itulah seseorang menjadi lebih rendah daripada binatang ternak.
Tidak ada yang mau diberdirikan di atas kehinaan dengan sengaja
Selain orang-orang hina dan pasak
Yang ini seluruh tubuhnya terikat tali
Yang itu dibalut hingga tidak seorang pun mengenalinya
Para pendahulu kita yang sholeh telah berhasil meraih keunggulan dalam mewujudkan semangat dan cita-cita yang tinggi. Mereka telah memberikan andilnya pada setiap pintu bagian dari Islam ini, mereka ambil bagian dalam setiap keutamaan.
Di dalam ibadah; engkau tidak melihat mereka melainkan sebagai orang-orang yang senantiasa ruku‘ dan sujud, khusyu‘, menangis dan tunduk patuh.
Di dalam mencari ilmu; mereka rela berpisah dengan isteri dan anak, berpindah dari satu negeri ke negeri lain, mereka tinggalkan nikmatnya tidur, dan mereka jual barang berharga.
Adapun dalam jihad; maka itu adalah perbincangan yang mengharukan, sebab ketika mereka melihat jihad memiliki keutamaan yang tak tertandingi, memiliki kebaikanyang tak pernah habis, jiwa mereka terbang menyongsongnya, semangat mereka meletup untuk meraihnya. Mereka pun menyingsingkan lengan baju untuk berjihad dengan serius, mereka berangkat memerangi orang-orang kafir dan para pembangkang. Mereka siapkan pasukan dan detasemen-detasemen. Mereka korbankan harta dan segala kepemilikan mereka untuknya. Mereka jual nyawa untuk dipersembahkan kepada Penciptanya, maka sungguh pantas jika Alloh membalas mereka dengan surga-surga nan tinggi.
Sejarah kita telah mencatat situasi-situasi dan kisah-kisah seperti ini, yang semuanya menunjukkan betapa tinggi semangat dan cita-cita yang mereka miliki.
Ketika terjadi fitnah mâni‘uz zakât, suasana kacau dan ujian yang berat muncul. Masalah ini terlihat meragukan, bahwa di kalangan tokoh-tokoh Shahabat Nabi. Maka, dengan tegas Abu Bakar Ash-Shiddîq a menyatakan sikapnya: “Demi Alloh, aku tidak akan membeda-bedakan antara sholat dan zakat, sungguh akan kuperangi orang yang membeda-bedakan antara keduanya.”
Umar a berkata: “Akhirnya kami berperang bersamanya, dan kami pun tahu bahwa ia benar.”
Diriwayatkan dari Abu Rojâ Al-‘Uthôridî ia berkata: “Aku masuk ke kota Madinah, maka kulihat orang-orang sedang berkumpul. Kemudian aku melihat seseorang mengecup kepala seseorang sambil berkata: ‘Aku menjadi penebusmu, kalau bukan dikarenakan kamu tentu kami semua sudah binasa.’ Aku pun bertanya: ‘Siapa orang yang mencium dan siapa yang dicium?’ orang-orang memberitahu itu adalah Umar mencium kepala Abu Bakar karena perang yang ia lancarkan kepada orang-orang murtad yang tidak mau membayar zakat, hingga akhirnya mereka kembali mau membayarnya dengan keadaan hina.’”
Dan dari Ummul Mukminin, ‘Âisyah s, berkata: “Ketika Nabi n wafat, Abu Bakar a harus memikul beban yang sekiranya beban itu ditimpakan kepada gunung pasti gunung itu akan hancur. Kemunafikan merajalela di Madinah, bangsa Arab berbalik menjadi murtad. Demi Alloh, tidaklah mereka berselisih dalam sebuah permasalahan kecuali Abu Bakar datang menentukan apakah itu harus ada atau tidak di dalam Islam.”
Ketika itu, Abu Bakar Ash-Shiddîq, berdiri sekokoh gunung –ayah dan ibuku menjadi penebusnya—yang menjulang sebagai benteng pembendung arus kemurtadan. Berteriak dari hatinya yang paling dalam dengan penuh tawakkal kepada Robbnya: “Wahyu telah habis, Islam telah sempurna, ayanqushu `d-dîn wa ana hayy ?”
Ayanqushu `d-dîn wa ana hayy…sungguh sebuah kalimat agung yang keluar dari lisannya, terungkapkan dari hatinya. Sebuah kalimat yang menggariskan jalan yang jelas yang harus ditempuh oleh siapapun dari umat ini. Semangat yang tinggi. Keteguhan tawakkal. Kokoh di atas kebenaran.
Ayanqushu `d-dîn wa ana hayy…kalimat yang dinyatakan dengan sikap oleh imam Ahlus Sunnah wal Jamaah, Ahmad bin Hanbal Asy-Syaibânî; Ash-Shiddîq kedua, ketika ia berdiri sekokoh gunung menjulang di saat badai fitnah kholqul Quran menerpa. Melaluinya Alloh menyingkap mendung, melaluinya Alloh selamatkan umat.
Ayanqushu `d-dîn wa ana hayy…dicontohkan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v ketika ia berdiri membakar semangat umat untuk melawan pasukan Tartar. Karena kejujuran tawakkalnya kepada Alloh dan yakinnya akan janji-Nya, ia sampai bersumpah dengan nama Alloh tanpa istitsnâ’: “Alloh pasti menolong kaum muslimin mengalahkan pasukan Tartar.” Ada yang menegurnya: “Katakanlah Insyâ Allôh.” Ia berkata: “Sebagai kepastian, bukan ketidak pastian.” Akhirnya Alloh mengusir serangan Tartar dan memukul mundur mereka dalam keadaan rugi.
Ayanqushu `d-dîn wa ana hayy…kalimat yang diteriakkan oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, beliau berkeliling ke berbagai negara seperti seorang ibu yang kehilangan anaknya, kedua matanya bercucuran air mata sambil berseru: “Duhai, kasihan Islam. Duhai, kasihan Islam.”
Sungguh, kesedihan dan musibah-musibah itu mampu memicu semangat dan melahirkan para pembesar. Jika bukan musibah dan kepedihan-kepedihan yang membuat kita termotivasi dan bersemangat tinggi, lantas apa yang membuat kita berdiri tegak? Apa yang akan membangungkan kita?
Betapa agung agama Islam ini, sekiranya dipegang oleh orang-orang besar.
Lihatlah, para penyembah salib itu telah menajisi kitab Robb kita dan melemparkannya ke dalam kakus-kakus mereka dengan diiringi sebuah perencanaan yang matang, dalam rangka menghancurkan kesakralan sesuatu yang dianggap suci oleh umat ini. Lihatlah, manusia-manusia keturunan kera dan babi, serta kaum Hindu penyembah sapi, telah berani berbuat lancang lalu melakukan perbuatan seperti perbuatan mereka.
Duhai, menyedihkan kondisi umatku. Jika putera-puteranya tidak bangkit membalas serangan yang dilancarkan kepada kitab Robb mereka, lalu kapan mereka bangkit? Kapan mereka bangun? Jika realita dan musibah seperti ini tidak membuat mereka tergerak, lalu apa yang membuat mereka tergerak?
Hampir-hampir hujan batu dari langit menimpa kita, kita meminta pertolongan dari Robb kita tapi kita tidak marah ketika kesucian kitab-Nya dilanggar.
Sesungguhnya para penyembah salib itu telah menganeksasi negeri-negeri kita, mereka langgar kesucian-kesucian kita, mereka perkosa kehormatan-kehormatan kita, mereka rampas harta kekayaan kita, dalam sebuah batalyon salib terbesar dalam sejarah kita dewasa ini. Lantas apakah yang ditunggu oleh putera-putera umat ini? Kapan mereka bangun dari tidur?
Duhai, menyedihkan…bagaimana semangat umat ini redup –kecuali orang-orang yang dirahmati Alloh—, lalu rela dengan sikap berpangku tangan daripada membela agama ini dan melindungi kehormatan kaum muslimin?
Sungguh besar kemelaratan ini, sungguh besar kerugian seperti ini…suatu kaum yang “pasar kesyahidan” digelar di negeri mereka, kendaraannya diderumkan di depan pintu mereka, tapi mereka masih saja tenggelam dalam tidurnya, mereka tak kunjung berhenti dari perbuatan main-mainnya.
Namun demikian, sepanjang sejarah Sunnatulloh tetap menentukan adanya hamba-hamba Alloh pilihan-Nya yang mengangkat panji agama ini, lalu menyampaikannya ke seluruh dunia. Nabi n bersabda:
(لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي، ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ)
“Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang unggul di atas kebenaran, tidak terpengaruh oleh orang yang mentelantarkan mereka, hingga tiba ketetapan Alloh.”
Maka terdengarlah seruan-seruan perang dari sana sini: “Wahai kuda Alloh, berangkatlah.” “Wahai panji Alloh, naiklah.” “Wahai para pengusung bendera, bangkitlah.”
Seruan ini pun disambut oleh umat Islam yang mau menyambut. Mereka sambut seruan ini, mereka berangkat untuk berperang, mereka kibaskan debu kehinaan dan kotoran kenistaan. Mereka bangkit meninggalkan dunia dan kemewahannya di belakang mereka, mereka berangkat berperang meninggalkan keluarga, kampung halaman dan harta benda. Masing-masing punya cerita sendiri, masing-masing punya pengalaman pahit sendiri. Rambut mereka kusut. Kepala mereka berdebu. Jumlah mereka sedikit. Persenjataan mereka lemah. Tapi…hati mereka dipenuhi rasa cinta kepada agama ini. Jiwa mereka rindu bersanding di sis Robbul ‘Alamin. Mereka jujur kepada Alloh maka Alloh pun membenarkan janji-Nya kepada mereka. Maka mereka timpakan kekalahan demi kekalahan dan siksa demi siksa kepada para penyembah salib itu, mereka luluh lantakkan nama besar mereka, mereka hancurkan kekuatan mereka. Alloh munculkan karomah-karomah melalui tangan-tangan mujahidin yang sudah bukan menjadi rahasia lagi bagi siapa pun yang memiliki mata.
Ketika orang-orang Bani Ashfar menyadari betapa besar bahaya yang mereka tengah terperosok di dalamnya saat ini, begitu juga besarnya kerugian dan korban di fihak mereka, mereka pun mengambil langkah cepat membentuk pasukan Garda Nasional (Al-Haros Al-Wathoni/ al-watsanî?) untuk menjadi tameng pelindung kaum salibis sekaligus menjadi tangan untuk memukul mujahidin. Maka pentas ujian dan penyaringan kembali digelar. Seruan mereka ditanggapi oleh mereka yang bersemangat rendah dan rela menjual agama dan akhiratnya, hukum yang diberlakukan mujahidin terhadap orang-orang seperti ini sangatlah jelas, tidak ada kesamaran di dalamnya, yaitu wajib memerangi dan berjihad melawan mereka karena mereka telah murtad dari Islam dan loyal kepada tentara Salibis. Status mereka ini terlihat samar oleh sebagian orang yang digelari ulama, apalagi jika di pandangan orang-orang awam. Akibatnya, “ulama” tadi mengeluarkan fatwa tentang tidak bolehnya memerangi mereka demi menjaga tertumpahnya darah sesama rakyat Irak. Dan sungguh ini merupakan bahaya yang sebenarnya yang menimpa banyak sekali organisasi-organisasi Islam di zaman sekarang. Bahaya itu adalah: Pembedaan antara musuh asing dan musuh lokal; kalau musuh asing, maka umat boleh bangkit untuk memeranginya, segala kekuatan boleh dihabiskan untuk berjihad melawannya, hingga jika musuh itu sudah keluar lalu mengangkat wakilnya dari kalangan orang-orang murtad dari bangsa kita sendiri, yang berhukum dengan hukumnya, yang memukul dengan cambuknya, maka haram bagi umat untuk memerangi dan berjihad melawan mereka, sekejam apapun mereka.
Jika musuh itu berambut pirang bermata biru, wajib memeranginya. Adapun jika musuh berkulit coklat bermata hitam, maka ini tidak halal untuk diperangi.
Demi Alloh perang seperti ini adalah perang kaum nasionalis, bukan perangnya ahli tauhid. Perang orang yang menginginkan dunia, bukan menginginkan akhirat;
{أَكُفَّارُكُمْ خَيْرٌ مِنْ أُولَئِكُمْ أَمْ لَكُمْ بَرَاءَةٌ فِي الزُّبُرِ}
“Apakah orang-orang kafirmu (hai kaum musyrikin) lebih baik dari mereka itu, atau apakah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) dalam Kitab-kitab yang dahulu?” (QS. Al-Qomar: 43).
Kaum murtaddin itu tidak mendasari pembentukan tentara mereka selain untuk memerangi agama Alloh l, agar menjadi pemukul orang-orang ikhlas dari umat ini. Bukti paling riil dari hal itu adalah operasi rutin yang mereka lancarkan untuk menghabisi kaum Sunni, seperti Operasi Halilintar, Operasi Tombak, Operasi Pisau, Operas Pedang…dan lain-lain.
Tentara ini; kami tak pernah mendengar gaungnya selain ketika memerangi orang-orang beriman dan tentara-tentara Ar-Rohman.
Lihatlah aksi mereka di Pakistan terhadap mujahidin Arab dan Afghan.
Di Yordania; terhadap orang-orang terbaik di kalangan penduduk Ma‘aan.
Di Riyadh, Al-Qoshim, Mekkah; terhadap para pemegang ajaran tauhid yang benar.
Setelah itu, terhadap orang-orang kafir mereka justeru bersikap baik, terhadap orang-orang jahat mereka melunak.
Kami tegaskan: Sesungguhnya tentara Irak adalah tentara murtad dan pengkhianat yang setia kepada orang-orang salibis. Tentara ini lahir untuk menghancurkan Islam dan memerangi kaum Muslimin. Maka kami akan memeranginya seperti ketika umat Islam memerangi pasukan Tartar yang datang dengan pasukan berkuda dan pejalan kakinya meskipun mereka menyatakan dua kalimat syahadat. Bahkan di tengah pasukan mereka ada imam-imam masjid dan para muadzin, di antara mereka ada yang sholat dan puasa, di mana ini membuat manusia ragu-ragu, membuat para ulama kebingungan, bagaimana mereka diperangi sementara mereka mengaku umat Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat? Hingga akhirnya Alloh munculkan di tengah badai ujian ini seorang “mentari penerang” Umat, yang menjadi salah satu menara pemberi petunjuknya: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v. Beliau mengeluarkan fatwa tentang murtadnya pasukan Tartar, wajibnya memerangi mereka karena keengganan mereka berhukum dengan syariat Alloh dan penyimpangan mereka dari Al-Quran kepada hukum Ilyasiq karangan Jengis Khan, hukum yang di dalamnya ia menggabungkan antara hukum-hukum Taurat, Injil dan Quran, ditambah dengan tradisi-tradisi bangsa Tartar, persis seperti undang-undang rezim-rezim Arab di zaman sekarang.
Di antara ucapan Syaikhul Islam adalah: “Orang-orang yang ditanyakan dalam soal, balatentara mereka terdiri dari orang-orang kafir baik kristen maupun kaum musyrik, begitu juga orang-orang yang masih mengaku Islam dan ini mayoritas; mereka mengucapkan dua kalimat syahadat jika diminta untuk itu, mereka menghormati Rosululloh, namun yang sholat di antara mereka hanyalah sedikit, yang puasa jumlahnya agak lebih banyak daripada yang sholat, orang Muslim dalam pandangan mereka lebih dihormati daripada non-muslim, orang muslim yang sholeh pun lain kedudukannya di sisi mereka…dst” hingga beliau mengatakan: “…memerangi kelompok jenis ini adalah wajib berdasarkan ijmak kaum Muslimin; orang yang mengerti Islam dan mengerti hakikat mereka tidak akan meragukan hal ini, sebab kedamaian yang mereka anut dan agama Islam ada dua hal yang tidak mungkin bertemu sampai kapanpun.”
Beliau berkata lagi: “Jika para salaf menyebut orang-orang yang tidak mau membayar zakat sebagai kaum murtaddin –padahal mereka jelas puasa dan sholat— dan mereka tidak memerangi kesatuan kaum Muslimin, lalu bagaimana dengan orang yang telah menjadi musuh Alloh dan Rosul-Nya, dan memerangi kaum Muslimin?!” demikian perkataan beliau v.
Kami sudah memprediksi sebelumnya dengan yakin bahwa ketika kami memerangi tentara murtad, kami akan menuai protes bahkan kemarahan yang besar dari para umat Islam yang tidak faham. Sebab dengan pandangan sempitnya mereka mengatakan: bagaimana seorang mujahid memerangi saudaranya sendiri, keponakannya dan orang yang masih sedarah dengannya?
Mereka tidak menyadari bahwa Nabi n dulu pertama-tama memerangi orang yang menjadi batu penghalang Islam dari kalangan kaumnya sendiri, sebelum beliau memerangi Bani Ashfar (Romawi). Jalan ini juga ditapaki oleh para shahabat g sepeninggal beliau.
Abu Ubaidah bin Jarroh, ia membunuh bapaknya sendiri dalam perang Uhud.
Mushab bin Umair, ia membunuh saudaranya, Ubaid bin Umair, juga dalam perang Uhud.
Umar bin Khothôb, ia membunuh pamannya, Al-‘Ash bin Hisyâm, dalam perang Badar.
Ali, Hamzah dan Ubaidah bin Harits, mereka membunuh Utbah-Syaibah putera Robî‘ah dan Walid bin Utbah, dalam perang Badar. Tentang mereka inilah kemudian turun firman Alloh Ta‘ala:
{لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ}
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Alloh dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (QS. Al-Mujâdilah: 22).
Sebagian dari mereka datang membawa klasifikasi baru mengenai jihad di Irak, yang belum pernah ada sebelumnya, dengan mengatakan: “Aksi perlawanan (muqowamah) –kami sangat menjaga penggunaan istilah ini— itu ada dua macam: perlawanan yang mulia, yaitu perlawanan kaum kafir penjajah, dan perlawanan yang tidak mulia yaitu memerangi rakyat Irak, siapa pun orangnya.”
Maka kami tegaskan kepada mereka: yang kami ketahui dari agama kami, bahwasanya Nabi n bersabda:
(مَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فيِ سَبِيْلِ اللهِ)
“Siapa berperang dengan tujuan agar kalimat Alloh menjadi yang tertinggi, maka ia (berperang) di jalan Alloh.”
Aksi perlawanan yang mulia adalah berperang di atas perintah Alloh, hingga tidak ada fitnah dan agama itu seluruhnya menjadi milik Alloh (Al-Anfâl [8]: 39), bukan perlawanan yang mensyaratkan jika musuh asing sudah menarik pasukannya maka harus berhenti melawan, walaupun musuh asing itu mengangkat rezim boneka yang berhukum dengan selain syariat Alloh, loyal kepada musuh-musuh-Nya dan memusuhi wali-wali-Nya, lalu kita bergabung di bawah benderanya tanpa merasa ada yang keliru.
Aksi perlawanan yang mulia adalah yang mengorbankan darah putera-puteranya, mengorbankan segala yang mahal dan berharga, menghadapi resiko berbagai siksaan, sementara semboyan penyemangat mereka adalah: “Ya Alloh, ambillah darah-darah kami hari ini supaya Engkau ridho,” “Ya Alloh, bangkitkan jasad kami dari perut-perut burung nasar dan binatang buas.” Bukan perlawanan yang ingin selamatnya saja, yang berperang di atas prinsip meraih kepentingan pribadi, yang melancarkan aksi-aksinya agar musuh penjajah memperbaiki situasi kehidupannya dan membukakan pintu baginya untuk ambil bagian dalam kancah politik sebesar-besarnya.
Aksi perlawanan yang mulia adalah yang tauhidnya murni bagi Alloh saja, yang mencintai karena Alloh dan Rosul-Nya walaupun kepada manusia yang terjauh hubungannya, serta memusuhi karena Alloh dan Rosul-Nya walaupun kepada manusia yang paling dekat hubungannya.
Kalaulah nasab berbeda, kita disatukan oleh
Agama, kita menganggapnya seperti ayah saja
Ada seseorang dari kaum muslimin berkata kepada Kholid bin Sa‘id a –ketika ia bersiap-siap berangkat perang bersama Abu Ubaidah—: “Jika kamu berangkat bersama sepupumu, Yazid bin Abu Sufyan, tentu itu lebih baik daripada berangkat bersama yang lain.” Maka Kholid berkata: “Sepupuku lebih kucintai daripada Abu Ubaidah dari sisi kekerabatan. Sedangkan Abu Ubaidah lebih kucintai daripada sepupuku dari sisi agamanya, dia adalah saudaraku seagama di zaman Rosululloh n masih hidup, ia adalah setia dan menolongku ketika aku memerangi sepupuku sebelum hari ini, maka aku lebih merasa nyaman dan tenang bergabung bersamanya.”
Aksi perlawanan yang mulia adalah yang menjadikan jihadnya sebagai jihad alami (jihad global, mendunia), tidak terikat oleh warna kulit, darah, atau negeri. Sebab orang-orang beriman itu adalah umat yang satu, darah mereka sama nilainya, mereka adalah penolong satu sama lain;
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain…” (At-Taubah [9]: 71).
وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلَّا عَلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“…jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Alloh Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Anfâl [8]: 72), bukan perlawanan semu yang menganggap garis-garis teritorial yang ditetapkap berdasarkan perjanjian Sieks-Piccot sebagai titik awal dari cita-cita dan jihad yang dilancarkannya.
Dulu Abu `d-Darda’ tinggal di Damaskus sedangkan Salman a berada di Irak. Maka suatu ketika Abu `d-Darda’ menulis surat kepada Salman: “Datanglah ke negeri yang disucikan.” Maka Salman membalas suratnya: “Suatu negeri tidaklah menjadikan suci siapapun, yang menjadikan seseorang suci hanyalah amal perbuatannya.”
Aksi perlawanan yang mulia adalah perjuangan yang diwarnai oleh luka-luka, hilangnya anggota, berkurangnya logistik persenjataan, tapi tetap bangkit dan menguatkan diri seraya bertawakkal kepada Robbnya. Tidak memohon perlindungan kecuali hanya kepada-Nya. Sebagaimana yang dilakukan Nabi n dan para shahabatnya dalam perang Hamrô’u `l-Asad. Bukan perjuangan yang apabila terkena sebuah tragedi atau musibah, lalu menjadi merasa sendiri dan meminta bantuan kepada siapa saja yang mau mengulurkan bantuan kepadanya, walaupun dari orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya.
Aksi perlawanan yang mulia adalah yang bertujuan mulia dan tinggi, yang bertujuan syar‘î dan besar. Oleh karena itu, cara yang dipakai pun syar‘i, sesuai petunjuk Al-Quran dan Sunnah; bukan perlawanan yang memiliki prinsip “tujuan menghalalkan segala cara” sehingga tidak masalah berkoalisi dan bekerjasama dengan orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya, yang penting sebagian dari kepentingan dan tujaunnya tercapai.
Orang-orang yang mereka bilang sebagai para gerilyawan “perlawanan yang tidak mulia” itu, justeru merekalah yang berjihad di jalan Alloh sejak lebih dari dua tahun terakhir. Mereka telah mengorbankan segala yang berharga yang mereka miliki demi terangkatnya kemuliaan agama ini. Mereka telah mempersembahkan ulama-ulama mereka, para komandan mereka dan kader-kader mereka sebagai tumbal.
Di atas bahu siapakah pertempuran di Qo’im bisa tegak?
Darah siapakah yang mengalir di Rammadi, Fallujah, dan Haditsah?
Leher siapa yang terpenggal di Talla‘far dan Moushil?
Nyawa siapa yang tercabut dalam pertempuran-pertempuran Baghdad, Diyala dan Saamirro’?
Siapa yang melaksanakan semua ini kalau bukan anggota-anggota Tandzim Al-Qaeda, baik yang Muhajirin maupun Anshor dan mujahid-mujahid lain yang jujur, para pemegang manhaj yang bersih, yang bertekad untuk tak menanggalkan senjata selagi masih ada pada mereka mata yang berkedip dan nadi yang berdetak.
Kemudian, salah satu yang membuat hati ini semakin sedih dan pilu; adalah adanya sebagian ulama yang menurut kami adalah orang-orang jujur dan cinta kepada jihad dan mujahidin. Ada di antara mereka yang mengirim surat dan menasehati aku agar tidak “mencari mati” denan terus berperang di Irak, dan jangan mengkonsentrasikan energi umat Islam untuk perang ini saja.
Alloh Maha Tahu, betapa aku sangat sedih dan pilu mendengar perkataan mereka ini. Inikah keadaan yang telah dialami umat kita?
Inikah ketulusan ulama kita yang diberikan kepada kita?
Sampai kapan para ulama berpaling dari front-front jihad? Mereka menyampaikan hukum-hukumnya, mengeluarkan nasihat-nasihatnya, tapi jauh dari kehidupan nyata yang dialami umat. Sebab, penilaian yang benar itu harus didasari oleh, tidak hanya ilmu syar‘i, tapi juga pengetahuan tentang realita.
Sayyid Quthub v berkata:
“Sesungguhnya pemahaman mengenai agama ini tidak muncul melainkan dari dunia pergerakan, ia tidak diambil dari orang fakih yang berpangku tangan ketika pergerakan menjadi keharusan, yang hanya berkutat pada buku dan lembaran-lembaran kitab di zaman sekarang untuk menyimpulkan berbagai hukum fikih, mereka memperbarui fikih Islam dengan simpulan tersebut atau mengembangkannya namun mereka jauh dari pergerakan yang bertujuan membebaskan umat manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan kepada Alloh saja, dengan menjadikan syariat Alloh saja sebagai hukum dan menolak semua undang-undang thoghut. Mereka itu tidak memahami tabiat agama ini. Sehingga, mereka tidak memiliki kelayakan untuk menentukan fikih agama ini.”
Jika jihad yang kita alami sekarang ini jihad tholab dan ada beberapa benteng pertahanan Bani Ashfar yang membahayakan mujahidin tak kunjung mampu kita taklukkan, tentu kita katakan: ada kelonggaran dalam hal ini. Namun, kita sekarang sedang melancarkan perang pembelaan (difa‘) terhadap umat kita, terhadap agama kita, dari musuh yang paling berbahaya yang pernah menyerang negeri kaum Muslimin di zaman sekarang. Mereka melanggar kesucian-kesucian, menjajah negeri, merampas harta kekayaan dan sumber kekayaan alam, penjara mereka penuh dengan kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan, bahkan…rahim-rahim muslimat telah dipenuhi oleh sperma-sperma kotor mereka.
Sesungguhnya, selagi umat ini masih mau mengorbankan orang-orang yang dicintainya, menumpahkan darah putera-puteranya, demi membela agama ini, maka umat ini masih dalam keadaan baik. Namun jika umat ini sudah mulai “bakhil” mengorbankan darah putera-puteranya dalam rangka meninggikan kalimat Alloh, maka bangsa-bangsa lain akan mengeroyoknya, ia akan tertimpa kenistaan dan kehinaan dan dikuasai oleh manusia-manusia yang paling hina. Sejauh mana mujahidin maju memerangi musuh mereka dan menggapai kemenangan-kemenangan nyata, sejauh itu pulalah kedzaliman dan kabut ini tersingkirkan dari umat. Jika sebaliknya, maka sebaliknya juga.
Kapankah kita pernah “mencari mati” dalam rangka membela kehormatan kaum muslimin dan muslimat?
Apakah ketika tentara penyembah Salib nanti sudah memasuki Syam? Atau ke Mekkah dan Madinah, lalu mereka langgar kehormatan kita, lalu ketika itu kita baru berperang mencari mati?!
Bagaimana dengan saudari-saudari kita di Irak yang tadinya terjaga dan suci kehormatannya, meminta perlindungan kepada Alloh dari kezaliman musuh-musuh-Nya di dalam sel-sel penjara mereka?
Alloh Maha Mengetahui, bahwa bebasnya satu orang wanita Ahlus Sunnah di Irak secara umum dan di Fallujah secara khusus, itu lebih aku sukai daripada dunia seisinya.
Demi Alloh, jika semua anggota Tandzim Al-Qaeda di Negeri Dua Anak Sungai habis demi membebaskan wanita-wanita dari penjara-penjara tentara salib dan Rafidhah yang pendengki itu, tentu kami tidak ragu sedikit pun untuk melakukannya.
Bagaimana tidak, sedangkan Nabi n bersabda:
(فَكُّوا الْعَانِيْ)
“Bebaskanlah tawanan.”
Bagaimana jika tawanan itu wanita yang tak berdaya?
Bagaimana jika itu tawanan wanita yang diperkosa kehormatannya setiap pagi dan sore?
Sungguh, menyesalkan sekali kondisi umat kita. Jika kita tidak mencari mati untuk keadaan-keadaan seperti ini, tolong jawablah aku–dengan nama Robbmu—: Kapan dan di mana kita hendak mencari mati?!
Rombongan berlalu di tengah kumpulan bayi-bayi menyusui
Dan di tengah kesedihan para ibu yang kehilangan anaknya atau kerinduan cinta para perawan
Dan di tengah para remaja yang memancarkan air mata kehinaan
Dan di tengah anak-anak kecil dan anak-anak yatim
Rombongan berlalu menyeret langkah-langkahnya
Dengan penuh kehinaan, di atas duri yang memuncratkan darah dan mencetak daging
Hampir saja mata anak-anak kecil itu bertanya: Siapa aku?
Ke mana aku harus pergi, wahai padang pasir: jawablah!
Apakah kamu mengangkat di atas tanahmu rumah-rumah dan gereja orang-orang Kristen untukku?
Dan membuka lahan-lahan kesyirikan atau rumah-rumah penawaran
Supaya kamu cabut fitrah dan kesucian dariku,
Lalu ditanamkan pada diriku kesyirikan dan fitnah kemaksiatan?
Logiskah jika umat terbaik yang pernah dilahirkan di tengah manusia, lebih kecil kecemburuan dan kemarahannya karena anggotanya ditawan daripada umat yahudi?
Al-Qurthubi v berkata: “Para ulama kami mengatakan: Alloh telah mengambil empat perjanjian dari orang-orang yahudi: tidak berperang, tidak mengusir sesama yahudi dari negerinya, tidak membantu musuh, dan agar menebus tawanan. Maka mereka berpaling dari semua perintah ini kecuali satu, yaitu menebus tawanan. Karena perbuatan mereka ini, Alloh mencela mereka dengan celaan yang terus dibaca di dalam Al-Quran, firman Alloh: “…Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain?” (Al-Baqoroh [2]: 85).”
Saya –yakni Al-Qurthubi—katakan: “Sungguh demi Alloh, kita telah berpaling dari semua perintah itu dengan timbulnya banyak fitnah, sebagian kita membantu musuh untuk memusuhi sesama kita yang lain, bukan musuh dari kaum muslimin sendiri tetapi dari orang-orang kafir. Sampai-sampai kita tinggalkan saudara-saudara kita dalam keadaan hina dan rendah, mereka diatur oleh hukum orang-orang musyrik, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah.”
Sebagian ulama itu ada yang menginginkan agar kami menghentikan jihad kami di Irak (negeri Dua Sungai), dengan menyatakan bahwa jihad di Irak adalah jihad nikâyah, bukan jihad tamkîn. Sebab dengan jihad seperti itu, siapa yang akan memetik buah dari jihad penuh berkah ini, dan siapa yang akan naik ke panggung kekuasaan yang dihantarkan oleh darah-darah mujahidin?
Maka kami katakan: Sesungguhnya Alloh l telah mewajibkan kepada hamba-hamba-Nya agar mengikuti perintah-Nya dan mempraktekkan syariat-Nya. Alloh tidak menyuruh mereka beribadah dengan sesuatu yang tidak tampak dan tersembunyi dari mereka. Dan sesungguhnya Alloh l telah memerintahkan kepada kita untuk memerangi orang-orang kafir sampai tidak ada fitnah dan agama ini seluruhnya menjadi milik Alloh, ini adalah tujuan dalam jihad tholab, lalu bagaimana jika keadaannya seperti yang kita alami sekarang? Musuh telah menyerang kita. Alloh Ta‘ala berfirman:
{فَقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لا تُكَلَّفُ إِلَّا نَفْسَكَ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَكُفَّ بَأْسَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَاللَّهُ أَشَدُّ بَأْساً وَأَشَدُّ تَنْكِيلاً}
“Maka berperanglah kamu pada jalan Alloh, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Alloh menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Alloh amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya).” (An-Nisâ' [4]: 84).
Al-Jashôsh berkata di dalam Ahkâmul Qurannya: “Sudah maklum dalam keyakinan kaum muslimin, bhwa jika penduduk suatu daerah yang berbatasan dengan musuh merasa terancam lalu dari mereka tidak cukup untuk melakukan perlawanan terhadap musuh, sehingga mereka mengkhawatirkan negeri mereka, nyawa mereka dan anak-anak mereka, bahwa menjadi kewajiban seluruh umat Islam untuk berangkat berperang bersama mereka hingga jumlah yang cukup untuk menghentikan serangan musuh kepada kaum muslimin. Masalah ini tidak diperselisihkan oleh satu orang pun dari umat ini. Sebab tidak ada seorang pun dari kaum muslimin yang berpendapat bolehnya berpangku tangan dari menolong mereka, karena akibatnya darah kaum muslimin akan tertumpah dan anak-anak mereka akan tertawan.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Jika musuh memasuki negeri-negeri Islam, maka tidak diragukan bahwa menolaknya adalah wajib bagi mereka yang posisinya terdekat, kemudian yang terdekat berikutnya. Sebab semua negeri Islam itu kedudukannya adalah satu negeri. Dan bahwasanya wajib berangkat berperang mengusir musuh tersebut tanpa izin orang tua dan orang yang dihutangi. Nash-nash Imam Ahmad sangat tegas menyatakan hal ini.”
Di bagian lain beliau berkata: “Musuh yang menyerang, yang merusak agama dan dunia, maka tidak ada yang lebih wajib setelah iman selain melawannya.”
Jadi kita diperintah untuk mengusir musuh yang menyerang ini. Bahkan, berdasarkan perkataan para imam kita tadi, kami berkeyakinan bahwa seluruh umat Islam –baik dari ulamanya, para dainya hingga orang awamnya— berdosa ketika mereka tidak ikut dan berpangku tangan dari menolong mujahidin.
Jika semua orang Islam mengikuti isi dari syubhat seperti ini (yakni menghentikan jihad di Irak, penerj.), tentu Islam tidak tegak, tidak ada panji yang terangkat bagi kaum muslimin. Apa tujuan dari menggunakan perkataan tadi kalau bukan menghalangi dan menghentikan perang dan jihad di jalan Alloh, menyerahkan negeri-negeri Islam dan rakyatnya ke tangan kaum salibis dan kaum murtaddin yang membantunya, sehingga mereka bisa berbuat kepada kaum muslimin semau mereka?
Bukankah perkataan bahwa yang akan memetik buah jihad adalah selain mujahidin itu tak lain adalah mengira-ngira sesuatu yang masih ghoib dan sekedar praduga? Dan sejak kapankah memetik buah itu menjadi bukti benar tidaknya suatu perbuatan?
Di dalam Shohih Bukhôrî-Muslim diriwayatkan dari Khobbâb bin Al-Art a ia berkata: “Kami berhijrah bersama Rosululloh n dalam rangka mengharap wajah Alloh, maka pahala kami akan tertulis di sisi Alloh k. Di antara kami ada yang telah meninggal dunia dan belum sempat menikmati hasilnya sama sekali (belum sempat mengalami kemenangan, penerj.), seperti Mush‘ab bin ‘Umair, ia terbunuh dalam perang Uhud, kami tidak menemukan sesuatu untuk sekedar mengkafaninya selain namiroh yang jika kami tutup kepalanya maka kedua kakinya terbuka, jika kami tutup kedua kakinya maka kepalanya terbuka. Akhrinya Rosululloh n memerintahkan kami agar menutup kepalanya dengan namiroh itu dan menutup kakinya dengan daun idzkhir. Di antara kami ada sempat mengalami masa matang buahnya, lalu dia memetiknya.”
Yang kami ketahui dari agama Alloh adalah: bahwasanya kita diperintahkan untuk melaksanakan perintah-Nya dan berangkat berperang baik dalam keadaan ringan maupun berat, di jalan Alloh. Setelah itu mengenai hasil, dikembalikan kepada Alloh l, itu bukan urusan kita.
Tugasmu adalah menebar benih, bukan memetik hasil
Alloh adalah sebaik-baik penolong bagi orang-orang yang mau berusaha
Dulu kekuataan jahat dan kafir berkoalisi untuk menggempur Madinah, mereka ingin membabat habis kaum muslimin dalam perang Ahzab. Kaum muslimin mengalami ketakutan yang luar biasa, sampai-sampai Nabi n bersabda: “Siapa yang mau mencari berita tentang mereka, ia akan menjadi temanku di Surga?”, beliau terus mengulang-ulang sabdanya tapi tidak ada seorang pun yang sanggup memenuhinya. Dan ketika itu, di tengah suasana yang sedemikian, Nabi n memberi kabar gembira kepada para shahabatnya akan ditaklukkannya istana-istana hîroh dan Madain Kisra, maka orang-orang munafik berkata: “Tidakkah kalian heran?! Ia berkata kepada kalian, memberi janji kepada kalian dan memberi angan-angan kosong kepada kalian. Ia memberitahu bahwa ia bisa melihat istana-istana hairoh dan Madain Kisro dari Madinah lalu kota-kota itu akan kalian taklukkan, padahal kalian sedang menggali parit dan untuk menampakkan diri saja tidak bisa!”
Sungguh, siapa pun kita, tidak bisa terlepas dari kehidupan para pendahulunya. Sejarah kita yang cemerlang telah memuat untuk kita peristiwa-peristiwa gemilang dan lembaran-lembaran bercahaya, di mana sejarah itu turut membantu kita –setelah Alloh Ta‘ala—sehingga kita tetap teguh di atas jalan kita ini. Sebagaimana firman Alloh Ta‘ala:
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal…” (QS. Yûsuf: 111).
Berangkat dari sini, saya ingin mengingatkan umatku akan satu dari sekian kisah mengenai kemuliaan dan harga diri, satu dari sekian contoh membanggakan dan kebesaran. Siapa tahu, kisah itu bisa membantu menyingkirkan debu kehinaan yang kini menyelimuti kita, sekaligus menjadi jalan untuk menghilangkan kabut kehinaan yang mendera kita. Kisah itu akan sedikit kami kaitkan dengan peristiwa dan fakta, lalu bagaimana sikap para pelakunya ketika itu, dengan fakta yang dialami umat kita hari ini dan sikap mereka…
“Di tahun 463 H, raja Romawi bernama Armanius datang dengan bala tentara seperti gunung-gunung, terdiri dari bangsa Romawi, Karj dan Eropa. Datang dalam jumlah besar dan rombongan yang gegap gempita. Ia turut membawa serta tiga puluh ribu batriq. Setiap bathriq-nya terdiri dari lima ratus hingga dua ribu pasukan berkuda. Orang Eropa yang ikut berjumlah tiga puluh lima ribu personel. Kemudian dari bangsa Ghuzz, yakni etnis yang tinggal di belakang wilayah Kostantin, ada lima belas ribu personel. Ia juga membawa seribu baju besi dan alat penggali, seribu rouzjariy, empat buah kendaraan berroda yang mengangkut alas kaki dan pasak-pasak. Dua ribu kendaraan berroda pengangkut senjata, lampu penerangan, kendaraan angkut, dan meriam-meriam munjaniq, dari sekian munjaniq itu ada satu yang jangkauan tembakknya mencapai seribu dua ratus kaki. Ia sangat berambisi –semoga Alloh menghinakannya— memberangus Islam dan para pemeluknya. Batriq-batriqnya telah menyeberangi berbagai negara hingga akhirnya tiba di Baghdad.”
Saya katakan: Alangkah mirip antara malam dan petang, bukankah seperti ini kondisi tentara salib hari ini? Ketika mereka datang ke Irak dengan segenap senjata dan perlengkapan mereka, dengan kapal-kapal perangnya, rudal-rudalnya, pesawat-pesawat tempurnya dan tank-tanknya. Jumlah pasukannya lebih dari 150.000 tentara, dibantu oleh lebih dari 30 negara-negara kafir dan sesat, datang dalam batalyon salib terbesar yang pernah dilihat seluruh negara di dunia, mereka ingin menghabisi Islam dan para pengikutnya di bawah jargon “pemberantasan terorisme dan Al-Qaeda”, “memerangi radikalisme dan ekstrimisme”, dan jargon-jargon lain yang tak tersamar lagi kecuali pada orang-orang yang Alloh butakan mata dan hatinya.
“Armaniyus berkata kepada wakilnya agar memperlakukan khalifah dengan baik, ia berkata: “Perlakukan orang tua itu dengan baik, dia adalah teman kita. Kemudian jika kamu nanti telah berhasil meminta perjanjian dari raja-raja Irak dan Khurosan, seranglah Syam dan penduduknya dengan sekali serang, rebutl dan selamatkanlah negeri itu dari tangan orang-orang Islam –begitu keyakinan mereka—. Namun takdir mengatakan: “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan).” (QS. Al-Hijr: 72).
Saya katakan: bukankah rencana mereka juga seperti ini, setelah mereka menginvasi tanah Dua Sungai? Bukankah mereka akan menyerang Syam dan penduduknya dengan dalih mereka melindungi para pengikut setia partai Ba’ath dan tidak mencegah menyusupnya gerilyawan, sekiranya Alloh tidak menolak tipu daya dan makar mereka melalui serangan-serangan mujahidin yang tulus? Dan mereka masih berambisi menyelesaikan rencana mereka dan terus bergerak untuk mewujudkannya, yaitu untuk mengukuhkan Negara Israel Raya yang terbentang dari Sungai Eufrat hingga sungai Nil. Dan siapakah yang tahu? Sebab hari-hari itu ibarat wanita hamil tua, dan sungguh hari esok itu dekat bagi orang yang menunggu.
“Maka Sultan Alib Arsalan menghadang mereka bersama pasukannya yang berjumlah sekitar 20.000 pada hari Rabu, lima hari sebelum bulan Dzulhijjah habis. Sultan khawatir dengan banyaknya tentara raja Romawi itu. Sultan Alib Arsalan –yang merupakan orang Turki—adalah penguasa Irak dan negara-negara non-Arab ketika itu. Beliau mengumpulkan para pemuka wilayah-wilayah yang dikuasainya, ia berkata:
“Kalian tahu sendiri apa yang tengah dihadapi kaum Muslimin, lalu apa pendapat kalian?”
Mereka berkata: “Pendapat kami mengikuti pendapatmu. Tentara yang datang ini tidak akan sanggup dihadapi siapapun.”
Ia berkata: “Mau lari ke mana? Tidak ada pilihan selain mati. Maka marilah kita mati dalam keadaan mulia dan baik.”
“Adapun jika engkau menyumbangkan nyawamu, maka nyawa kami menjadi penebusmu.” Kata mereka.
Akhirnya mereka bertekad untuk menghadapinya. Alib Arsalan berkata: “Kita cegat mereka di depan negeri-negeriku.”
Maka Alib berangkat bersama 20.000 tentara dari orang-orang besar, pemberani dan pilihan. Ketika mereka menempuh satu jarak perjalanan, Alib memeriksa pasukannya, ternyata ia hanya melihat jumlah mereka 15.000 orang saja, 5.000 orang pulang. Ketika berjalan pada tahapan perjalanan berikutnya, ia kembali memeriksa pasukannya, ternyata mereka tinggal 12.000 orang. Ketika Sultan Alib bertemu musuh di pagi harinya, ia melihat pemandangan yang membuat fikiran linglung dan bingung, kaum muslimin seperti sehelai bulu putih di tubuh sapi hitam. Ketika dua pasukan bertemu, kekafiran dan iman saling berhadapan, dan dua gunung saling berbenturan, Sultan Alib meminta dilakukan gencatan senjata. Armanus berkata: “Tidak ada gencatan senjata kecuali dengan syarat menyerahkan negeri.”
Saya katakan: Bukankah seperti ini pula kelakuan “Armaniyus” mereka, yaitu Bush, ketika pertama kali dia invasi Afghanistan dan Irak? Ketika itu dia tidak peduli dengan siapapun, tidak mau menerima gencatan senjata, tidak sudi berdamai. Hingga ketika Alloh dan tentara-tentara-Nya menimpakan kepadanya pahitnya kehinaan dan kekalahan, yaitu melalui tangan-tangan hamba-hamba-Nya yang berjihad (mujahidin) dan wali-wali-Nya yang jujur, barulah ia berteriak-teriak mengenai pentingnya membuka pintu dialog dan mencari solusi masalah melalui perundingan.
“Maka Sultan Alib emosi dan menggelegak kemarahannya, lalu berkatalah imamnya yang bernama Abu Nashr Muhammad bin Abdul Malik Al-Bukhôrî: “Sesungguhnya engkau berperang membela agama yang Alloh berjanji akan memenangkannya, barangkali kemenangan ini kelak akan atas nama dirimu, maka perangilah mereka di waktu Dzuhur.” Ketika hari Jumat. Ia melanjutkan: “Sesungguhnya itu adalah waktu ketika para khotib berada di atas mimbar, dan mereka akan mendoakan kemenangan bagi mujahidin.”
Saya katakan: di sinilah peran para imam dan ulama dalam meneguhkan para komandan dan pemimpin, dan memotivasi mereka untuk terus memerangi musuh, mengingatkan mereka akan pertolongan Alloh terhadap pasukan-Nya, wali-wali-Nya dan tentara-Nya. Sebagaimana dikatakan: “Tegaknya Din ini adalah dengan kitab yang memberi petunjuk dan pedang yang membela. Dan cukuplah Alloh sebagai pemberi petunjuk dan pemberi kemenangan.”
Renungkanlah perkataan imam tadi: “Sesungguhnya itu adalah waktu ketika para khotib berada di atas mimbar, dan mereka akan mendoakan kemenangan bagi mujahidin.” Setelah itu berilah kesempatan kedua matamu untuk mempersembahkan air matanya dalam rangka ikut bersedih dan pilu terhadap kondisi umat hari ini. Duhai, kalau lah para imam dan khotib kita itu tidak mau berangkat sendiri untuk membela kaum tertindas, dan tidak mau berjihad dengan lisan mereka terhadap musuh-musuh Islam, dan tidak mau menolong para pengikut tauhid walau dengan doa, mengapakah mereka tidak mau menahan lisannya dari menjelekkan mujahidin dan tidak menjadi pembantu bagi kaum salib dan murtaddin?
Demi Alloh, umat yang berdoa dan memanjatkan qunut untuk keburukan bagi putera-puteranya yang berjihad, sungguh itu adalah umat yang buruk. Sesungguhnya umat yang berdoa dan memanjatkan qunut untuk keburukan bagi orang seperti Yusuf Al-‘Uyairi, Abdul Aziz Al-Muqrin, Turki Ad-Dandani, Hamd Al-Humaidi, Isa Al-‘Ausyan, ‘Abdullôh Ar-Rusyûd, Sholih Al-‘Aufi dan mujahid-mujahid lainnya, benar-benar umat yang buruk.
“Maka mereka pun sholat sementara Sultan menangis, ia berdoa dan mereka mengamini. Ia bersujud dan melumuri wajahnya dengan tanah sambil berkata: “Wahai para gubernur, siapa yang mau pulang silahkan pulang, di sini tidak ada lagi Sultan.” Lalu ia ikat ekor kuda dengan tangannya sendiri, ia mengenakan baju putih dan menggunakan hanûth (wewangian untuk mayit), lalu berkata: “Hendaknya masing-masing dari kalian mengucapkan perpisahan kepada sahabatnya, dan memberi wasiat.” Mereka pun melakukannya. Sultan Alib berkata: “Aku bertekad untuk maju, maka majulah bersamaku.” Lalu dua pasukan pun saling berhadapan, Sultan turun dari kudanya dan bersujud kepada Alloh k, ia lumurkan mukanya ke dalam tanah sambil berdoa dan memohon kemenangan kepada Alloh.”
Saya katakan: Seperti inilah sunnatulloh l. Harus ada kronfrontasi langsung dengan kekuatan jahat, harus ada benturan dengan koalisi kafir. Karena tidak mungkin kehinaan yang menyelubungi umat ini dapat dilenyapkan selain dengan mengangkat panji jihad dan memohon kemenangan dari Alloh, Robb semua hamba. Din ini tidak mungkin akan menumbuhkan batang pohonnya di atas tanah kita sebelum umat menyiramnya dengan darah putera-puteranya sebagaimana orang-orang terdahulu menyiramnya. Tidak mungkin tegak pada kita apa yang tegak pada generasi pendahulu kita sebelum kita berkorban sebagaimana mereka berkorban.
“Maka Alloh menurunkan pertolongan-Nya kepada kaum Muslimin, Alloh mengkaruniai mereka pundak orang-orang kafir itu, kaum muslimin berhasil membunuh pasukan mereka dalam jumlah yang banyak, dan akhirnya raja mereka, Armanus, tertangkap. Alib Arsalan kemudian duduk di atas singgasana raja Armanus pada tenda yang dipasang di atas kudanya. Ia memakan makanannya dan memakai pakaiannya. Raja Armanus dibawa ke hadapannya sementara di lehernya terjuntai tali belenggu. Sultan Alib berkata: “Apa yang akan kau lakukan jika kamu yang menangkapku?”
“Apakah kamu masih ragu, bahwa aku pasti membunuhmu ketika itu?” jawab Armanus.
Alib Arsalan berkata: “Dalam pandanganku kamu terlalu kecil untuk dibunuh. Bawa dia pergi dan jual dia.”
Maka mereka membawanya berkeliling ke seluruh pasukan sementara tali belenggu masih terjuntai pada lehernya, ditawarkan seharga beberapa dirham namun tidak ada seorang pun yang mau membelinya. Hingga ketika mereka telah sampai ke akhir pasukan, ada seorang lelaki berkata: “Jika kalian mau menjualnya kepadanya dengan anjing ini, aku mau membelinya.” Akhirnya mereka mengikat Armanus dan mengambil anjing tersebut, lalu mereka membawa keduanya kepada Alib Arsalan dan mereka memberitahukan kepadanya tentang apa yang telah mereka lakukan dan harga yang dibayar untuk Armanus. Alib berkata: “Anjing ini lebih baik dari dia, sebab anjing ini berguna sedang dia tidak berguna. Ambillah anjing itu dan berikan anjing ini kepadanya.” Setelah itu Alib Arsalan memerintahkan agar membebaskan Armanus dengan menjadikan anjing itu sebagai temannya dan mengikatkannya pada lehernya, kemudian ia menyuruh seseorang untuk mengantarkannya ke negerinya. Sesampai di sana, para penduduknya mencopot Armanus dari status raja dan memberinya celak mata. Segala puji dan karunia hanya milik Alloh.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Apapun tanggapan anda, silahkan tulis...