Kamis, 18 Juni 2009

TAKKAN KUBIARKAN ISLAM DIGEROGOTI, SELAGI AKU MASIH HIDUP! (2) hal 17-19

Dan berikut ini surat kepada wanita-wanita merdeka di negeri Dua Sungai secara khusus, dan wanita umat Islam secara umum:
Di mana peran kalian dari jihad yang penuh berkah ini?
Apa yang sudah kalian persembahkan untuk umat ini?
Tidakkah kalian takut kepada Alloh mengenai diri kalian?
Apakah kalian akan membesarkan anak-anak kalian untuk disembelih di meja-meja makan thoghut?
Apakah kalian lebih senang dengan kehinaan dan berpangku tangan dari jihad ini?
Tidakkah kalian lihat kaum lelaki telah mentelantarkan kuda dan meletakkan senjata, lalu berkata: “Tidak ada jihad lagi.”?
Mengapa kalian tidak mengirim anak-anak kalian ke tengah medan pertempuran supaya mereka merasakan kehangatan apinya dan memberikan pembelaannya terhadap Din ini?
Mengapa tidak kalian motivasi suami-suami dan anak-anak kalian untuk berjihad melawan kaum salibis dan berperang melawan kaum murtaddin, dan mengorbankan nyawa dan darah dengan murah demi agama ini?
Dalam perang Uhud, wanita-wanita musyrik –dan mereka ini berada dalam kebatilan— membawa alat celak mata. Kemudian setiap kali ada seseorang yang mundur ke belakang, mereka memberikan kepadanya celak tersebut dan mengatakan kepadanya: “Kamu sebenarnya adalah perempuan.” Lantas bagaimana dengan kalian, padahal kalian berada di atas kebenaran?
Alloh…Alloh…takutlah kalian kepada Alloh mengenai diri kalian, bebaskan diri kalian dari api neraka sebagaimana pesan Nabi n kepada kalian:
(يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ، فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ)
“Wahai kaum wanita, bersedekahlah! Sungguh aku melihat kalian adalah penghuni neraka paling banyak.”
Takutlah kepada Alloh, wahai cucu-cucu Ummu ‘Umaroh?
Tahukah kalian, siapa Ummu ‘Umaroh itu? Nabi n bersabda tentangnya dalam perang Uhud: “Sungguh posisinya hari ini lebih baik daripada posisi Si fulan dan Si fulan.”
Ummu ‘Umaroh bercerita: “Aku melihat sendiri bagaimana ketika orang-orang menyingkir dari Rosululloh n sampai tidak ada yang tersisa selain beberapa orang, tidak sampai sepuluh orang. Aku, kedua anakku dan suamiku berada di depan Nabi n untuk melindungi beliau, sementara orang-orang berlalu mundur ke belakang Nabi n, dan aku tidak membawa perisai. Kemudian beliau melihat seseorang yang mundur membawa perisai, beliau berkata kepadanya: “Buang perisaimu kepada orang yang masih mau berperang.” Ia pun membuangnya, lalu aku segera mengambilnya dan kugunakan untuk melindungi Rosululloh n. Kami diserang sedemikian rupa oleh para penunggang kuda, seandainya saja mereka berjalan kaki tentu kami juga berhasil melukai mereka Insya Alloh. Tiba-tiba datang seorang lelaki di atas kudanya dan menebasku, namun aku melindungi diri dengan perisai darinya sehingga ia tak mampu berbuat apa-apa dan mundur, maka aku menebas tumit kudanya sehingga ia pun terpelanting dari punggungnya. Melihat itu Nabi n berteriak: “Wahai putera Ummu ‘Umaroh, ibumu…ibumu…!” lalu anakku membantuku hingga akhirnya aku berhasil membunuh orang itu.”
Tidaklah ada bahaya yang mendekati Rosululloh n melainkan Ummu ‘Umaroh menjadi pembendungnya dan mendekat ke tubuhnya, sampai-sampai Nabi n bersabda: “Tidaklah aku menoleh ke kanan dan ke kiri melainkan aku melihatnya berperang melindungiku.”
Ummu ‘Umaroh juga ikut dalam perang Yamamah, ia berperang hingga tangannya putus dan mendapatkan 12 luka.
Sesungguhnya, wanita mujahidah adalah yang mendidik anaknya bukan untuk hidup begitu saja, tapi untuk berperang sampai terbunuh, atau hidup sebagai orang yang merdeka. Sungguh betapa tinggi semangat seperti itu, betapa menjulang niat seperti itu.
Para ahli sejarah menyebutkan, bahwa Kholid bin Walid mendengar berita tibanya tentara Romawi dengan jumlah besar di selatan Palestina, dan orang-orang Kristen Arab, penduduk Syam juga telah berlomba bergabung bersama pasukan ini. Maka Kholid pun berangkat berperang dan mengatur barisan pasukannya, lalu ia mulai mengobarkan semangat mereka, ia perintahkan wanita-wanita muslimat berdiri di belakang barisan sambil berdoa dan memohon pertolongan kepada Alloh, dan setiap kali ada satu orang lelaki muslim melewati mereka, mereka menyerahkan anaknya dan mengatakan kepadanya: “Berperanglah membela anak-anak dan isteri-isteri kalian.” Kholid juga memerintahkan mereka agar melarang kaum lelaki melakukan sesuatu yang halal kepada mereka. Setelah itu Kholid maju bersama pasukannya menghadapi tentara Romawi, dan ternyata tentara Romawi tak tahan menghadapi mereka walau pun dalam waktu sebentar, mereka mengalami kekalahan besar, kaum muslimin membunuhi mereka sesuka hati dan merampas kamp tentara beserta isinya.
Alloh…Alloh…takutlah kalian kepada Alloh, wahai wanita-wanita cucu Asma’ dan Khonsa’.
Tidakkah kalian melihat umat ini disembelih urat nadinya satu demi satu, dijajah dari ujung utara hingga selatannya, dari timur hingga baratnya?
Belum sampaikah ke telinga kalian apa yang dialami saudari-saudari kalian di penjara kejam salibis?
Bagaimana perasaan kalian jika kalian menjadi salah satu dari mereka, yang mengangan-angankan adanya putera-putera umat ini yang bisa menyelamatkan dan membebaskannya?
Sungguh telah datang kepadaku akhwat-akhwat mujahidah di negeri Dua Sungai, mereka meminta dilaksanakannya operasi-operasi mati syahid, mereka memintanya berulang-ulang. Ada salah seorang dari mereka yang menulis surat kepadaku dengan tulisan teriring darah dan air mata, setelah beberapa ikhwan menemui syahid dalam operasi Abu Gharib, yang sedianya dengan operasi itu mereka bermaksud membebaskan muslimah-muslimah yang ditawan di penjara kejam salibis itu, ia menulis surat kepadaku meminta dirinya menjadi pelaku operasi mati syahid, “Sungguh tidak ada hidup tenang lagi setelah terbunuhnya mereka,” tulisnya. Bahkan dia bersumpah kepadaku dengan menyebut nama Alloh agar mengiyakan permintaannya itu. Dan sejak itu hingga hari ini –sudah sekitar delapan bulan yang lalu—ia terus berpuasa dan tidak pernah berhenti puasa di siang hari.
Alloh Maha Tahu betapa aku sangat trenyuh dengan kata-katanya, aku tak kuasa menahan diri sehingga aku pun menangis karena sedih menyaksikan kondisi umat ini. Separah inikah kehinaan yang menimpa umatku? Sudah habiskah kaum pria sehingga kita harus melatih kaum wanita sebagai tentara? Bukankah termasuk kehinaan bagi putera-putera umatku ketika ada akhwat kita yang suci dan terjaga kehormatannya meminta dilaksanakannya operasi istisyhadiyah, sementara lelaki-lelaki umatku tenggelam dalam tidurnya dan bermain-main dalam kesia-siaannya?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Apapun tanggapan anda, silahkan tulis...