Rabu, 02 September 2009

KHAWARIJ GAYA BARU (BAG.4, HAL 91-100)

KEEMPAT :
Penjelasan tentang kafirnya para penguasa saat ini. Meski dengan menerapkan pendapat Ibnu Abbas atas diri mereka

Telah jelas bagi kita dari perkataan-perkataan ulama`yang kami nukil diatas bahwa perkataan Ibnu Abbas menunjuk pada pengertian orang yang memutuskan satu kasus atau beberapa kasus dengan selain syari’at Allah berada pada dua keadaan : kafir asghar atau akbar, jika yang mendorongnya berbuat seperti itu adalah syahwat dan hawa nafsunya dengan masih mengakui ia berbuat dosa, dan ia mengakui hukum Allah itulah hukum yang benar : maka kufurnya adalah kufur ashghar. Adapun jika ia melakukannya karena mengingkari hukum Allah atau meyakini selain hukum Allah lebih baik dari hukum Allah, atau se-banding atau ia boleh memilih untuk berhukum dengan hukum Allah atau hukum lain atau ia me-ngganggap remeh syari’at Allah, maka kekafi-rannya adalah kafir akbar yang mengeluarkan da-ri millah.
Telah kami jelaskan bahwa penguasa yang menetapkan undang-undang yang diterapkan atas rakyat dengan selain hukum Allah, atau ia memaksa rakyat untuk mau dihukumi dengan selain hukum Allah, tidak masuk dalam perincian keterangan diatas. Meskipun demikian kami kata-kan kalaulah kita katakan pendapat penguasa yang menetapkan undang-undang selain hukum Allah termasuk dalam atsar ini, tentunya setiap orang yang jujur tentu akan mengikuti bahwa para penguasa hari ini terjatuh pada beberapa bentuk kekafiran yang mengeluarkan dari millah. Sikap mereka tidak menunjukkan kalau mereka orang-orang yang dikuasai syahwat atau hawa Nafsunya sehingga berhukum dengan selain hu-kum Allah namun masih meyakini wajibnya ber-hukum dengan hukum Allah dan perbuatannya tersebut sebuah maksiat yang pantas mendapat ancaman Allah :

• Ketika presiden Mesir terdahulu menghina hi-jab syar’i dengan menyebutnya sebagai ten-da, mungkinkah dikatakan ia mengakui tudu-hannya itu sebuah kesalahan dan ia didorong oleh syahwat dan hawa nafsunya untuk tidak berhukum dengan syari’at Allah? Ataukah penghinaan ini sebenarnya adalah bukti peno-lakan terhadap syari’at Allah dan mengutama-kan hukum manusia atas hukum Allah?
• Ketika pemerintah Mesir sekarang melarang meski hanya sekedar dialog penerapan syari’at di Majelis Perwakilan Rakyat, apakah ada mak-na lain selain mereka tidak senang atau tidak meginginkan meski hanya sekedar berfikir tentang penerapan syari’at Allah?
• Ketika persiden Mesir sekarang mengirim su-rat berisi ancaman agar tidak menerapkan syari’at Islam kepada persiden Sudan terdah-ulu, Ja`far Numeri yang mengumumkan pene-rapan syari’at Islam di Sudan. Ketika persiden Mesir membanggakan diri karena telah mena-sehati pemerintah Tunisia agar memberangus aktifis-aktifis Islam yang menuntut penerapan syari’at dan bersikap keras kepada mereka dengan menunjukkan tidak adanya problem ketika nasehatnya dipenuhi sebagaimana pro-blem yang dihadapi presiden Aljazair terdahulu Syadzali bin Jaded yang tidak menuruti nase-hat ini. Saya tanyakan ketika semua ini terjadi apakah bisa dikatakan presiden Mesir ter-masuk mereka yang didorong oleh syahwat dan hawa nafsunya untuk tidak berhukum dengan hukum Allah sementara ia mengakui itu perbuatan dosa? Jika syahwatnya telah mendorongnya untuk tidak berhukum dengan hukum Allah di negaranya, maka bagaimana dengan para penguasa lainnya?
• Kenapa ia menasehati mereka untuk tidak berhukum dengan syari’at Islam? Kenapa ia menasehati mereka untuk memberangus orang-orang yang menuntut penegakan sya-riat? Kenapa ia memberi pengalaman dan bantuan dalam berinteraksi dengan para da`i dan cara memberantas mereka? saya tidak memahami dari ini semua selain kenyataan bahwa ia secara asal memang menolak syari’at Allah dan mengutamakan hawa nafsu manusia atas syari’at Allah.
• Bahkan saya katakan, kondisi para penguasa sekarang ini yang paling baik adalah orang yang berpaham demokrasi, yaitu penguasa yang menyatakan saya mengikuti kemauan rakyat, jika mereka mengingkari syari’at Islam saya tidak akan menghalanginya. Meskipun ini penguasa yang paling baik kondisinya, ia tetap kafir keluar dari milah, sebagaiman penjelasan Ibnu Qoyyim, "Jika ia menyakini ia tidak wajib berhukum dengan hukum Allah dan ia boleh memilih, meskipun ia menyakini hukum Allah, maka ini adalah kufur akbar." [Madarijus Salikin 1/337]. Penguasa yang mengembalikan urusan kepada rakyat ini, ia telah menyakini bolehnya memilih dalam hal berhukum dengan hukum Allah ini. Ia telah meyakini tidak wajib-nya berhukum dengan hukum Allah. Ucapan dan perbuatan menunjukkan kenyataan ini. Dengan meminta pendapat manusia dalam masalah menerapkan syari’at Allah, ia telah keluar dari barisan orang beriman karena Allah telah berfirman :

وَمَـا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْــخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِـمْ
"Dan tidaklah patut bagi orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sebuah keputusan, mereka mempunyai pilihan lain tentang urusan mereka."
[QS Al Ahzab : 36].
• Singgasana para penguasa kita tegak diatas paham sekulerisme yang memisahkan dien dengan negara. Presiden Mesir terdahulu selalu mengulang-ulang pernyataannya yang terkenal, "Tidak ada agama dalam politik dan tidak ada politik dalam agama". Para penguasa kita tetap bersikap seperti ini, membuat dikotomi kehidupan manusia antara hak Allah dan hak hawa nafsu, dengan selalu mengumandangkan slogan "Berikan hak Allah kepada Allah dan hak raja kepada raja."
Mereka memberi ruang bagi Allah dalam masalah ritual peribadatan semata, sementara aspek kehidupan yang lain seperti politik, eko-nomi, social dan yang lainnya mereka serah-kan kepada hawa nafsu orang-orang yang tidak paham. Mereka ini seperti firman Allah :

أَفَتُؤْمِنُوْنَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَ تَكْفُرُوْنَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّوْنَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ

"Apakah kalian beriman dengan sebagian Al Kitab dan kafir dengan sebagian yang lainnya. Tak ada balasan atas perbuatan kalian ini selain kehinaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat mereka akan dikembalikan kepada adzab yang pedih."
[ Q S Al Baqarah :85 ].
• Mereka selalu menyatakan tidak adanya per-bedaan antara seorang muslim dengan selain muslim dalam negara sekuler mereka. Mereka selalu mengumandangkan slogan, "Agama mi-lik tuhan, tanah air milik kita bersama." Mere-ka menganggap hukum-hukum tentang ahlu dzimmah sebagai hukum primitive yang telah kadaluarsa. Posisinya diganti dengan konsep nasionalisme yang menyamakan seluruh war-ga negara di hadapan hukum. Tak diragukan lagi hal ini berarti telah menolak hukum-hukum Allah dan menentang penerapannya. Ini jelas-jelas sebuah kekafiran sebagaimana Fatwa Lajnah Ad Da`imah lil Buhuts al Ilmiyah wal Ifta` 1/541, "Adapun orang yang tidak membedakan antara Yahudi, Nasrani dan selu-ruh orang kafir lainnya dengan kaum muslimin kecuali dengan tanah air, dan menyamakan kedudukan mereka di hadapan hukum, maka orang ini telah kafir."
• Para penguasa kita hari ini, perhatian serius mereka adalah memberangus gerakan-gera-kan Islam yang menuntut penegakan syari’at Islam. Inilah dia pemerintah Mesir yang me-nangkap, menyiksa dan membunuh para da`i di jalan-jalan dan pelataran masjid. Kehorma-tan masjid-masjid diinjak-injak oleh tentara pemerintah di hadapan penglihatan dan pende-ngaran rakyat. Mahkamah militer terus-mene-rus menjebloskan pemuda-pemuda pilihan ke tempat-tempat penyiksaan, tak lain karena mereka mengajak diterapkannya syari’at Islam dan ingin menegakkan kitabullah dan sunnah rosul-Nya. Apakah pemerintah seperti ini bisa dikatakan penguasa yang mengakui bahwa perbuatannya tersebut adalah sebuah dosa dan maksiat, berhak untuk dihukum atas per-buatannya ini? Padahal pemerintah ini lewat persidennya pada tahun 1986 M telah mengu-mumkan bahwa Jama`ah Islamiyah adalah penyakit yang harus diberantas, mereka men-coba segala cara untuk menghancurkan jama`ah tersebut. Pada awal kepemimpinan-nya yang ketiga tahun 1993 M, ia mengumum-kan bahwa tugas pertama yang akan menjadi focus progamnya adalah memberangus kaum fundamentalis. Semua orang mengetahui bah-wa yang dimaksud dengan kaum fundamenta-lis tak lain adalah para da`i yang menyerukan penerapan Al Qur`an dan As sunnah.
• Para penguasa kita loyal kepada Yahudi dan Nasrani, membantu mereka dalam memusuhi kaum muslimin yang bertauhid. Mu`tamar Syarm Syaikh tidak jauh dari kita, diadakan pa-da tahun 1996 M untuk membantu pemerintah Yahudi yang dipimpin Shimon Peres. Mu`-tamar Syarm Syaikh diadakan setelah berlang-sungnya operasi-operasi jihad yang sukses oleh Hamas dan Jihad Islamy di Palestina yang terampas. Mu`tamar ini diadakan di Mesir atas perintah Bill Clinton, gembong dari semua penguasa kita, tujuannya demi membantu Yahudi menghancurkan mujahidin di Palesti-na.
• Para penguasa kita telah meninggalkan jihad baik defensive maupun ofensif, sementara Syaikh Al Albani mengatakan, "Penguasa ma-napun di dunia jika dikatakan kepadanya," Ke-napa engkau tidak berjihad fi sabilillah? Jika ia menjawab, "Sekarang ini sudah tidak ada lagi jihad, sekarang ini era kebebasan, siapa ingin beriman silahkan beriman, siapa ingin kafir silahkan kafir. Dan ta`wil-ta`wil lain yang tidak diizinkan Allah. Penguasa yang menging-kari jihad seperti ini telah kafir. Adapun pe-nguasa yang meyakini ia wajib berjihad, ia mengatakan Allah menolong kita tapi kita tidak mempunyai kekuatan, kita tidak mempu-nyai persiapan yang layak, dan perkataan-perkataan lain sementara ia mampu melaksa-nakan persiapan, maka penguasa seperti ini berdosa." [ Fatawa Syaikh Al Bani hal : 303-304].
Para penguasa kita ketika meninggalkan jihad dengan kedua bentuknya, mereka tidak mengata-kan, "Allah menolong kita" atau "kami mengeta-hui jihad itu wajib namun kami tidak mempunyai kekuatan." Mereka termasuk dalam bentuk perta-ma yang dihukumi syaikh Al Albani : telah kafir. Penyebabnya mereka tidak mengakui konsep jihad untuk menyebarkan Islam. Mereka menge-jek orang-orang yang menyerukan jihad. Sebagai gantinya mereka mengakui ketetapan PBB yang menyatakan tidak boleh menggunakan kekuatan kecuali untuk defensive. Meski demikian sampai jihad defensive melawan Yahudi pun telah mereka tutup pintunya. Presiden Mesir terdahulu telah mengumumkan bahwa perang Oktober adalah perang terakhir melawan Yahudi. Para penguasa kita senantiasa mengumumkan bahwa perundi-ngan damai dengan Yahudi adalah satu-satunya pilihan mereka. Kalau mereka termasuk penguasa yang mengakui jihad namun mengatakan, "Allah menolong kita" seperti ungkapan syaikh Al Albani, tentulah mereka membiarkan pihak selain mereka untuk berjihad. Tapi kenyataannya mereka justru terus menerus memusuhi umat Islam yang me-nyerukan jihad untuk membebaskan Palestina. Mereka tolong menolong dengan pemerintah Ya-hudi untuk memberangus para mujahidin.
Dengan data-data ini yang bisa dikatakan tentang para penguasa kita hari ini : tidak mung-kin mengatakan mereka tidak berhukum dengan hukum Allah karena dorongan syahwat dan nafsu-nya belaka. Tapi kenyataan yang sebenarnya ada-lah mereka mengutamakan hawa nafsu penduduk dunia atas syari’at Rabb bumi dan langit. Keka-firan penguasa seperti mereka menurut ahlul haq (pengikut kebenara) tidak mungkin disifati sebagai kafir asghar. Yang benar adalah kafir akbar dan jelas murtad. Wallahu A`lam.
Terakhir barang kali pembaca mendapati kami memfokuskan diri pada penguasa Mesir hari ini. Ini karena merekalah yang kami ketahui keadaan-nya. Kami tidak mengira mayoritas para pengua-sa kaum muslimin hari ini kecuali seperti para penguasa Mesir juga. Meskipun demikian, pe-nguasa lain yang kami dapati tidak melakukan kekafiran yang disebutkan diatas, maka ia tidak termasuk penguasa kafir yang kami maksudkan. Kita juga mengetahui bersama bahwa diantara para penguasa kaum muslimin hari ini ada yang dasar pemikiran atau ideologinya telah jelas-jelas kafir dan bertentangan dengan syari`at, tanpa melihat kepada masalah hukum. Contohnya seperti penguasa yang berideologi Nusairiyah, mengingkari As Sunnah atau meyakini ideologi partai Ba`ats. Wallahu A`lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Apapun tanggapan anda, silahkan tulis...