Minggu, 16 Agustus 2009

MENANG KALAH DALAM PERJUANGAN (4)

Rambu ke empat:
Jihad tidak tergantung dengan hasil pertempuran

Di antara musibah yang merusak keyakinan banyak umat Islam adalah mengkaitkan jihad dengan pertem-puran, artinya jika kita menang dalam pertempuran tersebut berarti prinsip dan landasan jihad kita benar, tapi jika kita mengalami kekalahan berarti prinsip dan manhaj kita keliru.
Keyakinan seperti ini tentu saja batil, baik secara akal maupun syar‘i. Keyakinan ini lahir dari lemahnya kepercayaan diri, minimnya iman dan ketidak mampuan untuk bersabar dan mempertahankan kesabaran tersebut.
Mengapa secara akal batil? Karena tidak ada hubungan baik menurut pendapat orang dan akal antara prinsip dan hasil yang dicapai, sehingga kegagalan hasil sebuah perjuangan tidak bisa menunjukkan batil tidaknya suatu prinsip atau manhaj.
Adapun kebatilannya secara syar‘i, ditunjukan oleh sebuah hadits Nabi SAW di dalam Shohih Bukhori Muslim bahwa beliau bersabda:
(عُرِضَتْ عَلَيَّ اْلأُمَمُ فَجَعَلَ النَّبِيُّ وَالنَّبِيَّانِ يَمُرُّوْنَ مَعَهُمُ الرَّهْطُ وَالنَّبِيُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ)
“Ditampakkan kepadaku umat-umat manusia, ada nabi yang lewat hanya dengan beberapa kelompok orang, bahkan ada nabi yang tidak membawa pengikut sama sekali.”
Lihat, nabi yang tidak membawa pengikut sama sekali, ia datang tanpa membawa hasil sedikitpun dari dak-wahnya. Tidak adanya seorangpun yang masuk Islam bersamanya tentu tidak menunjukkan bahwa dakwah yang ia emban itu batil atau salah –Mahatinggi Alloh dari itu—ketika ia diutus pada waktu dan tempat yang sudah sesuai. Keyakinan kalau berarti dakwah Nabi ini batil tidaklah diyakini selain oleh orang zindiq.
Dalam pentas sejarah, kita banyak memiliki contoh kekalahan, sampai-sampai seorang muslim akan menganggap kekalahan itu menjadi-kan Islam tidak akan tegak kembali. Yang paling dahsyat adalah kekalahan kaum muslimin ketika melawan bangsa Tartar di awal tahun 656 H ketika mereka menyerang Irak dan Syam. Di Irak saja, mereka membu-nuh lebih dari satu juta orang dalam tempo 40 hari, berarti satu hari mereka rata-rata membunuh 25.000 orang. Kerusakan yang mereka timbulkan kian hari kian merajalela, mereka merangsek ke negeri-negeri Islam lainnya dan berhasil meme-nangkan setiap peperangan melawan kaum muslimin.
Ketika Alloh telah menyaring kaum muslimin dan kaum muslimin-pun mulai sadar untuk mematuhi Alloh, pasukan Tartar kembali bertem-pur melawan kaum muslimin di peperangan ‘Ain Jalut, akhirnya Tartar mengalami kekalahan terburuk walau-pun sebelumnya mereka selalu meme-nangkan setiap peperangan. Pada peperangan ‘Ain Jalut ini bisa dipastikan pasukan Tartar lebih kuat daripada ketika awal mula datang, sedangkan kaum muslimin jauh lebih lemah dibandingkan sebelum bangsa Tartar datang ke Baghdad.
Kondisi yang sama terjadi ketika orang-orang Qoromithoh menyerang Irak dan Hijaz di awal abad ketiga hijriyah.
Sebelum semua itu, di Uhud pun tidak jauh berbeda. Ketika perang Uhud terjadi, kaum muslimin kalah menghadapi orang kafir. Setelah itu pada perang Ahzab mereka lagi-lagi ditimpa kesusahan dan kesempitan serta ditimpa kegoncangan. Setelah lewat beberapa waktu, barulah mereka berhasil memenangkan pepe-rangan-peperangan setelahnya, pun-caknya adalah ketika Fathu Mekkah.
Dari penjelasan ini, berarti menggantungkan jihad dengan per-tempuran termasuk hal yang bisa melemahkan moral, dan merupakan penyebab terbesar lemahnya kaum muslimin hari ini. Sebab, baik dulu maupun sekarang, kita tidak pernah memerangi musuh atas dasar jumlah dan persenjataan yang banyak. Lagi pula, kita tidak mungkin akan mengukur peperangan yang kita lakukan atas ukuran-ukuran materi. Yang penting, kalau kita sudah memaksimalkan diri dalam melakukan I‘dad (persiapan, latihan) tanggungan kita sudah selesai walaupun ketika nanti kita berperang kita mengalami kekalahan.
Jadi, menggantungkan kemena-ngan Islam dengan peperangan saja akan mengakibatkan sikap apatis dan meninggalkan jihad hanya lantaran kekalahan tersebut. Kita benar-benar harus mengerti bahwa kita tidak pernah berperang atas dasar jumlah dan perlengkapan yang banyak.
Bisa saja suatu ketika nanti kita banyak dan lebih berposisi di atas angin daripada musuh kita, tetapi kita belum memenuhi syarat standar keimanan untuk meraih kemenangan, sehingga Alloh menimpakan kekalahan dalam rangka tamhish (penyaringan), supaya jiwa kaum muslimin menjadi lebih suci dan barisan mereka tersaring.
Nah, ketika sebuah peperangan kita ukur dengan ukuran materi dan kita menggantungkan harapan kita dengannya, maka ketika perang itu kalah jiwa kita akan menjadi lemah, tekad menjadi kendur dan akhirnya jihadpun ditinggalkan.
Yang benar adalah kita berjihad karena jihad itu ibadah yang wajib dilakukan, tidak peduli apakah kita akan kalah ataukah menang.
Terakhir sebelum mengakhiri pembahasan bagian ini, saya merasa perlu menyampaikan sebuah perkara yang penting, saya khawatir dari semua penjelasan saya tadi orang memahami diri saya meremehkan peperangan antara Islam versus kekuatan kufur internasional yang terjadi di Afghanistan. Tidak, sekali kali tidak. Kita lihat saja nanti apa yang terjadi pasca pertempuran. Kalau kita menang berarti kita berhasil membebaskan leher kaum muslimin dari belenggu perbudakan Amerika dan barat. Tapi jika Alloh takdirkan kita kalah, sesungguhnya seorang muslim yang tulus keislamannya di manapun ia berada di dunia ini cita-cita adalah lebih baik mati sebelum semua ini terjadi, lebih baik ia menjadi makhluk yang tak digubris dan dilupakan orang, hal ini mengingat bagaimana nanti kekejaman Amerika yang bakal dialami kaum muslimin di negerinya sendiri. Oleh karena itu, peperangan kita melawan Amerika di Afghanistan adalah peperangan sa-ngat-sangat menentukan. Kita harus mengkonsentrasikan semua peralatan dan kemampuan agar kita bisa meme-nangkannya dengan izin Alloh Ta‘ala.
Yang kami katakan ini tidak ada sangkut pautnya dengan masalah menggantungkan jihad atau arti sebuah kemenangan dengan pepera-ngan. Karena kalau dalam perang ini kita nanti kalah, orang yang ikut dalam pertempuran itu mundur karena pemahaman seperti ini, dan syiar jihadpun akan melemah, perasaan lemah itu bisa terungkap dari perkataan dan perbuatannya, atau ia sembunyikan dalam batinya sendiri. Sesungguhnya Alloh menintahkan kebenaran dan Dia-lah Dzat yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.


Rambu ke-Lima:
Kemenangan tidak selalunya berupa kemenangan di medan tempur

Banyak sekali kaum muslimin menyangka bahwa orang yang melakukan ibadah jihad ini pasti akan meraih kemenangan di medan pertempuran yang bisa dilihat mata, mereka menyangka bahwa Alloh mensyariatkan jihad dan pasti di belakangnya nanti Alloh akan memberi kemenangan yang nampak mata saja. Ini dikarenakan kebanyakan orang memahami makna kemenangan terbatas dengan kemenangan militer dan kemenangan di medan tempur saja.
Padahal Alloh Ta‘ala mensyariat-kan jihad ini kepada kita dan tidak memberikan jaminan kepada orang yang mengalami suasananya yang mencekam untuk selalu menang, bahkan Alloh menetapkan kekalahan bagi kaum muslimin sekali waktu, seperti dalam firman-Nya:
{إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ اْلقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ اْلأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ}
“Jika kalian mendapatkan luka maka musuhpun mendapatkan luka, dan hari-hari itu Kami pergilirkan antar manusia…”
Ayat ini turun untuk menegaskan sunnah terjadinya kekalahan yang pasti berjalan. Ayat ini turun untuk menegaskan sunnah kekalahan di medan perang yang dialami kaum muslimin pada waktu perang Uhud, ini berlaku bagi siapa saja.
Seandainya saja manusia mau membuka lebih lebar pemahaman mereka tentang makna kemenangan, mereka akan berkesimpulan bahwa siapa saja yang terjun ke dalam jihad yang merupakan puncak tertinggi dari ajaran Islam, maka pada dasarnya ia tidak pernah rugi sedikitpun, bahkan ia selalunya berada dalam posisi menang, apapun kondisinya, walaupun ia terbunuh ataupun tertawan.
Kalau kita memberikan pemaha-man yang proporsional mengenai makna kemenangan, yaitu setelah merenungkannya melalui dalil-dalil Al-Quran dan Sunnah, tentu kita simpulkan bahwa Umat Islam ini tidak akan pernah rugi dengan menjalankan jihad. Tetapi jihad itu sebenarnya adalah sebuah keberuntungan dalam segala kondisinya, walaupun kenya-taan di lapangan berbeda dengan yang diharapkan.



TENTANG MAKNA-MAKNA KEMENANGAN:

Baiklah, sejenak kita kaji tentang apa makna kemenangan yang tercan-tum dalam Al-Quran dan sunnah. Sebenarnya, makna-makna kemena-ngan ini tidak cukup untuk kita kupas di sini satu persatu, itu memerlukan pembahasan sendiri, tapi sebagai-mana dalam kaidah ushul fikih: apa yang tidak bisa di bisa dicapai semua tidak bisa ditinggal sebagian besarnya. Oleh karena itu, kami katakan:

Makna kemenangan pertama:
Makna terbesar dari sebuah kemenangan –yang pasti telah dicapai oleh siapa saja yang mau berjihad, baik sendirian atau bersama sama umat— adalah ketika seorang mujahid berhasil mengalahkan nafsunya, mengalahkan syetan yang menggodanya serta mengalahkan ‘delapan perkara yang disukai semua manusia’ dan kesukaan-kesukaan yang menjadi cabangnya, menga-lahkan urusan-urusan duniawi yang menarik dirinya, di mana dalam hal ini banyak sekali kaum muslimin yang gagal, bahkan bisa dibilang hampir seluruh umat gagal untuk mengalahkan perkara-perkara ini. Alloh menyebutkan kedelapan perkara ini dalam firman-Nya:
{قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهِ فَتَرَبَّصُوْا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ وَاللهُ لاَ يَهْدِي اْلقَوْمَ اْلفَاسِقِيْنَ}
Katakanlah:"Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Alloh dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Alloh mendatangkan keputusan-Nya". Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
Maka ketika seorang hamba berhasil meninggalkan delapan perkara ini dan bersedia keluar untuk berjihad, berarti ia telah menang dan berhasil mengalahkan nafsu dan syahwatnya serta perkara-perkara menarik yang membikin orang enggan keluar untuk berjihad.

Dengan keberhasilannya menca-pai kemenangan ini, ia telah meng-gapai kemenangan lain yang lebih besar lagi, yaitu ketika ia berhasil keluar dari lingkaran orang-orang fasik, ia telah bebas dari janji dan ancaman Alloh yang tercantum di akhir ayat di atas. Semua kemenangan ini telah ia gapai ketika ia telah buktikan secara nyata bahwa ia lebih mencintai Alloh, rosul dan jihad di jalan-Nya. Sungguh, ini adalah kemenangan sangat besar.

Makna kemenangan kedua:
Jika seorang hamba keluar untuk berangkat berjihad, berarti ia telah mewujudkan kemenangan dalam bentuk yang lain dari kemenangan pertama. Bentuk kemenangan kali ini berupa kemenangan atas syetan yang senantiasa mengintai dan berusaha sekuat tenaga dengan berbagai cara untuk menghalanginya dari jihad. Sebagaimana tercantum di dalam Shohih Bukhori dari Abu Huroiroh  bahwasanya Rosululloh SAW bersabda:
(إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعِدَ لاِبْنِ آدَمَ فِيْ طَرِيْقِ اْلإِيْمَانِ فَقَالَ لَهُ أَتُؤْمِنُ وَتَذَرُ دِيْنَكَ وَدِيْنَ آبَائِكَ ؟ فَخَالَفَهُ فَآمَنَ، ثُمَّ قَعِدَ لَهُ عَلَى طَرِيْقِ اْلِهجْرَةِ فَقَالَ لَهُ أَتُهَاجِرُ وَتَتْرُكُ مَالَكَ وَأَهْلَكَ ؟ فَخَالَفَهُ فَهَاجَرَ، ثُمَّ قَعِدَ لَهُ عَلَى طَرِيْقِ اْلجِهَادِ فَقَالَ لَهُ أَتُجَاهِدُ فَتُقْتَلُ نَفْسُكَ فَتُنْكَحُ نِسَاؤُكَ وَيُقْسَمُ مَالُكَ ؟ فَخَالَفَهُ فَجَاهَدَ فَقُتِلَ، فَحَقٌّ عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ اْلجَنَّةَ)
“Syetan duduk menghadang anak Adam di atas jalan iman, syetan itu berkata kepadanya: “Apakah kamu mau beriman dan meninggalkan agamamu dan agama ayahmu?” Anak Adam itu tidak memperdulikannya dan terus beriman. Kemudian syetan duduk di jalan hijrah, ia berkata kepa-danya: “Apakah kamu mau berhijrah dengan meninggalkan harta dan keluargamu?” ia tidak memperduli-kannya dan terus berhijrah. Kemudian syetan duduk di atas jalan jihad, ia berkata kepadanya: “Apakah kamu mau berjihad? Nanti kamu terbunuh dan isterimu akan dinikahi orang, hartamu akan dibagi-bagikan kepada orang lain.” Ia kembali tidak memperdulikannya dan terus berjihad hingga terbunuh. Siapa yang seperti ini keadaannya, menjadi hak Alloh untuk memasukkannya ke surga.”
Jadi, hanya dengan jihadlah kemenangan atas syetan itu tercapai dan seorang hamba bisa menggapai surga Alloh Yang Mahapengasih.


Makna kemenangan ketiga:
Jika seorang hamba keluar untuk berjihad, ia telah mencapai kemena-ngan dan termasuk orang-orang yang disebut Alloh dalam firman-Nya:
(وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ اْلمُحْسِنِيْنَ)
“Dan orang-orang yang berjihad di (jalan) Kami, pasti akan Kami tun-jukan kepadanya jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Alloh bersama or-ang-orang yang berbuat kebaikan.”
Duh, alangkah besar keme-nangan itu, ketika seorang hamba berada di bawah naungan hidayah Alloh SWT. Kemenangan terbesar melawan syetan adalah hidayah, sedangkan anugerah Alloh SWT terbesar adalah taufik dari-Nya untuk bisa menggapai hidayah itu dan berubah status menjadi orang-orang yang berbuat ihsan (muhsinin) di mana kebersamaan Alloh selalu menyertai mereka, khususnya keber-samaan Alloh berupa kemenangan, ta-ufik, hidayah dan keshalehan.
Seandainya saja umat ini berjihad semua, seandainya mereka semua mau ikut serta dalam jihad dengan sungguh-sungguh, tentu umat ini akan menjadi umat yang mendapat petun-juk dan selalu disertai kebersamaan Alloh seperti yang terjadi di zaman shahabat dan tabi‘ìn, umat yang mendapatkan taufik, umat yang menang dan senantiasa ditolong Alloh.


Makna kemenangan ke-empat:

Ketika seorang telah berhasil keluar untuk berjihad, berarti ia telah menang atas orang-orang yang menghalanginya yang mana mereka ini berasal dari saudara sekulit dan sebahasanya sendiri, bahkan di antara mereka ada yang menggunakan nash-nash syar‘i untuk melegitimasi sikap menghalangi mereka terhadap umat dari jihad. Alloh Ta‘ala telah hinakan mereka dalam firman-Nya:
{لَوْ خَرَجُوْا فِيْكُمْ مَا زَادُوْكُمْ إِلاَّ خَبَالاً وَلَأَوْضَعُوْا خِلاَلَكُمْ يَبْغُوْنَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيْكُمْ سَمَّاعُوْنَ لَهُمْ وَاللهُ عَلِيْمٌ بِالظَّالِمِيْنَ}
“Kalaulah mereka keluar bersama kalian, mereka tidak akan menambah-kan apapun bagi kalian selain keka-cauan, mereka mencari-cari fitnah di dalam tubuh kalian dan di antara kalian ada yang suka mendengarkan mereka. Dan Alloh Mahamengetahui akan orang-orang dzalim.”
Alloh mengarahkan ayat ini kepa-da para shahabat Rosululloh SAW bah-wa di antara mereka ada yang suka mendengarkan kata orang-orang yang menghalang-halangi dari jihad. Ini bukan karena iman para shahabat itu lemah, tapi karena orang-orang yang menghalangi dari jihad itu memiliki kedudukan di tengah kelompoknya ta-pi mereka menyembunyikan isi batin-nya. Saking besarnya fitnah yang di-timbulkan orang-orang yang meng-halangi ini, dan saking dahsyatnya mereka mengkaburkan antara yang hak dan batil serta meyakinkan syub-hat mereka, sampai-sampai orang berimanpun terpedaya dengan kata-kata mereka. Itu sebabnya Alloh mengingatkan manusia terbaik setelah para nabi (para shahabat) agar mewaspadai orang-orang seperti ini.
Di antara orang-orang yang menghalangi jihad adalah yang ter-cantum dalam firman Alloh:
{فَرِحَ اْلمُخَلَّفُوْنَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلاَفَ رَسُوْلِ اللهِ وَكَرِهُوْا أَنْ يُجَاهِدُوْا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَقَالُوْا لاَ تَنْفِرُوْا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرّاً لَوْ كَانُوْا يَفْقَهُوْنَ}
“Orang-orang yang tidak ikut berjihad itu merasa senang dengan kedudukan mereka di belakang Rosululloh dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Alloh serta mengatakan: “Janganlah kalian berpe-rang dalam terik panas.” Katakanlah (Hai Muhammad): “Neraka Jahannam itu jauh lebih panas,” kalau mereka mengetahui.”
Jadi, orang-orang yang mengha-langi dari jihad ini menggunakan se-mua pasukannya, baik yang berkuda atau yang berjalan kaki, dan menggu-nakan semua kekuatan yang mereka miliki dalam rangka menghalangi seorang hamba dari jihad. Selan-jutnya, mereka melarang umat untuk berjalan di atas jalan kemuliaan dan harga diri.
Maka ketika seorang mujahid keluar untuk berjihad, berarti ia telah merealisasikan kemenangan atas orang-orang yang tidak mau ikut jihad dan menghalangi darinya.
Jadi setelah ia menang atas nafsu, syahwat dan dunianya, ia menang atas syetannya, selanjutnya ia menang atas orang-orang yang suka mempengaruhi orang lain agar lemah semangatnya dari kalangan saudara sekulit dan sebahasanya sendiri.
Makna kemenangan kelima:

Ketika seorang mujahid teguh di atas jalan dan prinsip jihad, apapun yang menimpa dirinya, baik kepaya-han dan kegoncangan dan komentar-komentar yang melemahkannya, pada dasarnya ini sudah merupakan satu kemenangan. Alloh Ta‘ala berfirman:
{يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللهُ الظَّالِمِيْنَ وَيَفْعَلُ اللهُ مَا يَشَاءُ}
“Alloh meneguhkan orang-orang beri-man dengan perkataan yang kokoh ketika di dunia maupun di akhirat. Dan Alloh menyesatkan orang-orang dza-lim dan Alloh mengerjakan apa yang Dia kehendaki.”
Bukankah orang yang tetap teguh di atas jalan jihad dan terus melak-sanakannya serta menjadi orang-orang yang diteguhkan seperti dalam ayat ini sudah cukup untuk disebut sebagai orang yang mendapatkan ke-menangan?
Benar, demi Alloh.
Betapa banyak orang yang sudah berjihad dan mendapatkan keme-nangan di medan pertempuran, akan tetapi prinsip-prinsip yang ia pegang setelah itu mengendur, kemantaban akidahnya bergeser, ia lantas hanya memperhatikan urusan syahwat dan dunianya dengan hasil yang ia peroleh dari medan jihad.
Betapa banyak kita lihat orang yang mengalami kesengsaraan dan kegoncangan melebihi orang yang sekarang masih terus berjalan di atas jalan jihad, mereka memang pantang mundur ketika di medan tempur, tetapi dunia telah mengalahkan prin-sip yang ia pegang dan kemantaban akidahnya. Ia terpalingkan oleh pengaruh-pengaruh yang rusak se-hingga merubah dirinya menjadi orang yang condong kepada dunia. Dengan kekalahan prinsipnya ini, ia beralasan dengan seribu alasan. Nah, bukankah ini sebenarnya yang disebut kekala-han, dan bukankah keteguhan di atas jalan jihad adalah kemenangan hakiki?


Makna kemenangan ke-enam:

Ada kemenangan lain yang dicapai seorang hamba ketika ia keluar untuk pergi berjihad, yaitu ketika ia korbankan jiwa, waktu dan hartanya dalam rangka memper-tahankan prinsip-prinsip yang ia pe-gang, dalam rangka membela keya-kinan dan agamanya.
Karena berkorban demi agama pada dasarnya adalah kemenangan itu sendiri, entah kemenangan (militer) berada di fihaknya ataukah di fihak musuhnya. Ia dikatakan menang karena ia menjadi tinggi dengan prin-sip yang ia pegang teguh, ia rela berperang demi membela prinsip tersebut, ia rela mengorbankan nyawanya dengan murah demi menebusnya, itulah kemenangan hakiki walaupun ia menelan kekalahan di medan pertempuran. Alloh Ta‘ala berfirman kepada Rosul-Nya SAW dan para shahabatnya ketika mereka kalah di medan Uhud:
{وَلاَ تَهِنُوْا وَلاَ تَحْزَنُوْا وَأَنْتُمُ اْلأَعْلَوْنَ}
“...dan janganlah kamu merasa hina dan sedih sedangkan kalian adalah lebih tinggi...”
70 orang kaum muslimin terbu-nuh, mereka dicincang-cincang, Rosu-lulloh SAW sendiri terluka, sebagian lari walau kemudian Alloh ampuni mereka, tetapi semua ini tidak sedi-kitpun mengubah hakikat bahwa kaum musliminlah yang lebih mulia.
Jadi, kemuliaan atau ketinggian seorang mujahid adalah manakala ia terjun ke medan pertempuran dan mengikuti peperangan Islam, inilah sebenarnya kemuliaan dirinya. Ia telah menang atas musuhnya dengan kemuliaan tersebut.
Ketika ia melihat kaumnya yang bersenjatakan apa adanya, sudah begitu mereka miskin lagi dan tidak punya apa-apa selain iman, lantas atas dasar apakah umat ini berjihad melawan musuhnya padahal jumlah pasukan dan perlengkapannya jauh lebih kecil? Untuk tujuan apakah umat ini berjihad melawan musuhnya pada-hal kalau diukur dengan materi pasti mereka kalah? Bukankah umat ini tidak punya persenjataan yang seim-bang dengan musuhnya? Tetapi umat ini terus melawan setelah melakukan persiapan semampunya, bukankah ke-tika umat seperti ini hanya sekedar berani melawan saja sudah cukup un-tuk disebut sebagai umat yang me-nang?
Sungguh umat yang hanya ber-bekal iman dalam melawan musuh-nya yang dilengkapi dengan berbagai peralatan dan senjata canggih adalah umat yang menang dengan kemuliaan dan prinsip yang ia pegang.
Ketika orang yang kondisinya apa adanya seperti ini berani menghadapi persekutuan negara-negara di seluruh dunia lengkap dengan peralatan dan persenjataannya yang bertekhnologi canggih sudah cukup disebut sebagai kemenangan, yang dalam peperangan itu ia persembahkan nyawanya murah demi membela keyakinannya?
Benar, demi Alloh.
Sungguh sejarah hanya menulis-kan tintanya untuk kisah kehidupan para pahlawan walaupun kesyahidan menjadi ujung kehidupannya. Adapun orang-orang yang kebanyakan cen-derung kepada dunia dan rela hidup dalam kehinaan, maka sejarah tidak akan pernah sudi menulisnya, bahkan sejarah akan membencinya. Dan alangkah jauh perbedaan antara ke-duanya di sisi Alloh robbul Alamin.
Keteguhan seorang di atas jalan jihad dan di atas akidah serta prinsip yang ia rela berperang untuknya, me-nimbulkan kemenangan prinsip dan akidah kepada dua kelompok:
Kelompok pertama: Kelompok yang memenangkan prinsipnya atas orang-orang yang berprinsip sesat, orang-orang ahli bid‘ah dan khurofat serta faham filsafat yang berusaha mentak-wil-takwilkan nash dalam rangka memalingkan orang yang berjihad dari prinsip yang ia pegang. Maka kalau seorang mujahid tetap teguh, terus berperang demi membela prinsipnya itu dan tidak memperdulikan syubhat-syubhat yang dilontarkan orang-orang sesat tadi, berarti ia telah mereali-sasikan kemenangan atas mereka.
Kelompok kedua: Ia menang dengan prinsipnya atas prinsip orang kafir, orang zindiq, orang murtad dan orang menyimpang.
Ketika ia menyatakan dengan terus terang bahwa ia sangat merin-dukan kematian di atas jalan yang ia yakini, dan ia menyatakan bahwa kematian sama sekali tidak mempe-ngaruhi maju mundurnya sedikitpun, maka itu sudah termasuk kemenangan tersendiri.
Gambaran kemenangan ini dicontohkan oleh tukang sihir Fir‘aun ketika mereka diancam akan dibunuh dan disalib setelah mereka menya-takan keimanannya secara terang-te-rangan, Fir‘aun berkata:
(.. فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلاَفٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِيْ جُذُوْعِ النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَاباً وَأَبْقَى)
“Benar-benar akan kupotong tangan dan kaki kalian secara bersilang dan sungguh akan kusalib kalian di pokok pohon kurma, dan kalian akan tahu siapa di antara kita yang lebih dahsyat dan lama siksaannya.”
Maka para tukang sihir itu menja-wab dengan penuh harga diri sebagai seorang mukmin:

{قَالُوْا لَنْ نُؤْثِرَكَ عَلَى مَا جَاءَنَا مِنَ اْلبَيِّنَاتِ وَالَّذِيْ فَطَرَنَا فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ إِنَّمَا تَقْضِيْ هَذِهِ اْلحَيَاةَ الدُّنْيَا}
“Mereka berkata: Kami tidak akan me-ngutamakan kamu di atas keterangan yang datang kepada kami dan Dzat yang menciptakan kami, maka putus-kanlah sesukamu, sesungguhnya ka-mu hanyalah memutuskan di dunia ini.”
Dalam jawaban lain, para tukang sihir itu mengatakan:
{وَمَا تَنْقِمُ مِنَّا إِلاَّ أَنْ آمَنَّا بِآيَاتِ رَبِّنَا لَمَّا جَاءَتْنَا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْراً وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنََ}
“Dan tidaklah kamu menyiksa kami kecuali karena kami beriman kepada ayat-ayat robb kami ketika itu datang kepada kami.” Wahai robb kami, lim-pahkanlah kesabaran ke atas kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan muslim.”
Allohu Akbar! Alloh Mahabesar, demi Alloh inilah kemenangan besar itu, ketika seseorang teguh di atas prinsipnya hingga mati!
Kemenangan seperti ini juga dicontohkan dalam kisah Khubaib bin ‘Adi ra ketika beliau disalib di tengah-tengah orang kafir Quraisy. Saat itu, antara dirinya dan kematian hanya berjarak beberapa saat saja, seperti diriwayatkan Abul Aswad dari ‘Urwah ia berkata:
“Setelah mereka meletakkan senjata (selesai menyiksa) dan Khubaib masih di atas kayu salib, mereka membu-juknya dengan mengatakan: “Apakah kamu suka kalau posisimu sekarang digantikan oleh Muhammad?” Khubaib menjawab: “Tidak, Demi Alloh yang Mahaagung, aku tidak rela walau beliau hanya tertusuk duri demi menebusku.”
Allohu Akbar! Alangkah besar kemenangan dan kemuliaan Khubaib ini.
Padahal betapa banyak kaum yang dibinasakan dan dihancurkan tetapi oleh Alloh tidak diabadikan ceritanya seperti cerita mereka yang Alloh sebut telah mencapai keme-nangan besar.
Dulu dalam kisah Ashhabul Ukhdud, orang-orang kafir membe-rikan dua pilihan kepada penduduk negeri itu yang masuk Islam, berbalik kafir atau tetap memegang prinsip tapi dibunuh dengan dibakar api. Api dunia ternyata tidak mampu mengun-durkan mereka dari prinsip yang mereka pegang. Mereka lebih memilih selamat dari api neraka di akhirat walau harus mereka bayar dengan memasuki api dunia. Maka merekapun terjun satu persatu ke dalam api, persis seperti belalang yang meloncat dengan penuh kemantaban dan pera-saan rela berkorban, mereka tidak ditakutkan oleh pemandangan api yang begitu hebat. Mereka memasu-kinya demi meraih kemenangan. Ketika ada seorang wanita yang tam-pak ragu, ia pun mulai fikir-fikir, pemahaman tentang kemenangan hakiki hilang dari benaknya, lalu Alloh menjadikan bayi yang ia susui bisa berbicara untuk menerangkan makna kemenangan hakiki dan keberun-tungan yang besar, bayi itu berkata –sebagaimana tercantum dalam hadits riwayat Muslim—: “Ibu, bersabarlah, sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.” Akhirnya sang ibupun terjun ke dalam api bersama bayi yang ia susui.
Meskipun begitu memilukan, tapi Alloh telah abadikan kisah mereka, Alloh memuji mereka dengan pujian yang belum pernah Dia berikan kepada selain mereka yang hidup di kemudian hari, Alloh berfirman:
(إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ ذَالِكَ اْلفَوْزُ اْلكَبِيْرُ)
“Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal sholeh itu bagi mereka surga-surga yang di bawahnya meng-alir sungai-sungai, itulah kemenangan yang sangat besar.”
Maka, bagi setiap mukmin yang kehilangan makna kemenangan hakiki seperti wanita tadi, ayat ini, pujian ini dan kesaksian ini menerangkan kepadanya makna kemenangan yang hilang dari benaknya.


Makna kemenangan ke-Tujuh:

Kemenangan yang selanjutnya adalah kemenangan yang Alloh berikan berupa kemenangan hujjah dan dalil.
Ini dekat dengan makna keme-nangan sebelumnya. Bedanya, keme-nangan ini tidak hanya dirasakan pela-ku yang mendapat kemenangan ini, tapi meluas kepada orang lain, baik ketika orang itu masih hidup atau sudah meninggal. Yang penting hujjah dia tersampaikan dan memuaskan hati orang walaupun dirinya sendiri lemah dan tidak meraih kemenangan di medan tempur.
Hal ini sebagaimana firman Alloh Ta‘ala mengenai kemenangan hujjah yang diraih Nabi Ibrohim AS atas kaumnya setelah sebelumnya mela-kukan perdebatan, firman-Nya:
{وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيْمَ عَلىَ قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّنْ نَّشَاءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيْمٌ عَلِيْمٌ}
“Dan itulah hujjah-hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim atas kaumnya, Kami mengangkat derajat siapa saja yang Kami kehendaki, sesungguhnya robbmu adalah Maha-bijaksana lagi Mahamengetahui.”
Pengangkatan derajat di sini maknanya adalah kemenangan.
Alloh juga memenangkan Nabi Ibrohim atas raja Namrud ketika ia membantah dakwah beliau, Alloh berfirman:
{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيْمَ فِيْ رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيْمُ رَبِيَ الَّذِي يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ، قَالَ أَنَا أُحْيِيْ وَأُمِيْتُ، قَالَ إِبْرَاهِيْمُ فَإِنَّ اللهَ يَأْتِيْ بِالشَّمْسِ مِنَ اْلمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ اْلمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ، وَاللهُ لاَ يَهْدِي اْلقَوْمَ الظَّالِمِيْنَ}.

“Tidakkah engkau perhatikan orang yang mendebat Ibrohim mengenai robbnya, orang itu diberi kekuasaan oleh Alloh, ketika Ibrohim menga-takan: Robbku adalah yang menghi-dupkan dan mematikan. Orang itu berkata: Aku juga bisa mematikan dan menghidupkan. Ibrohim berkata: Sesungguhnya Alloh menerbitkan matahari dari timur, maka terbit-kanlah matahari itu dari barat,” maka heran terdiamlah orang kafir itu. Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang dzalim.”
Di dalam kisah kemenangan prinsip yang diraih pemuda Ghulam dan Ashhabul Ukhdud terdapat dalil yang jelas yang menunjukkan makna kemenangan prinsip. Saat itu, ghulam terbunuh, tetapi hujjahnya menang dan berhasil mengalahkan kekufuran raja, semua orangpun beriman kepada Alloh.
Jadi, kemenangan hujjah dari terbunuhnya ghulam dan keteguhan dia sebelum mati adalah kemenangan yang sangat nyata, ia telah kalahkan kekufuran raja pada zamannya walaupun kekufuran itu memiliki kekuatan dan kekuasaan, tetapi kekufuran itu tetap jatuh tak berdaya di hadapan keteguhan, di hadapan prinsip dan keyakinannya yang agung.
Thoifah manshuroh (kelompok yang bakal mendapat kemenangan) itu pasti akan mendapat kemenangan, sebagaimana telah dikabarkan Rosululloh SAW, sebagaimana sabda beliau dalam Shohih Bukhori Muslim:
(لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِّنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَالِكَ).
“Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang menang di atas kebe-naran, tidak akan dipengaruhi oleh orang yang melemahkan semangat, hingga tiba ketentuan Alloh sementara mereka tidak berubah.”
Kemenangan di dalam hadits ini, yang paling minimal adalah kemenangan hujjah dan dalil, bisa saja diiringi kemenangan wilayah dan kekuasaan. Akan tetapi, walaupun umat Islam sendiri menyia-nyiakan kelompok ini (tidak mau membantu mereka) dan musuh bersatu padu menghadapinya, kelompok ini tetap saja menang.


Makna kemenangan ke-delapan:

Di antara bentuk kemenangan yang Alloh berikan kepada para muja-hidin adalah dengan menghancurkan musuh mereka dengan menimpakan musibah dari sisi-Nya, musibah ini terjadi disebabkan karena jihad yang dilakukan para mujahidin.
Seringnya, mujahidin kalah menghadapi musuhnya di medan tem-pur, ini mengingat tidak seimbangnya kekuatan kedua belah fihak. Akan tetapi Alloh Mahakuat lagi Maha-perkasa. Karena mujahidin telah berusaha maksimal mencurahkan se-gala upayanya untuk menempuh sebab dan berjuang dengan kekuatan yang Alloh berikan kepada mereka dan mereka telah melakukan I‘dad dengan serius, maka Alloh akan menjadikan usaha dan perlawanan mereka yang tidak seberapa itu menjadi sebab kehancuran musuh mereka dengan menurunkan kegoncangan bencana dari sisi-Nya. Alloh tegaskan hal ini dalam firman-Nya:
{كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيْرَةً بِإِذْنِ اللهِ وَاللهُ مَعَ الصَّابِرِيْنَ}
“Betapa banyak kelompok yang sedikit mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Alloh, dan Alloh bersama orang-orang yang sabar.”
Keguncangan yang menimpa Fir‘aun lantaran jihad Nabi Musa AS dan pengikutnya menjelaskan makna ini. Pada dasarnya, Alloh bisa saja membinasakan Firaun sebelum adanya Nabi Musa Alaihis Salam ataupun setelahnya. Di awal-awal berpalingnya Firaun dan kesombongannya, Alloh memberikan tenggang waktu sebelum akhirnya Firaun semakin melampaui batas dan berbuat kejam, ia keluar dengan pasukan berkuda dan pasukan pejalan kakinya untuk memadamkan cahaya Alloh Ta‘ala.
Kenyataan di lapangan, kegon-cangan menimpa Firaun dan bala tentaranya, sebabnya adalah Nabi Musa AS, Alloh Ta‘ala berfirman:
{فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوْسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيْمِ}
“Maka Kami wahyukan kepada Musa untuk memukulkan tongkatmu ke laut, maka terbelahlah laut itu, maka masing-masing sisinya laksana gunung yang besar.”
{وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوْا يَعْرِشُوْنَ}
“Dan Kami hancurkan apa yang diper-buat Firaun dan kaumnya serta apa yang mereka bangun.”
Ketika Nabi SAW dakwah secara terbuka dan kaum Quraisy berpaling dari kebenaran, Alloh timpakan adzab kepada mereka agar mereka mau tunduk kepada perintah Nabi SAW. Dalam Shohih Bukhori Muslim disebutkan dari ‘Abdulloh bin ‘Abbas ra bahwasanya ketika kaum Quraisy benar-benar tidak mau mentaati Nabi SAW dan beliau sendiri telah melihat kaum Quraisy sudah benar-benar berpaling, Nabi SAW berdoa agar me-reka ditimpa paceklik seperti yang terjadi pada zaman Nabi Yusuf. Maka merekapun tertimpa kelaparan yang memporak porandakan segala sesu-atu, sampai-sampai mereka makan kulit dan bangkai, di antara mereka ada yang memandangi langit karena saking laparnya dan tiba-tiba muncul asap di sana. Akhirnya Abu Sufyan datang kepada Nabi SAW dan berkata: “Hai Muhammad, sesungguhnya eng-kau memerintahkan untuk mentaati Alloh dan menyambung tali silatu-rohim, dan sesungguhnya kaummu telah mengalami kehancuran, maka berdoalah kebaikan untuk mereka ke-pada Alloh.”
Alloh berfirman:
“Maka tunggulah hingga langit datang dengan asap yang nyata. Yang meliputi manusia, inilah adzab yang pedih. Sesungguhnya Kami hanya menghilangkan azab sedikit saja, karena kalian akan kembali kufur lagi. Pada hari di mana Kami menghantam dengan siksaan yang besar, sesung-guhnya Kami Mahamembalas.”
Jadi, musibah apa saja yang menimpa mereka itu disebabkan oleh jihad yang dilakukan Nabi SAW. Peristiwa ini terjadi setelah hijrah dan disyariatkannya jihad. Musibah yang menimpa mereka bukan karena pasukan Rosul ketika di medan perang. Karena Rosul tidak membu-nuh kaum Quraisy lebih dari 200 orang dalam peperangan beliau mela-wan mereka. Sementara fihak Quraisy kurang lebih telah membunuh separo jumlah ini dari kaum muslimin. Akan tetapi Alloh menimpakan kegonca-ngan/ bencana dari sisi-Nya agar me-reka mau tunduk kepada perintah Rosululloh SAW. Dengan bencana ini, Alloh memberi petunjuk sebagian ka-um dan membinasakan sebagian kaum yang masih di atas kekufuran-nya.
Di zaman kita sekarang, hancur-nya Uni Soviet mempertegas makna hakikat ini. Ditinjau di medan perang, mujahidin tidak lebih kuat dan tidak lebih banyak jumlah personelnya dari-pada Soviet. Akan tetapi, karena me-reka begitu gencar memusuhi dan membunuh wali-wali Alloh, maka bala, musibah, kemiskinan dan kerusakan datang susul menyusul sampai akhir-nya Sovietpun runtuh. Maka siapa yang mengatakan bahwa Soviet run-tuh lantaran sistem sosialis-komunis-nya, silahkan lihat masih banyak negara sosialis komunis yang masih berdiri. Kalau ada yang mengatakan bahwa Soviet runtuh karena hutang negaranya yang menumpuk, dulu sebelum Soviet runtuh Amerika lebih banyak jumlah hutangnya, apalagi hutang dalam negeri. Siapa yang me-ngatakan bahwa Soviet runtuh karena undang-undang militernya yang dikta-tor, masih banyak negara yang sistem militernya jauh lebih diktator.
Kalau orang mau memperhatikan sebab-sebab keruntuhan Uni Soviet, tidak akan melihat kesimpulan lebih jelas selain bahwa penyebabnya kare-na mereka memerangi agama Islam dan disebabkan jihad yang dilancarkan mujahidin melawan mereka.
Kemenangan seperti ini banyak sekali dibuktikan dalam sejarah para nabi, terlalu banyak bukti sejarah untuk disebutkan di sini, semua bukti sejarah ini menunjukan bahwa penye-bab utama turunnya adzab dan kehan-curan musuh adalah jihadnya para mujahidin.
Jadi jihad adalah sebab utama kehancuran orang kafir dan kemena-ngan dari sisi Alloh Ta‘ala untuk kaum mukminin.
Kalaulah kita tidak melihat keme-nangan dengan segera, sebenarnya kemenangan itu hampir saja datang.
Dalam sejarah, tidak ada satu kaum yang hancur binasa tanpa ada sebab, sedangkan bencana-bencana yang menimpa orang-orang kafir penyebabnya adalah jihad yang dila-kukan para rosul yang diutus kepada mereka, atau disebabkan jihad yang dilakukan orang-orang beriman dari kalangan hamba-hamba Alloh yang sholeh.


Makna kemenangan ke-sembilan:

Bentuk kemenangan lain, jihad menjadi penyebab fakirnya orang kafir dan sebab matinya mereka di atas kekufurannya serta terhalanginya me-reka dari memperoleh hidayah. Ini termasuk kemenangan terbesar.
Peperangan dan permusuhan me-reka terhadap agama Islam dan muja-hidin menjadi sebab kesesatan dan terjerumusnya mereka dalam kekafi-ran sampai mati. Inilah permintaan Nabi Musa dan Harun ‘Alaihimas Salam kepada Alloh untuk Firaun dan kaumnya, Alloh berfirman tentang Nabi Musa:
{وَقَالَ مُوْسَى رَبَّنَا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَأَهُ زِيْنَةً وَأَمْوَالاً فيِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّوْا عَنْ سَبِيْلِكَ، رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوْبِهِمْ فَلاَ يُؤْمِنُوْا حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ اْلأَلِيْمَ}
“Dan Musa berkata: Duhai robb kami, sesungguhnya Engkau telah membe-rikan kepada Firaun dan pengikutnya perhiasan dan harta benda di dunia, ya robb kami mereka mengguna-kannya untuk menyesatkan manusia dari jalan-Mu, ya robb kami hancur-kanlah harta mereka dan keraskanlah hati mereka sehingga mereka tidak akan beriman sampai melihat adzab yang pedih.”
Permintaan Nabi Musa ‘Alaihis Salam terhadap perkara-perkara ini menunjukkan jika perkara-perkara yang beliau minta tersebut terwujud berarti kemenangan hakiki berada di tangan. Kekalahan apakah yang lebih besar daripada ketika Alloh keraskan hati orang kafir sampai mereka jumpai adzab yang pedih? Ketika kaum mukminin nanti berbahagia dengan posisi yang diceritakan Alloh dalam Al-Quran ketika mereka mengatakan kepada para pemimpin orang-orang kafir:
{ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَرِيْمُ}
“Rasakanlah (siksa neraka) sesung-guhnya kamu itu maha perkasa lagi maha mulia.”
Jadi, kesombongan, keangkuhan dan keangkara murkaan orang-orang kafir serta klaim bahwa merekalah pembela kebebasan, pembela perada-ban dan orang yang memerangi tero-risme, itu semua akan berakhir de-ngan habisnya masa kehidupan mere-ka yang barangkali tidak akan ber-langsung lama. Setelah itu, mereka akan berpindah ke suatu tempat yang kaum mukminin merasa terobati hatinya dengan melihat mereka ada di tempat tersebut, ketika dikatakan kepada mereka:
{قَالَ هَلْ أَنْتُمْ مُطَّلِعُوْنَ، فَاطَّلَعَ فَرَآهُ فِيْ سَوَاءِ الْجَحِيْمِ}
“(Penduduk surga itu) berkata: Tidak-kah kamu mau melihat teman kamu itu? Maka iapun melihat dan menjum-pai ia berada di tengah-tengah neraka jahim.”
Dan kalau di dunia kefakiran me-nimpa orang-orang kafir, berarti Alloh telah menganugerahkan pundak-pundak mereka kepada orang-orang beriman.
Dulu, jihad yang dilakukan Nabi SAW menjadi penyebab daripada ke-dengkian dan kezaliman yang dilaku-kan bangsa yahudi, akhirnya Allohpun mengeraskan hati mereka sampai me-reka mati, padahal mereka tahu kebenaran Nabi Muhammad SAW seperti mereka mengenali anak-anak mereka sendiri. Mereka mati dalam keadaan kufur, dan hari perhitungan telah menanti.


Makna kemenangan ke-sepuluh:

Di antara bentuk kemenangan adalah ketika Alloh mengambil seba-gian hamba-Nya sebagai syuhada. Maka setiap hamba yang berjuang dan terluka karena Alloh Ta‘ala semua itu sebenarnya agar ia bisa memperoleh tiket masuk surga. Oleh karena itu, Alloh Ta‘ala berfirman:
(وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاء وَاللهُ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِيْنَ)
“Dan hari-hari itu Kami pergilirkan di antara manusia dan agar Alloh mengetahui orang-orang yang benar-benar beriman serta mengambil seba-gian dari kalian sebagai syuhada. Dan Alloh tidak menyukai orang-orang yang dzalim.”
Kesyahidan merupakan pilihan yang Alloh tentukan bagi hamba-Nya. Bermakna, siapa yang Alloh pilih untuk bisa mencapai derajat ini berarti telah meraih kesuksesan dan kemena-ngan. Kesyahidan adalah puncak daripada cita-cita karena kesyahidan merupakan pilihan dari Alloh, sampai-sampai Rosulullohpun mengangankan kesyahidan hingga tiga kali di dalam sabdanya:
(وَلَوَدِدْتُ أَنْ أُقْتَلَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ ثُمَّ أُحْيَا ثُمَّ أُقْتَلُ ثُمَّ أُحْيَا ثُمَّ أُقْتَلُ)
“Sungguh, aku benar-benar berandai-andai jika untuk terbunuh di jalan Alloh, kemudian dihidupkan lagi, ke-mudian terbunuh lagi, kemudian dihidupkan lagi, kemudian terbunuh lagi.”
Alloh Ta‘ala berfirman untuk menegaskan makna kemenangan ini:
{وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ}
“Dan janganlah kalian sangka bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Alloh itu mati, bahkan mereka hidup di sisi robbnya mendapatkan rezeki.”
Dan berfirman:
{وَلاَ تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُقْتَلُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لاَ تَشْعُرُوْنَ}
“Dan janganlah kalian katakan bahwa orang yang terbunuh di jalan Alloh itu mati, bahkan mereka hidup tetapi kalian tidak menyadari.”
Dalil yang menunjukkan bahwa kesyahidan adalah kemenangan adalah hadis yang terdapat dalam Shohih Bukhori Muslim dari Anas bin Malik ra ia berkata: Ketika Harom bin Milhan ditikam pada peristiwa Bi’ru Ma‘unah –Harom adalah paman daripada Anas—, ia melumurkan darahnya di wajah dan kepalanya sembari mengucapkan: “Fuztu wa robbil Ka‘bah…!” (Demi robb pemilik Ka‘bah, aku telah menang).
Coba, bagaimana mungkin orang yang melihat kematian berada di depan matanya bersumpah bahwa ia telah menang kalau bukan karena ia telah mencium bau surga?
Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa seorang mujahid sudah cukup disebut menang manakala ia mati sya-hid sangatlah banyak, sudah dije-laskan secara terperinci oleh para ulama dalam bab khusus tentang keutamaan mati syahid di jalan Alloh.
Sekali lagi, siapa yang Alloh beri anugerah kesyahidan, berarti ia telah mencapai kemenangan.


Makna kemenangan ke-sebelas:

Bentuk kemenangan lain adalah kemenangan di medan tempur. Inilah makna kemenangan yang difahami oleh hampir seluruh umat manusia. Kebanyakan orang hanya membatasi kemenangan pada makna ini saja. Ini tentu pemahaman yang timpang. Kemenangan di medan tempur tak lain hanya salah satu dari sekian bentuk kemenangan.
Rosululloh SAW sempat bergem-bira dengan kemenangan medan ini dan Alloh tunjukkan kemenangan ini sebelum beliau wafat, kemudian berfirman kepada beliau untuk mengingatkan nikmat tersebut:
{إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللهِ وَاْلفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّاباً}.
“Apabila datang pertolongan dan ke-menangan dari Alloh, dan engkau melihat manusia masuk ke dalam agama Alloh dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji robbmu dan meminta ampun-lah kepada-Nya, sesungguhnya Alloh Maha menerima taubat.”
Demikianlah beberapa bentuk kemenangan.
Sebenarnya masih banyak bentuk kemenangan lain dan tidak cukup untuk dibahas seluruhnya di sini. Kami cukupkan dengan menyebutkan beberapa contoh di atas yang kesemuanya masuk dalam lingkup janji Alloh SWT yang berfirman:
{إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُوْمُ اْلأَشْهَادُ}
“Sungguh, Kami pasti menolong (me-menangkan) rosul-rosul Kami dan orang-orang beriman ketika di dunia dan ketika saksi-saksi ditegakkan.”
Serta firman Alloh:
{وَكَانَ حَقّاً عَلَيْنَا نَصْرُ اْلمُؤْمِنِيْنَ}
“Dan menjadi kewajiban Kami meme-nangkan orang-orang beriman.”
Bagi orang yang sempit pemaha-mannya tentang kemenangan, ia akan mengatakan: Bagaimana Alloh menya-takan wajib (pasti) memenangkan para rosul dan orang-orang beriman sementara di antara para rosul itu ada yang terbunuh, ada yang tidak men-dapatkan kekuasaan, bahkan ada yang tidak mendapat seorang pengi-kutpun yang masuk Islam bersama-nya?
Tetapi orang yang memahami makna kemenangan dengan sebenar-nya tidak akan kesulitan mencerna ayat-ayat di atas.
Perlu kita ketahui, kemenangan berupa kemantaban posisi di muka bumi (tamkin), keunggulan dan kekuasaan ujung-ujungnya tetap akan menjadi milik umat Islam juga. Kalaulah itu tidak terjadi di zaman kita, pasti dan tanpa diragukan lagi akan terjadi pada generasi setelah kita. Banyak sekali kabar gembira dan janji tentang datangnya tamkin di muka bumi yang disampaikan Rosulu-lloh SAW di mana janji tersebut tidak bermakna lain selain kemenangan medan dan keunggulan militer serta kekuasaan di muka bumi. Nash-nash yang menunjukkan hal itu sangatlah banyak, di antaranya adalah sabda Rosul SAW:
(لَيَبْلُغَنَّ هَذَا اْلأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، وَلاَ يَتْرُكُ اللهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلاَ وَبَرٍ، إِلاَّ أَدْخَلَهُ اللهُ هَذَا الدِّيْنَ، بِعِزِّ عَزِيْزٍ أَوْ بِذُلِّ ذَلِيْلٍ، عِزّاً يُعِزُّ اللهُ بِهِ اْلإِسْلاَمَ وَذُلّاً يُذِلُّ بِهِ اْلكُفْرَ)
“Urusan ini akan mencapai apa yang dicapai oleh malam dan siang, tidaklah Alloh tinggalkan satu rumah dari kulit ataupun rumah dari tanah kecuali Alloh masukkan di dalamnya agama ini, denga kemuliaan orang yang mulia dan kehinaan orang yang hina, kemuliaan yang Alloh muliakan Islam dengannya dan kehinaan yang Alloh hinakan kekufuran dengannya.”
Demikian juga dengan sabda beliau seperti diriwayatkan Muslim dari Tsauban ra ia berkata, Rosululloh SAW bersabda:
(إِنَّ اللهَ زَوَى لِيَ اْلأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِيْ سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِيْ مِنْهَا)
“Sesungguhnya Alloh telah melipatkan bumi untukku, maka aku melihat bagi-an timur hingga baratnya, dan se-sungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai apa yang telah dilipatkan untukku tadi.”
Masih dalam riwayat Muslim dari Abu Huroiroh ra ia berkata, Rosululloh SAW bersabda:
(لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُوْنَ الْيَهُوْدَ فَيَقْتُلُهُمُ الْمُسْلِمُوْنَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُوْدِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُوْلُ الْحَجَرُ أَوِالشَّجَرُ : يَا مُسْلِم يَا عَبْدَ اللهِ هَذَا يَهُوْدِيٌّ خَلْفِيْ تَعَالَ فَاقْتُلْهُ إِلاَّ الْغَرْقَد فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُوْدِ)
“Hari kiamat tidak akan terjadi sampai kaum muslimin memerangi yahudi, maka kaum muslimin membunuh me-reka sampai-sampai mereka bersem-bunyi di balik batu atau pohon, tiba-tiba batu dan pohon itu berkata: Wa-hai muslim, wahai hamba Alloh, ini ada yahudi ada di belakangku, kemari dan bunuhlah ia. Kecuali pohon Ghor-qod, karena pohon itu termasuk pohon orang yahudi.”
Juga riwayat yang dibawakan Imam Ahmad dari Abdullah ra bahwa-sanya Rosululloh SAW pernah ditanya tentang kota manakah yang akan ditaklukkan terlebih dahulu, Konstan-tinopel ataukah Romawi? Beliau menjawab: “Roma, kota Heraklius, akan ditaklukkan terlebih dahulu.”
Kota Roma pasti juga akan ditaklukan seperti yang dijanjikan Nabi SAW. Ini tercantum dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abu Huroiroh ra bahwasanya Nabi SAW bersabda kepada para shahabat: “Apakah kalian pernah mendengar tentang kota yang sebagian daerahnya ada di daratan dan sebagian lagi berada di lautan?” para shahabat menjawab: “Pernah ya Rosululloh.” Beliau melanjutkan: “Hari kiamat tidak akan terjadi sampai 70.000 orang dari Bani Ishaq memeranginya...”
Hadits tentang kemunculan Imam Mahdi seperti yang diberitakan Nabi merupakan hadits yang mencapai derajat mutawatir, Imam Mahdi ini akan muncul di akhir zaman, dialah yang kelak akan menguasai dunia selama tujuh masa, ia penuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebe-lumnya dipenuhi dengan kezaliman dan kejahatan.
Sangat banyak nash-nash yang memberikan kabar gembira bahwa umat ini akan memperoleh kemena-ngan berbentuk kemenangan militer, tamkin, keunggulan dan kekuasaan di muka bumi.
Meskipun demikian, tidak pernah dibenarkan seorang hamba hanya pasrah saja menunggu kabar gembira dalam nash tersebut dan tidak mau berjuang dengan alasan kemenangan toh nantinya akan datang juga. Jika ia memahami makna-makna kemena-ngan, maka yang wajib bagi dirinya adalah bagaimana menjadi orang pertama yang menjemput kemena-ngan tersebut. Sebab kalau nanti umat ini mencapai kemenangan se-mentara ia tidak memberikan andil apapun, tentu ia menjadi orang yang merugi. Jadi, dia mesti berusaha untuk merealisasikan salah satu daripada makna kemenangan selain kemenangan militer sampai nanti janji Alloh berupa kemenangan militer itu datang,
{وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُوْنَ بِنَصْرِ اللهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ}
“Dan pada hari itu, kaum mukminin bergembira dengan kemenangan yang datang dari Alloh, Alloh memberikan kemenangan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan Dia Mahaperkasa lagi Mahapenyayang.”
Semoga sholawat dan salam tercurah selalu kepada Rosululloh, kepada keluarga dan seluruh shahabat beliau.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Apapun tanggapan anda, silahkan tulis...