Minggu, 21 Juni 2009

TAKKAN KUBIARKAN ISLAM DIGEROGOTI, SELAGI AKU MASIH HIDUP! (hal 19-24)

Dan berikut ini surat buat musuh Alloh, Bush!…
Sungguh kamu telah terbuai oleh pasukanmu, dadamu dipenuhi oleh kebatilan, sehingga kamu nekat terjun dalam perang Afghanistan. Engkau mengklaim telah menjalankan perang suci, dan bahwa tuhanmu lah yang menyuruhmu melancarkan perang ini. Dirimu semakin terbuai sehingga kamu melakukan perang berikutnya di Irak dengan tujuan mengukuhkan kedaulatan Israel. Kamu mengira semua akan berjalan sesuai rencanamu dan keinginan nafsumu, tak pernah terlintas dalam pikiranmu bahwa Alloh telah menyiapkan sesuatu yang akan membuatmu celaka melalui tangan-tangan sekelompok kecil para pengikut dan tentara akidah tauhid, dari kalangan muhajirin dan anshor, yang menenggelamkan hidung tentaramu di tanah dengan disaksikan dan didengarkan oleh seluruh masyarakat dunia.
Mana tuhan yang kau yakini itu? Suruh dia menyelamatkanmu dan tentaramu dari kubangan yang kalian tengah tenggelam di dalamnya, jika kamu memang orang yang benar.
Dulu kamu mengatakan: “Tuhan yang disembah kaum jihadis adalah tuhan patung yang rusak.” Beginilah klaim kamu. Kamu tidak mengetahui bahwa ilâh yang kami ibadahi, yang kami berlindung dan bertawakkal kepada-Nya adalah Yang melemparkan rasa takut ke dalam hati tentara-tentaramu dan menyatukan hati orang-orang yang tergabung dalam kelompok kecil yang sabar ini.
Jika tidak demikian, coba jawablah pertanyaanku: Siapa yang memunculkan orang-orang yang berambut kusut dan berdebu itu, yang jumlahnya sedikit, yang lemah persenjataannya, melawan tentaramu yang banyak jumlahnya dan besar persenjataanya?
Sesungguhnya, Dia lah Allohlyang telah membinasakan tentara gajah di hari ketika mereka datang dengan balatentaranya untuk menghancurkan Ka‘bah, kemudian Dia mengirim kawanan burung yang melempari mereka dan batu sijjil.
Sekarang, biarkan aku bisikkan ke telingamu yang tuli itu, hai “pemilik pasukan gajah” baru!
Tuhan yang kau sembah itu, hai dungu, juga disembah oleh antek-antekmu dari kalangan Rafidhah yang pendengki, sungguh adalah tuhan yang jelek. Sesungguhnya Al-Masih yang kamu tunggu dan Muhammad bin Hasan Al-Askari yang ditunggu Rafidhah pengikutmu adalah tuhan yang sama, yaitu Al-Masih Dajjal. Maka silahkan kalian mencarinya di Sirdab-sirdab Sammarro’ atau di lembah Maggedo, siapa tahu dia bisa menyelamatkan kalian.
Kita lihat nanti, hai si dungu yang dipatuhi banyak orang, siapa yang menang di akhir pertempuran; tuhan kami atau tuhan kalian…
أَمْ لَهُمْ آَلِهَةٌ تَمْنَعُهُمْ مِنْ دُونِنَا لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَ أَنْفُسِهِمْ وَلَا هُمْ مِنَّا يُصْحَبُونَ
“Atau adakah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) Kami. Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri dan tidak (pula) mereka dilindungi dari (azab) Kami itu?” (QS. Al-Anbiyâ’: 43).
Wahai umat Islam…
Sesungguhnya kami meyakini bahwa jihad di Irak adalah cobaan dan ujian sekaligus proses penyaringan (tamhish) dari Alloh untuk membedakan mana yang jujur imannya dan mana yang dusta, mana yang kotor dan mana yang baik. Mungkin kalian telah mendengar rencana makar yang disiapkan kaum salib Bani Ashfar setelah mereka ketakutan, tergoncangkan tempat tidurnya, risau di malam harinya, oleh serangan bertubi-tubi mujahidin. Yang membuat kaum salib itu kehilangan keseimbangan berfikirnya dan memaksa tokoh-tokoh gedung putih (gedung hitam?) sempoyongan oleh statemen-statemen mereka sendiri. Akhirnya terpaksa mereka menyatakan kesetujuannya melakukan perundingan dengan “kelompok perlawanan bersenjata” di Irak, dengan itu mereka bermaksud menghentikan tetesan darah yang terus menerus menimpa tentara salib dan antek-antek murtaddinnya, serta memecah belah barisan mujahidin dan mengacak-acak bendera jihad yang murni.
Kami memiliki sikap tersendiri terhadap rencana makar ini, maka kami katakan:
Siapapun hendaknya tahu, baik mereka yang jauh maupun yang dekat, bahwa ketika tentara Salib datang menduduki Irak dan menggulingkan partai Baath yang kafir lalu tokoh-tokoh dan para pengikutnya berguguran, kesatuan tentaranya bubar, maka para mujahidinlah yang bangkit membela agama ini untuk mengusir para agressor penjajah. “Pasar jihad” pun digelar. Para pahlawan berlomba menuju pertempuran. Batalyon isytisyhadiyyin bergerak, mereka rubah malamnya musuh menjadi membara. Batalyon-batalyon tempur merangsek maju, barisan perang beranjak ke depan. Barisan satu bergabung dengan barisan lain, mereka rasakan kepada musuh gelas-gelas kematian. Singa-singa tauhid meloncat bak burung elang menerkam burung-burung kecil, lalu mencabik-cabiknya hingga tercerai berai dan menjadikannya berteriak keras. Pasar Surga dibuka, para pemberani berlomba-lomba, semuanya mencari tempat di sisi Ar-Rohman.
Maka mulai kacaulah barisan musuh, ketakutan mulai menyeruak dalam hati mereka. Pangkalan-pangkalan militer mereka terguncang. Dengan karunia Alloh, panji-panji peperangan mulai nampak. Kerugian materi dan nyawa di fihak musuh semakin membengkak, dan seluruh wilayah Irak kini berubah menjadi neraka bagi para penyembah salib. Luka semakin menganga. Punggung musuh kini terbuka. Mereka tak mampu lagi menutupi fakta yang terjadi dalam pertempuran. Akhirnya, seperti kami singgung sebelumnya, mereka menggunakan cara mendatangi sebagian milisi dari masyarakat kami dan menganggap mereka telah mewakili kaum “perlawanan”, mereka ingin menjadi fihak yang memetik buah dari jihad ini dan menyelamatkan sang tuan, Amerika, dari kubangan lumpur yang ia terjerembab di dalamnya.
Di manakah “kaum perlawanan” itu? Ke mana para perwiranya? Kami tidak pernah mendengar dan melihat batang hidung mereka sejak perang sengit ini berlangsung lebih dari dua tahun. Ke mana mereka? Mana pengorbanan mereka? Mana serangan dan aksi-aksi mereka terhadap tentara salib di tanah Irak? Ke mana “rubah-rubah” itu pergi ketika pertempuran sedang berlangsung di Fallujah, Al-Qo’im, Moushil, Diyala, Samarro’ dan lain-lain?
Apakah di saat aman bak pasukan tempur, keras dan bengis?
Tapi ketika perang seperti perempuan-perempuan yang sedang haidh?
Adapun kami, berkat karunia Alloh, mengerti dan faham tentang konspirasi jahat yang diarahkan kepada kami, yang dirajut oleh kaum salib dan Rafidhah pendengki, bahkan –yang patut disayangkan— bersama dengan sebagian partai-partai Islam yang menyerah yang secara semberono disebut-sebut sebagai wakil Islam dan mujahidin, contohnya adalah Hizb Al-Islami beserta beberapa tokoh kabilah yang lebih senang menjadi alat bagi orang-orang kristen dalam melaksanakan program-programnya menghabisi jihad dan mujahidin.
Maka kami katakan kepada para konspirator tersebut:
Jihad kami ini adalah demi membela Islam dan menerapkan hukum Syariat Alloh, Robb semesta alam, dan untuk mengusir serangan pasukan salib. Dan sungguh kami sedang berperang membela sebuah agama yang agung, yaitu agama Robb semesta alam. Maka, Dzat Yang telah Melindungi dari makar-makar salibis di masa lampau, juga Maha Kuasa untuk melindungi kami dari makar kalian, menguak kedok kalian dan membongkar kebusukan kalian.
Celakalah kalian, wahai para penjahat; sungguh jika kalian berjumpa Alloh dengan dosa sebesar gunung Tihamah itu lebih baik bagi kalian daripada kalian berjumpa dengan-Nya dengan membawa dosa yang teramat sangat besar, yaitu dosa berkonspirasi untuk menghabisi jihad dan mujahidin.
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آَمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat…” (An-Nûr: 19). Adakah perbuatan keji yang lebih besar daripada menghentikan jihad? Di mana jika jihad berhenti, kehormatan diperkosa dan negeri dijajah?
Lihatlah, kalian dengan senang hati ikut serta dalam penulisan undang-undang negara, ikut serta dalam menyeret manusia untuk menghamba kepada selain Robb manusia, bersama orang-orang yahudi, kristen, dan Rafidah yang pendengki itu. Sungguh, itu adalah dosa yang membuat bulu kuduk ini berdiri dan membuat hati ini jijik.
أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ
“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Alloh, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Alloh lah mereka dikembalikan.” (Âli ‘Imrôn [3]: 83).
Hendaknya semua yang jauh dan dekat mendengar: kami menyatakan dengan sangat jelas dan gamblang, bahwa kami tidak akan menyerahkan panji jihad dan negeri kepada orang-orang yang tidak bisa dipercaya dalam urusan duniawi, apalagi dalam urusan Din. Bahkan, mereka tidak lah mampu mencapai puncak kekuasaan dan tidaklah musuh terpaksa duduk bersanding bersama mereka, melainkan karena darah-darah mujahidin.
Demi Alloh! Kami tidak akan berhenti memerangi orang-orang salib dan pembantu-pembantunya yang murtad kecuali jika kami terkubung berkalang tanah, bukan ketika kami masih berdiri di atasnya.
Catatlah, wahai kalian yang mengaku bermanhaj “memegang tongkat di tengah-tengah”, telah habis zaman di mana darah mujahidin diperjual belikan dan tulang-tulang mereka dijadikan jembatan bagi kaum oportunis.
Adapun kalian, wahai para mujahid…wahai macan-macan perang dan singa-singa pertempuran…
Sesungguhnya musuh sedang mengalam hari-hari terburuknya di atas tanah Dua Sungai. Kerugian mereka membengkak, luka mereka semakin parah, moral tentaranya sedang jatuh pada titik nadir. Itu bisa terlihat jelas dari statemen-statemen dari komandan dan tokoh-tokoh mereka. Sampai-sampai sebagian anggota Konggres Amerika menyatakan bahwa Amerika menelan kerugian dalam perang Irak. Semua itu tak lain adalah berkat karunia Alloh l, kemudian berkat pukulan-pukulan telak dan menyakitkan yang kalian lancarkan, yang membuat mereka mencari bantuan ke timur dan barat, serta berusaha dengan segala cara dan tipu daya untuk menghabisi jihad dan mujahidin.
Maka, semoga Alloh merahmati kalian semua, selalulah kalian dalam keadaan waspada. Sabarlah menghadapi apa yang Alloh berlakukan pada kalian. Karena sesungguhnya hari-hari ini dan setelahnya akan terjadi titik-titik menentukan yang cemerlang dalam sejarah jihad kalian di atas tanah Dua Sungai tercinta. Ketahuilah, kemenangan itu bersama kesabaran. Jalan keluar itu bersama kegoncangan. Dan bersama kesulitan, pasti ada kemudahan.
Janganlah kalian gentar dengan jumlah personel dan senjata musuh kalian. Sungguh, demi Dzat Yang jiwaku ada di Tangan-Nya, kaum muslimin tidak pernah menang dalam pertempuran-pertempuran Islam karena jumlah pasukan yang banyak dan persenjataan yang kuat. Namun mereka menang karena tulusnya tawakkal mereka kepada Alloh, rasa butuh mereka kepada-Nya dan penghinaan diri mereka di hadapan-Nya.
Ath-Thobari menyebutkan, begitu juga ulama lainnya, bahwasanya Sa‘ad bin Abî Waqqosh a bergerak dari Qodisiyyah menuju Mada’in –ibukota Kisra, Persia—. Sesampai di sana ia melihat musuh telah membentengi diri dari kaum muslimin dengan sebuah sungai besar, sungai itu melemparkan buih-buihnya karena arusnya begitu deras. Maka pada keesokan harinya, Sa‘ad berkhutbah: “Sesungguhnya musuh kalian telah melindungi diri dengan “laut” ini sehingga kalian tidak bisa sampai kepada mereka sedangkan mereka bisa sampai kepada kalian jika mereka mau dengan menyerang kalian dari kapal-kapal mereka. Di belakang kalian tidak ada sesuatu yang kalian takutkan akan menyerang kalian. Aku melihat, kalian harus segera berjihad memerangi musuh kalian dengan niat-niat kalian sebelum kalian meninggal dunia. Ketahuilah, aku bertekad untuk menyeberangi sungai ini mengejar mereka.”
Maka kaum muslimin dengan serentak berkata: “Semoga Alloh menguatkan tekad kita dan tekadmu. Lakukanlah.”
Maka mereka semua menyeberangi sungai tersebut dan berenang bersama kuda-kuda mereka, sementara Sa‘ad terus mengucapkan: “Hasbunallôh wa ni‘ma `l-wakîl…hasbunallôh wa ni‘ma `l-wakîl. Demi Alloh, Alloh pasti menolong wali-Nya, Alloh pasti menangkan agama-Nya, Alloh pasti kalahkan musuh-Nya, selama di pasukan ini tidak ada kezaliman atau dosa-dosa yang mengalahkan perbuatan baik.”
Akhirnya mereka berhasil menyeberangi sungai dan tidak ada satu pun yang tenggelam, tentara Persia pun kalah. Kaum muslimin merampas ghohimah dalam jumlah tak terhitung, berupa permata-permata dan harta-harta simpanan dalam jumlah besar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Apapun tanggapan anda, silahkan tulis...