Minggu, 21 Juni 2009

TAKKAN KUBIARKAN ISLAM DIGEROGOTI, SELAGI AKU MASIH HIDUP! (Bagian 4, Hal 24-27)

Inilah sungai Dujlah, di dekat kalian. Tanyailah dia, benarkah Sa‘ad dan pasukannya pernah menyeberangimu dengan kuda-kuda mereka?
Kemudian tanya lagi dia, bagaimana mereka menyeberangimu? Apa yang mereka lakukan?
Tentu, ia akan menjawabmu, walau dengan lisan hâl, “Apa yang bisa kuperbuat terhadap para lelaki yang datang dari gurun pasir untuk menegakkan syariat Alloh dan membersihkan bumi dari najisnya orang-orang kafir. Aku hanyalah salah satu dari makhluk Alloh dan tentara-Nya. Jika kalian melakukan sebab-sebab yang mendorong mereka datang, tentu tentara-tentara bumi dan langit akan tunduk kepada kalian. “Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong Alloh, Alloh pun akan menolong kalian.” (QS. Muhammad: 7). Tidakkah kalian melihat raut kesedihan di mukaku? Bagaimana tidak, sedangkan para penyembah salib telah menajisi airku di saat kalian menyeleweng dari jalan yang pernah ditempuh Sa‘ad dan tentaranya. Sungguh aku masih ingat hari-hari yang indah itu lalu aku tak kuasa menahan tangis, karena rindu kepada orang-orang seperti mereka. Sungguh hari-hari terindahku adalah tatkala aku mengalir sementara mereka lewat di punggungku. Tidakkah kalian ulangi, wahai anak cucu Sa‘ad dan Mutsanna?”
Wahai mujahidin…
Janganlah kalian merasa kesepian dengan banyaknya jumlah musuh dan sedikitnya jumlah kalian. Betapa banyak kelompok yang sedikit mampu mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Alloh, dan Alloh beserta orang-orang yang sabar. Nabi kalian, n, dan para sahabatnya, dulu menang dalam perang Badar sementara jumlah mereka lebih sedikit dari jumlah kalian. Begitu juga dalam perang Mu’tah, Qodisiyah dan lain-lain.
Ketahuilah, kalian tidak akan dikalahkan karena jumlah yang sedikit, akan tetapi kalian dikalahkan oleh karena dosa dan maksiat. Maka, jaga diri kalian –semoga Alloh merahmati kalian semua— dari maksiat melebihi kalian menjaga diri dari musuh-musuh kalian. Kaum muslimin bisa menang tak lain karena maksiat musuh mereka, kalau bukan karena itu kita tidak kuat melawan dan mengalahkan mereka.
Bersemangatlah mencari mati, kalian akan mendapatkan kehidupan hakiki. Tingkatkan serangan kalian kepada mereka. Serang mereka berulang-ulang dan jangan melalaikan mereka sedikit pun. Perbanyaklah membaca Kalam Pencipta kalian, hidupkan malam-malam kalian dengan surat Al-Anfâl dan At-Taubah. Perbanyaklah dzikir kepada Alloh. Sebab demi Alloh, Alloh adalah sebaik-baik penolong terhadap keadaan yang sedang kalian alami. Hai orang-orang yang beriman, jika kalian bertemu pasukan (musuh) maka teguhkan pendirianmu dan ingatlah Alloh sebanyak-banyaknya agar kalian menang.” (Al-Anfâl [8]: 45).
Diriwayatkan dengan shohih dari Nabi kalian, n, bahwa beliau bersabda: “Maukah kuberitahu kalian tentang amalan kalian yang paling baik dan paling suci di sisi Raja kalian? Yang lebih bisa meninggikan derajat kalian, dan lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan uang, dan lebih baik bagi kalian daripada kalian bertemu musuh kalian lalu kalian memenggal leher mereka dan mereka memenggal leher kalian?” para sahabat berkata: “Apa itu wahai Rosululloh?” beliau bersabda: “Dzikir kepada Alloh k.”
Janganlah kalian terbawa dan tertipu oleh apa yang mereka gembar-gemborkan melalui media massa mengenai misi kemiliteran yang mereka namai dengan sandi-sandi menyilaukan, seperti “Operasi Halilintar”, “Operasi Tombak”, “Operasi Mata pisau”, “Operasi Pedang”. Sebab Majikan kalian telah berfirman: “Jangan kamu takut kepada mereka tapi takutlah kepada-Ku jika kamu beriman.” (Âli ‘Imrôn [3]: 175).
Apakah kalian akan takut kepada mereka yang menganggap Alloh adalah satu dari tuhan yang tiga?
Apakah kalian akan takut kepada para penyembah salib?
Apakah kalian takut kepada pasukan tentara bayaran?
Atau, apakah kalian akan takut dengan tentara Ibnu `l-Alqomi, para pengikut Gedung Putih? Demi Alloh, mereka adalah manusia paling penakut. Kakek-kakek mereka dulu juga menyandang sifat pengecut, mengingkari janji dan berkhianat. Semua itu, demi Alloh, adalah sifat yang tercela.
Lihatlah Amirul Mukminin, Ali bin Abi Tholib a, ketika beliau mengingatkan kita tentang sifat bapak-bapak mereka (para pencetus ajaran Syiah, penerj.): “Demi Alloh, aku bosan dan benci kepada mereka, mereka pun bosan dan benci kepadaku. Mereka sama sekali tidak punya sifat menepati janji. Orang yang mengalahkan mereka adalah orang yang tidak mendapat keuntungan apapun. Demi Alloh, mereka tak punya niat dan tekad dalam suatu urusan dan tidak sabar menahan tebasan pedang.”
Sungguh, betapa mirip antara petang dan malam.
Sesungguhnya, kami di Tandzim Al-Qaeda Wilayah Negeri Dua Sungai, menyatakan terbentuknya milisi yang kami namai dengan nama Milisi Umar, dalam rangka mengharap dapat kebaikan dari nama Al-Faruq ibnul Khothob, ayah dan ibuku jadi penebusnya. Milisi ini kami bentuk untuk menghabisi tokoh dan kader-kader milisi pengkhianat: Milisi Badr, supaya kami tidak direpotkan dengan menghadapi milisi ini dan bisa berkonsentrasi berduel dengan tentara salib dan kaum murtaddin yang menjadi pengikut mereka.
Sayyid Quthub v berkata tentang firman Alloh Ta‘ala: “Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukki jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabût: 69): “Orang-orang yang berjihad di jalan Allah dan yang selalu berinteraksi dengan-Nya, orang-orang yang memikul beban di atas jalan menuju-Nya yang begitu berat dan tidak pernah mundur atau putus asa, orang-orang yang sabar menghadapi ujian diri sendiri dan orang lain, orang-orang yang memikul beban mereka lalu berjalan di atas jalan yang begitu panjang, berat dan sepi, mereka itu tidak akan dibiarkan Alloh begitu saja. Alloh tidak akan mentelantarkan keimanan mereka dan tidak akan melupakan jihad mereka. Sesungguhnya Alloh akan melihat mereka dari tingkat tinggi lalu meridhoi mereka. Alloh akan melihat jihad yang mereka jalankan untuk sampai kepada-Nya lalu Dia beri mereka petunjuk. Alloh akan melihat usaha mereka untuk sampai lalu Dia raih tangan mereka. Dia akan melihat kesabaran dan ihsan mereka, lalu memberi mereka balasan yang terbaik.”
Wahai rakyat Irak tercinta…
Alloh Maha Tahu bahwa tidaklah kami datang ke tempat kalian selain untuk membantu kalian, membela kehormatan dan harga diri kalian, dan melawan serangan tentara salib terhadap kalian, agar kalian hidup mulia di negeri kalian sendiri. Jika kalian mengira jihad yang kami lancarkan sekedar mengusir penjajah setelah itu meletakkan senjata dan menyibukkan diri dengan dunia beserta kesenangannya, sungguh betapa ruginya kami, demi Alloh.
Demi Alloh, menguasai seluruh tanah Irak ini dalam diri kami sama sekali tidak sebanding nilainya dengan ribath satu malam di jalan Alloh dan tidak sebanding dengan tali sandal satu ikhwan mujahid di antara kami. Harapan kami semua adalah: Alloh menaklukkan Irak untuk kami setelah itu kami menuju ke Masjidil Aqsha; qiblat pertama umat Islam dan tempat Isro’ Nabi kita yang mulia n. Sungguh, itulah saat-saat yang sangat-sangat kami rindukan,
وَيَقُولُونَ مَتَى هُوَ قُلْ عَسَى أَنْ يَكُونَ قَرِيباً
“Mereka mengatakan: “Bilakah itu terjadi?” katakanlah, bisa jadi itu sudah dekat.” (Al-Isrô’: 51).
Rekan-rekanku dalam tauhid, rekan-rekanku yang sejalan…
Tetaplah di atas manhaj, sekali lagi tetaplah di atas manhaj. Lihatlah Sayyaf, Rabbânîy dan yang semisal, ketika di awal-awal mereka memerangi komunis. Secara dzohir mereka membela Islam, bahkan Alloh menampakkan banyak karomah melalui tangan mereka, mereka menegaskan bahwa jihad mereka bertujuan untuk memberlakukan syariat Alloh di bumi Afghonistan. Namun karena pada manhaj mereka ada ketimpangan besar dan dosa serta maksiat mulai mendominasi kalangan mereka, Alloh sesatkan mereka di atas ilmu (mereka sesat sementara mereka tahu mereka sesat, penerj.) lalu mereka mengulurkan tali kasih sayang kepada fihak yang kemarin menjadi musuh, mereka berlomba-lomba memetik hasil daripada jihad, mereka kemudian berhasil mendapatkan bagian kekuasaan dan setelah itu bertakwil dengan alasan-alasan mashlahat, mereka lipat nash-nash syar‘î semau mereka dan mereka menyimpang dari hukum-hukum Islam. Alhasil, yang kemarin menjadi musuh, sekarang menjadi teman dekat. Yang kemarin teman dalam jihad, sekarang menjadi musuh. Bahkan lebih parah lagi mereka turut membantu datangnya tank-tank Amerika untuk menyerang kaum Muslimin di Afghanistan. Maha Benar Alloh Ta‘ala ketika Dia berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar.” (QS. An-Nûr: 21).
Dan berfirman:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“…maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nûr: 63).
Imam Ahmad berkata: “Tahukah kalian, apa fitnah di sini? Fitnah itu adalah kesyirikan. Bisa jadi ketika seseorang menolak sebagian dari firman-Nya (atau sabda Rosul, penerj.) maka di hatinya terkena sedikit kesesatan kemudian akhirnya ia binasa.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Apapun tanggapan anda, silahkan tulis...