Senin, 27 Juli 2009

KADO UNTUK MUJAHIDAH (BAG 2)

Ayah! kenapa engkau tidak pergi berjihad?
Oleh: Ummu Asy Syahid

Seorang anak perempuan yang masih kecil berumur sekitar tujuh tahun datang kepada bapaknya, dia menanyakan suatu pertanyaan: "Wahai ayah kenapa engkau tidak pergi berjihad?" Ayah anak perempuan kecil ini terheran dengan pertanyaan itu, dan ia ingin mengujinya, maka dia bertanya: "Nak! Jika aku pergi untuk berjihad, bisa jadi ayah nanti akan terbunuh, dan kamu nanti tidak punya bapak seperti anak-anak lainnya". Maka mujahidah kecil itu menjawab: "Jika engkau terbunuh maka itu yang lebih utama, karena engkau akan menjadi seorang syuhada' dan masuk jannah dan kita akan masuk jannah bersama-sama".
Inilah iman yang kuat dan fitroh yang bersih serta bentuk pelaksanaan perintah Alloh SWT yang telah tertanam di dalam diri dan sikap anak perempuan kecil itu, dia itulah yang kita butuhkan hari ini di dalam mendidik anak-anak laki-laki dan perempuan kita, kita ingin mendidik mereka dengan tarbiyah iman dan jihad. Maka kita mulai dengan menanamkan aqidah yang benar, yang tidak ada penyakit-penyakit dan tidak ada penyelewengan dari orang-orang yang bersikap toleran dan kaum munafik. Serta mengajari mereka agama yang benar sebagaimana yang telah dibawa oleh Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam dan salaf sholeh kita, kemudian kita menanamkan pada diri mereka bahwa mereka adalah bagian dari kesatuan umat Islam ini, dan bahwa mereka adalah harapan umat ini setelah Alloh di dalam menyelamatkan dan mengangkat umat dari cengkeraman cakar-cakar kehinaan dan kenistaan serta menyatakan permusuhan secara terang-terangan terhadap umat-umat kafir di muka bumi pada zaman ini. Dan diharapkan mereka dapat mengembalikan kemuliaan dan kekuatan serta puncak kejayaan umat Islam pada zaman ini. Penting juga kita mempersiapkan mereka baik fisik maupun mental, sehingga mereka harus dilatih tentang cara memanggul senjata, berani, dan bertempur mati-matian di medan perang serta mencari kesyahidan di jalan Alloh dan bahwa semua itu adalah sebagai bentuk mendekatkan diri dan ketaatan kepada Alloh yang paling utama, yang dia beribadah kepada Alloh dengannya.
Kita ingin menghantarkan mereka hingga sampai pada tahapan dimana dia menyerap seluruh makna-makna kemuliaan dan jihad sehingga hiduplah salah satu dari mereka menjadi seorang yang mulia, mujahid, bangga dengan agamanya, pembela umatnya, bahkan dia bangga bahwa dia adalah seorang mujahid yang dapat menjadi pengganjal di leher-leher orang-orang kafir dan munafik.
Kita memohon kepada Alloh untuk memberikan kebaikan kepada anak-anak kita, dan menjadikan kita dan mereka termasuk dari para mujahid di jalan Alloh dan memberikan rizki kepada kita dan mereka dengan kesyahidan serta mengumpulkan kita di Firdausil A'la.

Disadur dari:
Majalah Shouthul Jihad IV Romadhon 1424 H


Oase

Ibu Mu’adzah

Tsabit telah menghabarkan kepada kami bahwa Silah pernah mengikuti peperangan bersama anaknya, ia berkata : “ Wahai anakku ! Majulah dan berperanglah sehingga aku dapat pahala Allah dari kesabaranku atas kehilanganmu “. Maka sang anak pun maju dan berperang dan terbunuh. Kemudian silah sendiri juga maju berperang dan terbunuh, maka kaum wanita pun berkumpul disisi istrinya Silah yaitu Mu’adzah. Namun si istri justru berkata : “ Selamat datang ku ucapkan kepada kalian Bila kalian datang untuk memberikan ucapan selamat kepadaku. Tapi kalau kalian datang untuk tujuan lain – ta’ziyah/bela sungkawa -, maka pulanglah kalian semua “. (Lihat dalam kitab Siyar A’lam An Nubala’ : III/498).


Untaian Wasiyat :

Wasiyat Syekh Asy-yahid
DR. Abdulloh Azzam
Untuk Istrinya Dan Kaum Wanita

Wahai kaum wanita….

Jagalah diri kalian dari kemewahan, karena kemewahan adalah musuh jihad. Kemewahan mengkerdilkan jiwa manusia. Hati-hatilah terhadap keadaan yang berlebih-lebihan. Cukuplah dengan yang perlu-perlu saja.
Didiklah anak-anak kalian dengan kesederhanaan, dengan sifat kejantanan dan kepahlawanan serta kemauan untuk berjihad. Jadikanlah rumah kalain sebagai kandang singa, bukannya kandang ayam yang setelah gemuk dijadikan sembelihan penguasa durhaka. Tanamkanlah dalam jiwa putra-putri kalian kecintaan berjihad, mencintai lapangan pacuan kuda dan medan-medan pertempuran.
Hiduplah dengan selalu menyertai segala kesulitan kaum muslimin. Usahakan dalam satu minggu sekali – minimal – untuk hidup seperti hidupnya kaum muhajirin dan mujahidin, yaitu hanya dengan sepotong roti kering dengan lauk yang tidak berlebihan dan beberapa teguk air teh.

Wahai para remaja….

Tumbuhlah kalian dalam desingan peluru-peluru, dentuman meriam, raungan kapal terbang dan deru suara tank. Jauhilah kenikmatan hidup, dendangan musik dan kasur-kasur yang empuk.

Adapun engkau wahai istriku….

Sebenarnya banyak hal yang ingin aku sampaikan kepadamu wahai ummu Muhammad. Semoga Allah melimpahkan balasan pahala kepadamu karena pengorbananmu kepadaku dan kepada kaum muslimin, juga karena dukunganmu kepadaku. Eangkau telah lama bersabar bersamaku menempuh jalan ini, dan engkau telah merasakan pahit dan manisnya hidup bersamaku. Dan engkau adalah sebaik-baik penolong bagiku dalam menempuh perjalanan yang penuh berkah ini, dan untuk berjuang di medan jihad. Engkau telah kutinggalkan di rumah sejak tahun 1969 M., pada saat itu kita baru mempunyai dua anak kecil perempun dan seorang bayi laki-laki. Engkau hidup di sebuah kamar yang terbuat dari tanah liat yang tidak ada dapur dan perabotnya. Dan kutinggalkan engkau dirumah ketika hamil tua dan bertambah anggota keluarga, anak-anak sudah mulai besar, dan semakin banyak kenalan kita dan semakin bertambah pula tamu-tamu kita. Engkau terima semua itu hanya karena Alloh kemudian karena aku. Maka semoga Alloh membalas jasamu terhadap diriku dan terjadap kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan. Kalau bukan karena Allah, kemudian karena kesabaranmu atas kepergianku yang sekian lama dari rumah, tidaklah aku mampu memikul beban begitu berat sendirian.
Benar-banar aku telah mengerti bahwa engkau seorang wanita zahidah (ahli zuhud), bagimu materi dunia ini tidak ada nilainya dalam hidupmu. Engakaupun tidak pernah mengeluh pada hari-hari yang berat karena sedikitnya uluran tangan pertolongan. Dan engkau pun tidak pernah bermewah-mewah juga tidak membanggakan diri pada hari-hari Allah membukakan sedikit pintu kenikmatan dunia. Dinia ini tidak pernah tinggal dalam hatimu, padahal sebagian besar kesempatan ada di tanganmu.
Sesungguhnya kehidupan jihad adalah kehidupan yang paling lezat, serta menahan sabar atas kesempitan lebih indah daripada bergelimang diantara bermacam-macam kenikmatan dan tumpukan kemewahan.
Berpegang teguhlah pada sifat zuhud, niscaya Allah akan mencintaimu. janganlah mencintai apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia mencintaimu.
Al Qur’an adalah kenikmatan hiburan dalam kehidupan. Bangun sholat malam (tahajud), puasa sunnah, serta beristighfar pada waktu-waktu sahur (sepertiga malam terakhir) menjadikan hati lembut, beribadah menjadi manis. Bersahabat dengan orang-orang yang baik, tidak berlebih-lebihan di dunia, jauh dari glamour dan orang-orang yang sibuk dengan dunia semua itu akan menjadikan hati tenang..
Harapan kita hanya kepada Allah, mudah-mudahan kita dikumpulkan di Jannah Firdaus, sebagaimana Dia telah mengumpulkan kita di dunia.

Adapun kalian wahai anak-anakku….

Sungguh kalian hanya mendapatkann sedikit saja dari waktuku, juga hanya sedikit pendidikan dariku.
Ya ! aku sibuk dan tidak sempat mengurus kalian. Tapi apakah yang harus aku perbuat, sedangkan bencana yang menimpa kaum muslimin seakan membuat wanita yang menyusui tak ingat akan nasib susuannya. Dan malapetaka yang menyiksa umat Islam begitu dahsyat seolah-olah jambul anak-anak muda beruban karenanya.
Demi Allah, tak kuat aku hidup bersama kalian sebagaimana induk ayam dalam sangkarnya hidup bersama anak-anaknya. Tak sanggup aku hidup dengan hati dingin sedangkan api ujian membakar hati kaum muslimin tak rela aku tinggal besama kalian sepanjang waktu sedangkan derita dan kaum muslimin merobek-robek setiap orang yang memiliki hati nurani atau masih tersisa akalnya. Tidaklah kesatria hidup diantara kalian sambil bergelimang dengan kenikmatan yang sebagian dihamparkan untukkku dan sebagian lagi diangkat, diantara tumpukan daging dan beraneka ragam jajanan.
Demi Allah, dalam hidupku aku telah membenci kemewahan baik berupa pakaian, makanan, ataupun tempat tinggal. Aku telah berusaha semampuku untuk mengangkat kalian kepada tingkatan para zahidin (ahli zuhud) dan menjauhkan kalian dari gelimangan orang-orang yang hidup dalam kemewahan.
Aku wasiatkan kepada kalian berpeganglah pada aqidah kaum salaf, yaitu aqidah ahlus sunnah wal jama’ah, dan jauhilah sifat berlebih-lebihan. Aku wasiatkan kepada kalian, untuk membaca dan menghafalkan Al-Qur’an. Jagalah juga lidah kalian. Begitu juga sholat malam, berpuasa, bergaul dengan teman-teman yang baik, dan bergabunglah bersama gerakan Islam. Tapi hendaklah kalian ketahui bahwa pemimpin gerakan itu tidak berhak melarang kalian berjihad, atau mengasikkan kalian dalam bidang dakwah hingga melalaikan dari medan-medan kejantaan dan medan-medan perang. Kalian tidak perlu minta ijin kepada seorang pun untuk berjihad di jalan Allah.
Belajarlah bagaimana menghentakkan senjata dan mengendarai kendaraan perang. Tapi, menembak lebih aku sukai.
Aku wasiatkan kepada kalian, wahai anak-anakku agar kalian taat kepada ibumu, menghormati kakak-kakak perempuanmu (ummu Al Hasan dan ummu Yahya). Hendaklah kalian menekuni ilmu syari’ah yang bermanfaat. Hendaklah kalian taat kepada kakak laki-lakimu (Muhammad).
Saya nasehatkan kalian untuk saling mencintai dan berbakti kepada kakek dan nenek kalian, hormatilah keduanya. Dan berbaktilah kepada kedua bibimu (ummu faiz dan ummu Muhammad). Karena kedua beliau itu memiliki jasa dan keutamaan besar kepadaku sesudah Allah.
Sambunglah kekerabatan kita dan berbuat baklah kepada keluarga dan tunaikanlah hak persahabatan kita kepada orang yang bersahabat dengan kita



Diterjemahkan dari kitab :
Wasyiyyatu As Syekh As Syahid Abdullah Azzam
Renungan :

Seorang istri mujahid
yang menjadi buron.
Oleh :Ummu Da'da.

Dia beristirahat diatas ranjangnya setelah melewati hari yang begitu berat dan melelahkan, juga setelah melakukan perdebatan yang panas serta berdialog tanpa ada aturan bersama orang-orang yang tidak jelas. Mereka telah membeli sesuatu yang fana dengan sesuatu yang kekal, mereka ridho dengan kehidupan dunia daripada kehidupan akherat.
Dia bertanya-tanya: "Ya Robbi, disekitarku banyak orang-orang yang mencelaku. Suara mereka selalu terngiang-ngiang di telingku: "Bagaimana kamu bisa rela dengan suami seperti ini? Dia meninggalkanmu dan pergi begitu saja…
Sudahlah… berpisahlah dengannya, dia itu tidak mencintaimu, jika mencintaimu pasti dia tidak akan berbuat seperti itu. Bagaimana dia bisa meninggalkan anaknya dan pergi begitu saja?"
Sungguh… orang-orang itulah yang mesti dikasihani. Apakah mereka tidak pernah mendengar kata jannah? Apakah mereka tidak tahu pahala orang yang mati syahid? Apakah aku harus menjelaskan kepada mereka apa motivasi suamiku pergi untuk berperang? Apakah mereka tidak mengetahui kewajiban jihad? Atau apakah mereka terpengaruh dengan para ulama' bingung itu? Dan membenarkan bahwa jihad adalah sebuah kejahatan yang berhak mendapatkan hukuman had?
Saudarinya berkata: "Aku tinggal selama dua hari dan terus menangis disebabkan engkau telah menjanda wahai saudariku, dan juga karena anak-anakmu menjadi yatim!" "Padahal suamiku belum terbunuh sama sekali! Dan seakan-akan kematian tidak akan datang kecuali ketika perang saja".
Inilah Iblis berkata: "Lihatlah temanmu ini, dia merasa bahagia berada di rumah. Suaminya menghibur dia dan mendatanginya serta berpergian dengan istrinya ke mana yang dia suka dan menginap di vila yang megah. Kenapa kamu tidak seperti dia? Kamu hidup dalam keadaan terpisah, ketakutan dan kekhawatiran, sedangkan dia bersama suaminya penuh dengan kenikmatan dan kehidupan yang lapang dan bahagia".
Akan tetapi ketika dia mengingat akan dekatnya kematian, dan bahwa dunia itu seakan-akan manis dan hijau, namun cepat hilang dan sirna maka dia berkata: "Celakalah engkau hai dunia!"
Aku tidak akan hidup melainkan hanya sehari atau dua hari saja, kemudian aku akan bertemu dengan Robb ku, maka demi Alloh, aku merasa senang dengan ujian dan perpisahan yang menimpaku, maka ya Alloh! Alhamdulillah (Aku memuji Mu), Ya Alloh! Alhamdulillah (aku memuji Mu).
Seorang mujahid itu adalah orang asing di dunia ini, semua orang membencinya dan orang-orang melihat istrinya dengan ketakutan dan kekhawatiran. Seakan-akan dia adalah istri seorang penjahat.
Ya! Dia memang istri (seorang penjahat) akan tetapi itu menurut orang-orang Yahudi dan menurut pandangan media massa pendusta itu.
Sedangkan menurut Al Qur'an dan As Sunnah maka dia adalah istri seseorang yang pergi berperang di mana manusia duduk-duduk tidak mau melakukannya dan:
لاَّ يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُوْلِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ
"Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak terut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah" (QS. An Nisaa' : 95).
Dia adalah istri seseorang yang berhijroh, yang mendepak dunia setelah dunia itu datang kepadanya walaupun dia sebenarnya menginginkannya.
ومهاجر في الله ودع أهله لم يلتفت يوم الفراق وراءاً
"Dan orang yang berhijroh karena Alloh meninggalkan keluarganya….
Tidak menoleh kebelakang sedikitpun di hari perpisahan…."
Dia juga istri seseorang yang mati syahid, yang memakai tiara dari yaquth yang lebih baik dari dunia dan seisinya.
Ya Alloh! Segala puji bagimu atas kenikmatanMu, dan segala puji atas ketentuanMu, janganlah engkau halangi kami untuk mendapatkan kemurahanMu, dan sabarkanlah kami di atas cobaan dunia serta muliakanlah kami dengan kenikmatan akherat.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ.

" Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka" (QS. Ath Thur : 21)

Disadur dari Majalah Shouthul Jihad Syawal V 1424 H


Barometer :

Kenikmatan & Kemuliaan
yang paling besar
Oleh : Ummu Asy Syahid

Sesungguhnya termasuk kenikmatan Alloh yang paling besar dan agung yang diberikan kepada kita (para wanita mujahidin) yaitu Alloh memberikan kemuliaan kepada kita dengan menjadikan kita termasuk istri-istri sekelompok orang-orang yang berbarokah bi idznillah….
Maka kewajiban kita adalah memuji Alloh dan bersyukur kepada Nya dengan memilih kita untuk menjadikan kita mentaati Nya dan menolong agama Nya pada zaman ini, dimana kita sekarang hidup di dalam keadaan keterasingan Islam di negerinya dan ditengah-tengah generasinya.
Sesungguhnya…. merupakan kebahagiaan kita dan suatu kebahagiaan dengan izin Alloh, jika kita menjadi bagian dari orang-orang asing yang mereka – insyaAlloh – adalah Firqoh Najiyah dan Thoifah Manshuroh yang tidak merasa takut dengan orang-orang yang menyelisihi dan menghinanya hingga hari kiamat nanti.
Ya… Demi Alloh, sesungguhnya kebahagiaan hakiki bagi seorang perempuan adalah dia membeli surga yang luasnya seluas langit dan bumi dengan kehidupan dunia. Bukanlah kebahagiaan itu diukur dengan makanan dan minuman, tempat duduk dan tempat tinggal yang mewah, nafkah yang banyak dan kenikmatan dunia yang fana. Akan tetapi kebahagiaan itu diukur dengan mengikuti apa yang terdapat di dalam kitab Alloh SWT dan sunnah nabi Nya, juga mengikuti para wanita salafus sholeh, para ibu-ibu sahabat wanita nabi di dalam membela agama Alloh dan andil mereka di dalam menolong keutuhan agama dengan jiwa dan harta mereka yang berharga, harta benda, keluarga, suami dan anak.
Sejak terbitnya cahaya kenabian para wanita muslimah telah lama memiliki andil di dalam membela agama Alloh SWT. Inilah Ummul Mukminin Khodijah binti Khuwailid – rodhiyallohu 'anha – ketika petunjuk datang kepada Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam dalam keadaan takut dan tergoncang hatinya setelah datang wahyu pertama kalinya, ditemui oleh istrinya yang penyayang untuk menenangkan beliau, dan dia berkata: "Tidak demi Alloh, selamanya Alloh tidak akan menghinakanmu, karena sesungguhnya orang yang suka menyambung tali silaturrohim, menanggung beban tanggungan orang lain dan menolong orang yang meminta haknya".
Perkataan yang ringkas dari istrinya seorang pemimpin mujahidin di hadapan suaminya sebagai bentuk pertolongan baginya, yang dapat menguatkan tekadnya serta menenangkan hatinya. Setelah dia mengetahui kebenaran maka menjadi jelaslah jalannya. Bahkan istri yang berbarokah ini tidak hanya cukup disitu saja pertolongannya, bahkan sampai menolong perjuangannya dan memberikan pengorbanan hingga akhir hayatnya.
Dia adalah seorang perempuan yang pertama kali beriman kepada Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam dan membelanya baik dengan moril dan materiil, dia tidak kikir untuk berdakwah dengan segala fasilitas yang dia miliki. Dan itu menjadi contoh yang baik bagi kita.
Sebagai penutup sesungguhnya kemuliaan yang paling besar bagi seorang wanita mukminah adalah jika Alloh memilihnya sebagai seorang syahidah di jalanNya. Demi Alloh, ini adalah sesuatu yang diinginkan oleh para mujahidah fi sabilillah.
Di terjemahkan dari Majalah:
Shouthul Jihad VI Syawal 1424 H.


Pernyataan :

Biarkan kami menyembah Alloh di tepian jurang!!!
Oleh : Ummu Badr

Bapakku yang penyayang….
Saudaraku yang mulia….
Dan syaikhku yang terhormat….
Ini adalah ungkapan yang telah didahului pengungkapannya, dan satu berita yang bukan kabar baru lagi, akan tetapi ungkapan itu adalah bisikan-bisikan kepada orang-orang pilihan, yaitu orang-orang yang berjaga-jaga dan berjihad, orang-orang yang mencari kesyahidan fi sabilillah.
Ahlu tsughur (orang-orang yang berperang), orang-orang yang telah meninggalkan harta kekayaan mereka, dan juga meninggalkan keluarga serta rumah mereka, mereka tidak rela melainkan untuk mendapatkan pahala yang paling utama, maka mereka berjalan di atas jalan cahaya, dan mereka mempersembahkan mahar yang paling mahal, yaitu darah dan potongan anggota badan tanpa dapat dikubur lagi, yang tercium semerbak bau wewangian minyak kesturi dan dia mengadakan pesta perkawinan menuju mempelai bidadari, di surga yang kekal dan penuh dengan gemerlapan dan kemewahan.

Wahai orang-orang yang mulia…

berapa banyak keluarga orang yang mempunyai manhaj yang melaksanakan perintah karena Alloh dan dia jujur, juga tidak takut dengan orang fasik manapun, dia tidak menghiraukan setiap rintangan. Dia tidak mau menjadi orang yang mencari muka atau merendahkan dirinya atau menjadi munafiq, tidak mau keinginannya tunduk kepada selain pelindungnya, Alloh yang Maha Pencipta, sumbernya jernih seperti air murni. Sehingga dia bersinar kilaunya diantara kilatan, dan meninggikan derajatnya ditengah-tengah manusia. Baik seperti korma yang tidak didapatkan melainkan di kebun-kebun korma. Pemberani seperti singa yang tidak pernah meninggalkan parit-parit. Sungguh merupakan kebahagiaan bagi kami jika kalian kembali kepada kami, dan sungguh kebahagiaan bagi kami jika orang-orang seperti kalian hidup ditengah-tengah kami. Kalian telah memberikan contoh kepada kami di dalam bersikap teguh diatas prinsip kebenaran dan bersabar atas apa yang telah ditentukan oleh Robb kami jika dia mendapatkan kesulitan.

Wahai saudaraku yang mulia….

Hati-hatilah, jangan sampai kalian mengatakan jika kami tidak mengalami seperti ini pasti kami akan begini dan begini….
Janganlah kalian bersedih, kami telah gantikan kepenatan kalian. Ya… Kepenatan… Kami hidup menggantikan kalian dalam keadaan hina dan merasa aman, bahagia dan nista serta kesenangan hidup dan damai.
Kami tidak diburu kecuali oleh dosa-dosa kami, tidak dituntut melainkan oleh syahwat (hawa nafsu) kami, sedangkan kalian, jika bukan karena apa yang ada padamu selain menambah kemuliaan bagimu maka cukuplah kami hidup begini dan kalian hidup seperti itu. Sungguh sangat jauh berbeda:
Kami hidup dalam keadaan munafik dan riya', takut dan hina, dusta dan jauh dari Alloh.
Sedangkan kalian kami kira sangat dekat dengan Robb kalian, sangat dekat sekali. Maka balasan bagi kalian – dengan izin dari Alloh – itu lebih banyak. Karena kesulitan yang kalian hadapi lebih berat.
Kalian telah menolak lezatnya tidur diatas kasur empuk, dan ketika hari raya kalian tidak bisa bercanda dengan keluarga dan anak-anak, wajah kematian tidak membuat kalian menangis dan suaru tangisan anak yang baru lahir tidak membuat kalian senang.
Maka jawablah, dari apa kalian itu diciptakan? Apakah terbuat dari baja atau badan seperti kita ini?
Kesempitan semakin berat bagi kalian, lalu kalian menikmatinya dengan kelezatan munajat, dan kalian bersenang-senang dengan pemberian dari Robb kalian. Sedangkan kami menggunakan kenikmatan dengan syahwat dan sedikit, dan kami bersenang-senang dengan hilangnya kelezatan khusyu' di dalam sholat, dan kami juga lupa untuk menangis ketika berkholwat.

Wahai orang-orang yang mulia….

Kalian telah mengajari kami bahwa hidup itu adalah sebuah perjalanan, bisa jadi berjalan menuju jannah dan bisa jadi berjalan menuju neraka Saqor.
Kalian telah meneguhkan kami bahwa pada diri kami ada Mutsanna, Sa'ad dan Umar. Namun diantara kami juga ada Abu Jahal dan Ibnu Salul, dan bahwa dia hidup kembali kepada Hubbal. Kalian telah mengajari kami bahwa di dalam peperangan ada tempat untuk beristirahat dan bagi umat terdapat siahah (perjalanan) serta bahwa pada diri kami masih ada Ibnu Rowahah.

Wahai orang-orang yang mulia….

Tetap teguhlah berada diatas kebenaran, dan janganlah kalian rela dengan kehinaan dan kerendahan. Teguhkanlah kaki-kaki kalian diatas tanah, dan naiklah diatas manusia dengan tekad kalian, naiklah ke atas awan dengan ruh-ruh kalian dan ketuklah setiap pintu untuk kemuliaan. Hati-hatilah dengan kegelinciran dan jangan menyerah dengan kebosanan, janganlah merasa bersedih dengan hinaan, janganlah merasa aman pada diri anda dari fitnah. Demi Alloh, sungguh kami mengetahui suatu kaum yang jernih, dan bagi umat terdapat para pemberi pelajaran dan contoh, mereka disakiti di jalan Alloh, mereka dipenjara dan disiksa. Kemudian apa yang terjadi?
Ketika mereka mendapatkan jalan keluarnya, seakan terasa lama sekali, diantara mereka ada yang mengganti langkahnya, diantara mereka ada yang bertoleransi dan mundur dan diantara mereka ada yang berbalik sikap dan berubah. Maka hati-hatilah dan berhati-hatilah! Janganlah kalian lepas baju kemuliaan dan karomah yang Alloh telah berikan kepada kalian.


Wahai orang-orang yang mulia….

Sesungguhnya orang yang tidak digunakan pasti akan diganti, maka janganlah kalian tertipu dengan orang-orang yang mengganti langkahnya, dan sebutkanlah anaknya Nabi Nuh dan anaknya Hanbal. Jagalah hubungan baik kalian dengan Robb kalian, jika kalian baik hubungannya antara kalian dengan Robb kalian maka akan baik pula hubungan kalian dengan manusia. Dan katakan dengan lisan kalian. Ilahiy:
"Semoga engkau senang sementara kehidupan terus berlalu….
Dan semoga engkau ridho walaupun manusia marah….
Dan semoga antara diriku dan diri Mu berdiam bersama terpelihara….
Dan antara diriku dan seluruh manusia hancur….
Jika datang kemaafan dari Mu maka semuanya jadi hina….
Dan setiap apa yang di atas tanah adalah tanah….
Ingatlah akan ayat Alloh:

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ * إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنصُورُونَ * وَإِنَّ جُندَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ

"Sungguh telah kami tetapkan sebelumnya bagi hamba-hamba kami yang mendapatkan utusan, dan sungguh mereka akan mendapatkan pertolongan. Dan sungguh tentara kami pasti akan menang".
Maka kemenangan itu akan datang dan hal itu tidak mustahil, akan tetapi melalui tangan siapa?
Maka beruntunglah dengan kemuliaan ini, sungguh kalian telah berada di kamp-kamp latihan, dan sekarang inilah saatnya telah tiba untuk mempraktekkannya. Dan jika ketakutan kalian semakin bertambah di dunia ini, maka ingatlah bahwa Alloh tidak akan mengumpulkan hambanya dengan dua ketakutan. Dan jika kalian merasa sakit dengan hinaan dan beratnya hukuman maka ingatlah bahwa siapakah yang membuat makar bagi Yusuf dan suadara-saudaranya, siapakah menjadikan istri nabi Luth berkhianat kepada nabi Luth, siapakah yang menghinakan nabi Nuh dari kalangan keluarganya, serta siapakah yang pertama kali keluarga Rosululloh yang memeranginya?
Dan jika mereka mengatakan kepada kalian siapakah yang membuat kalian seperti itu?
Ingatlah, sesungguhnya para Ashabul Kahfi itu adalah para pemuda, dan sesungguhnya agama dan pemeluknya diakhir zaman ini adalah orang-orang asing. Cukuplah kalian hanya dikenal oleh Robb kalian, maka berbahagialah orang-orang yang ghuroba' (asing), yang mereka itu adalah manusia-manusia yang sholeh berada ditengah-tengah orang-orang yang jelek, orang yang bermaksiat lebih banyak daripada orang yang berbuat ketaatan.

Kalian wahai orang-orang yang asing!

"Kalian adalah gudang permata dan yaquth di tengah-tengah….
Hiruk pikuk dunia, dan jika mereka tidak mengenalmu…..
Tempat pesta kemuliaan dibutuhkan oleh….
Suaramu yang tinggi walaupun mereka tidak mendengarmu….
Ingatlah ujian Ya'kub, kesabaran Ayyub, dan Yunus ketika diseru oleh Robb nya di dalam perut ikan hiu: Laa ilaaha anta subhaanaka inni kuntu minadz dzolimiin. Walaupun itu menimpamu maka itu tidak akan sampai menyamai sakitnya tercebur ke dalam neraka jahannam, maka bersabarlah wahai orang-orang mulia, bersabarlah. Sesungguhnya selalunya setiap kesulitan itu ada kemudahan.

Wahai orang-orang yang mulia….
Tinggalkanlah kami dan pergilah serta tinggallah dipuncak-puncak bukit. Biarkan kami tinggal di tengah-tengah kemewahan. Janganlah kalian mengingatkan kami dengan ayat-ayat jihad, dan janganlah menuntut kami untuk melakukan i'dad, bunuhlah musuh-musuh kami dan kalian akan mendapatkan kemuliaan. Dan tinggalkanlah kami berada di dalam lingkaran ketakutan. Biarkanlah kami membangun bangunan-bangunan kami diatas mulut jurang, pergilah kalian beserta Robb kalian dan berperanglah bersama di dalam barisan. Biarkanlah kami beribadah berada di tepian jurang!
Disadur dari:
Majalah Shothul Jihad VIII Dzul Qo'dah 1424 H



Seruan :

Beginilah seharusnya wanita!
Oleh: Ummu Azzam

Dia meninggalkan dunia dan segala perhiasannya, meninggalkan kehidupan mewah dan memilih mengutamakan kehidupan zuhud. Dia meninggalkan kehidupan berleha-leha dan rasa damai menuju kehidupan yang susah dan jihad. Menjual kenikmatan dunia dan kelezatannya yang cepat hilang. Dan dia ridho kepada Alloh dan taat kepada perintah Alloh yang telah ditinggalkan oleh kebanyakan manusia, maka dia memilih kehidupan jihad sebagai istri disisi seorang mujahid, semua ini untuk mendapatkan pahala jihad fi sabilillah, yang selalu mengingat firman Alloh SWT:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا * وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا

"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu:"Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar" (QS. Al Ahzab : 28-29).
Sungguh… dia adalah isteri seorang mujahid, pahlawan yang membantu suaminya dan orang-orang yang semisal dengannya dari kaum mujahidin hingga detik terakhir dari kehidupannya, dan yang telah membuat adanya peristiwa karomah-karomah Alloh, yang Alloh tidak akan memberikannya kecuali kepada para walinya yang sholeh, ketika dia berkata: "Sesungguhnya aku melihat 'Illiyyin, sungguh aku melihat kedudukanku di Firdausil A'la".
Allohu Akbar! Alangkah agungnya perempuan itu!! Semoga Alloh memberikan rohmat kepadanya dengan rohmat yang luas dan mengumpulkannya bersama suaminya di Firdausil A'la.
Beginilah kami memandang para wanita, kami menginginkan mereka bersabar terhadap apa yang telah menimpanya fi sabilillah yang berupa musibah-musibah dan kesulitan-kesulitan, jarak yang jauh dan menemui perpisahan dengan keluarganya, meyakinkannya ketika takut dengan makar-makar musuh, meningkatkan semangatnya jika terkena penyakit bosan dan putus asa, menyertainya di dalam kesendirian dan keterasingannya, mengingatkannya bahwa surga itu harganya mahal dan berdiri di sisinya diwaktu lapang dan sulit. Demi Alloh, dia itu adalah wanita sholehah, inilah yang dikatakan oleh nabi kita Muhammad shollallohu 'alaihi wa sallam, sedangkan dia dalam keadaan takut sembari berkata: "Selimuti aku, selimuti aku!" di sisinya dia berkata: "Demi Alloh! Selamanya Alloh tidak akan menghinakan engkau, karena engkau selalu menyambung tali silaturrohim, menanggung beban orang lain, dan membantu orang yang semestinya mendapatkan haknya".
Maka bagi para wanita sholehah baik dia sebagai ibu, istri atau saudara… hendaknya dia membantu anaknya, suaminya dan saudara-saudaranya untuk berjihad, dan memberikan bantuan kepadanya setiap kebutuhan hidup yang diinginkannya. Menyingsingkan lengan bajunya di dalam membatunya dan membantu orang-orang yang semisalnya dari kaum mujahidin walaupun sampai menghabiskan seluruh waktu dan harinya untuk itu. Ketahuilah bahwa setiap waktu menuntutnya untuk melaksanakan hal ini fi sabilillah, dan merasakan di dalam beramal ini sebagaimana yang dilakukan oleh para shohabiyat rodhiyallohu 'anha ketika membantu para mujahidin di medan perang seperti mensuplai makanan, pengobatan dan amal-amal wanita lainnya.
Janganlah anda lupa dengan istri-istri para mujahidin bahwa dengan kemampuan mereka, dapat melakukan sesuatu yang dapat menggetarkan musuh-musuh Islam di belahan bumi dari timur hingga barat. Dapat menggoncangkan bumi dari bawah kursinya, dan juga dapat meninggikan bendera para pembela Islam yang bertauhid dari kaum mujahidin yang berkibar di setiap negeri yang telah injak-injak oleh kaki-kaki Yahudi dan Nashroni dari rumah-rumah kaum muslimin… Yaitu kemampuan "DOA", doa adalah senjata orang mukmin yang sangat luar biasa dan mengagumkan, yang dengan karunia Alloh dapat menurunkan karomah-karomah dan keajaiban-keajaiban Alloh bagi para mujahidin di medan perang. Maka berjanjilah kepada diri anda sendiri wahai saudari muslimahku, bahwa anda akan berdiri melaksanakan sholat di sepertiga terakhir di setiap malamnya dan berdoalah untuk saudaramu kaum mujahidin, karena mereka sangat membutuhkan sekali doa anda.
Ya Alloh… Berilah pertolongan kepada kaum mujahidin di Afghonistan, Irak, Palestina, dan Checnya. Ya Alloh… Berilah pertolongan kepada kaum mujahidin di Jazirah Arab. Ya Alloh… Berilah pertolongan kepada orang-orang yang menolong mereka, dan hinakanlah orang-orang yang menghinakan mereka. Ya Alloh… Tepatkanlah sasaran tembak mereka, sembuhkanlah rasa sakit mereka dan bebaskanlah tawanan diantara mereka. Ya Alloh… Jagalah mereka dari depan mereka, belakang mereka, dari kanan mereka, kiri mereka, dari atas mereka dan kami berlindung dengan keagunganmu dari ditelikung dari bawah mereka. Amiiin…

Disadur dari :
Majalah Shouthul Jihad VIII Dzul Qo'dah 1424 H.


Peringatan :

Wahai para wanita Islam….
Oleh: Ummu Azzam

Aku memasuki satu komunitas yang lapang, lalu aku berjalan di sisinya, dan berada di halamannya, aku ingin mengintip keadaannya dan ingin menyingkap rahasianya, maka aku simpulkan bahwa hal itu tidak perlu diintip dan disingkap, karena pintunya selalu terbuka, dan rahasianya juga selalu tersingkap. Lalu aku bertanya tentang para pemudi negeri ini?
Maka aku lihat mereka itu telah terperdaya dengan penampilan-penampilan yang menipu, terkena fitnah dengan pemandangan yang memikat, mengikut dibelakang kebid'ahan yang menarik dan menyihir mata, dan tunduk di belakang syiar-syiar palsu dan saling berlomba-lomba agar setiap orang diantara mereka mengatakan: "Aku lah yang paling baik".
Maka kita melihat mereka sedang shopping di swalayan-swalayan, berputar-putar di jalan-jalan tanpa tujuan, menghambur-hamburkan harta dan berpakaian namun telanjang serta mengumbar aurat di pesta-pesta pernikahan. Masing-masing membanggakan pakaian mereka yang mahal, sepatu mereka yang tinggi dan perhiasan-perhiasannya yang terbuat dari intan. Kamu melihat dia di setiap pestanya dengan satu pakaian khusus, dan setiap satu set pakaiannya untuk satu plesiran. Mereka di setiap plesiran itu selalu membanggakan diri, dengan berbagai warnanya yang cemerlang dan modelnya yang termasuk kwalitas papan atas.
Sehingga kita melihat yang ada hanyalah penghamburan dan pemborosan, kelalaian yang tidak membuat mereka sadar-sadar, mereka telah menutup pintu diri mereka sendiri, dan menutupinya dengan sebuah pembatas, supaya tidak keruh kejernihan kehidupan mereka oleh udara panas, debu yang membuat lusuh, rintihan kesakitan dan erangan penderitaan serta teriakan yang keras dan panas yang meluap-luap.
Seakan-akan mereka diciptakan sendirian saja, mereka telah tertipu dengan dunia dan perhiasannya yang berkilauan, serta pemandangannya yang palsu. Entah apakah mereka itu lupa atau berpura-pura lupa bahwa mereka memiliki keluarga selain keluarganya, dan mereka punya saudara selain saudaranya, yang mengikatnya dengan ikatan kemanusiaan yang paling utama. Dirumah-rumah mereka sendiri terusir, diri mereka ditekan, dan harta mereka dirampas. Sehingga kita melihat para lelaki telah dibunuh dan dipenjara oleh kedholiman orang-orang yang dholim, dengan perintah penghancuran. Kita juga melihat para wanita hidup di bawah bayang-bayang ketakutan dan kelaparan di rumah-rumah yang reot disebabkan ditinggal oleh orang-orang yang dicintainya, raibnya pemilik rumah, suasana kegelapan disebabkan putusnya lampu dan akibat penghancuran.
Dia takut dari tentara musuh jika mereka memecahkan pintu, dan merobek aib kemuliaan orang-orang yang dicintainya. Dia mengusap airmata anak kecil yang malang dan miskin, dia menahan perutnya yang sakit karena rasa lapar yang melilitnya, dia tidur di dalam ruang kosong dalam keadaan menderita, tidak dapat membela diri kecuali dengan mendekap ibunya yang mengasihinya, yang dia hampir-hampir tidak dapat tidur karena selalu dibuat kaget dengan kebisingan tank-tank dan suara ledakan.
Semua itu adalah dampak perlakuan musuh, mereka menginjak-injak tanah kita secara dholim dan paksa, dengan kekuatan dan tekanan, kebencian dan permusuhan, serta perampasan dan pengusiran.
Sehingga yang kita lihat adalah darah dan potongan-potongan tubuh, penawanan dan penindasan serta pembakaran dan penghancuran. Para wanita kita, mereka masih tertutup kemuliaannya, mengingkari dengan hati mereka, lalu sampai kapan perlawanan dan pengingkaran ini? dan sampai kapan kelalaian dan kealpaan ini?.


Wahai saudariku…

Bagaimana anda tidur dalam keadaan tenang dan senang padahal di sana dia tidak tidur di malam harinya karena ulah para musuh?.
Atau bagaimana kalian hidup dalam keadaan senang sedangkan saudara-saudaramu menjumpai pembantaian yang tragis dan berbagai macam ujian? Atau bagaimana kamu bisa hidup tenang sedangkan saudari-saudarimu menemui apa yang membuat ranjang hancur dan memekakkan pendengaran?

Wahai para cucu-cucu Khodijah, Asma' dan Aisyah…

Sekarang ini bagi anda adalah mengetahui bahwa di dunia ini ada kehidupan dan kematian, haq dan bathil, ujian dan kenikmatan, fitnah dan siksaan, dan juga di dalamnya ada Islam dan kafir.
Apakah anda melihat siapakah dari kalangan wanita hari ini yang memperjuangkan tekad umat? Siapakah wanita yang menangisi pembantaian yang terjadi di Jenin, Nablus dan Rofah?
Dan siapakah wanita yang menangisi jatuhnya Kabul? Bahkan siapakah wanita yang menangisi jatuhnya kota Baghdad?
Demi Alloh kamu tidak dapat melihat para wanita tersebut kecuali yang menangisi orang-orang yang dia cintai, namun dia tidak perhatian dengan apa yang menimpa agama dan keluarganya.

Wahai saudariku…

Wajib bagimu untuk membangunkan hati-hati para lelaki, dan kamu dongkrak tekad para pahlawan, katakan: kami tidak mau tunduk di bawah kehinaan dan kerendahan, kenistaan dan keterpaksaan, kami ingin membebaskan diri dari ruku' di depan para penyembah salib.
Hendaklah anda mempersembahkan orang-orang yang anda cintai untuk di kirim di medan-medan jihad, karena sesungguhnya Alloh yang paling berhak dengan pengorbanan kita di jalannya dengan sesuatu yang paling mulia dari apa yang kita miliki berupa jiwa dan harta.
Kukatakan padamu hai saudariku muslimah: "Sesungguhnya minimal yang dituntut darimu berkaitan dengan keluarnya para lelaki untuk berjihad adalah engkau diam tidak mengeluh dan ridho dengan perintah Alloh, hati-hatilah dari menghalang-halangi dari jalan Alloh dan menjadi perusak jalan mereka menuju jannah dan untuk mendapatkan ridho Ar Rohman.
Alloh SWT berfirman:

الَّذِينَ يَسْتَحِبُّونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجاً أُولَئِكَ فِي ضَلالٍ بَعِيدٍ

"Orang-orang yang mencintai kehidupan dunia daripada akherat dan menghalang-halangi dari jalan Alloh dan menginginkan supaya jalan itu bengkok mereka itu berada di dalam kesesatan yang sangat".
Maka jadilah seperti Khonsa', Nashibah binti Ka'ab dan Shofiyyah binti Abdul Muthollib yang pada sekarang ini tidak ada para wanita seperti mereka, dan yang menginginkan untuk mengangkat kehinaan dan kenistaan dari kepengecutan umat, hendaknya meninggikan bendera pertolongan untuk Islam dan kaum muslimin dengan darah anak-anak dan buah hati mereka, serta menghentikan gerakan orang-orang komunis kafir dari negeri-negeri Islam dan penduduknya".

Wahai saudariku….

Kenapa engkau tidak menjadi seperti Ummu Suroqoh? Apa yang terjadi dengan Ummu Suroqoh? Dia telah mempersembahkan anaknya untuk berjihad di Afghonistan, dan ketika anaknya terbunuh, mereka berkata: "bagaimana kita memberitahukan kepadanya akan kematian anaknya?".
Kemudian mereka berpendapat jika hal itu yang menyampaikan adalah Syaikh Abdulloh Azzam pasti dia akan menganggap ringan musibahnya, maka Syaikh rh menghubungi ibunya dan memberitahukan berita gembira akan kematian anaknya, serta menghiburnya dengan kata-kata kesabaran, namun dia tidak membutuhkan kata-kata itu, dan seakan-akan dia menunggu-nunggu berita akan kematian anaknya dengan penuh kerinduan, lalu dia menjawab perkataan Syaikh: "Alhamdulillah, segala puji milik Alloh akan kesyahidan Suroqoh dan aku akan mengirimkan saudaranya kepada kalian supaya menggantikan kedudukannya"

Disadur dari:
Majalah Shouthul Jihad X Dzul Hijjah 1424 H

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Apapun tanggapan anda, silahkan tulis...