Selasa, 08 September 2009

KHAWARIJ GAYA BARU (BAG 6, SELESAI)

KEEMPAT :
diantara permasalahan jihad

Dalam kasetnya ini dan mungkin dalam kaset lainnya, syaikh Al Albani mengkritik hal-hal yang terjadi saat keluar dari penguasa. Tujuan kami bukanlah mendiskusikan hal ini secara terperinci, karena syaikh Al Albani sejak awal tidak menga-kui disyari’atkannnya keluar dari pemerintah kafir ini maka tak ada gunanya mendiskusikannya. Hanya saja ada dua permasalahan yang menarik perhatianku, saya ingin mengomentarinya secara singkat :

A. Permasalahan Pertama.
Syaikh telah mengkritik terbunuhnya anak-anak dan wanita di Aljazair, beliau menyebutkan dari as sunah larangan membunuh anak-anak dan wanita. Saya katakan bahwa dalam hal ini syaikh Al Albani benar. Perbedaan antara kami dengan beliau dalam masalah keluar dari penguasa kafir bukan berarti kami menolak kebenaran yang beliua sebutkan. Selalunya kami katakan wajib-nya berpedoman kepada aturan-aturan syar’i da-lam masalaha jihad. Tidak ada kebaikan dalam sebuah amalan, sekalipun amalan tersebut disya-ri’atkan, jika dikerjakan oleh pelakunya sesuai dengan kaedah-kaedah syari’at yang lurus.
Barangkali tepat bila saya sampaikan di sini bahwa Jama'ah Islamiyah Mesir termasuk pihak yang pertama kali mengingatkan tidak benarnya seruan kelompok Islam bersenjata Aljazair yang membolehkan membunuh anak-anak dan wanita. Sebagaimana Jama'ah Islamiyah Mesir juga telah memperingatkan kesalahan-kesalahan lain yang terjadi di Aljazair, seperti pembunuhan dua ulama ; syaikh Muhammad Sa'id dan syaikh Abdu Razzaq rajam, pembunuhan pendeta dan lain-lain.
Kami, alhamdu lillah, menerima setiap koreksi yang disampaikan dalam perjalanan jihad ini, kami tidak ridha bila panji jihad tercemari oleh pelanggaran hal-hal yang tidak ditetapkan syari’at yang lurus dan tidak diridhai Allah Ta'ala dan rasul-Nya, baik itu di Aljazair, Mesir atau negeri lainnya. Kebenaran lebih berhak untuk diikuti. Wallahu al Musta'an.

B. Permasalahan Kedua.
Berkaitan dengan sebuah soal yang ditujukan kepada syaikh Al Albani, "Ada sebuah fatwa dari Jama'ah Islamiyah Mesir, jika seorang anggota Jama'ah Islamiyah ditawan dan diinterogasi yang mengakibatkan pengakuannya, mereka membo-lehkannya untuk bunuh diri. Bagaimana hukum masalah ini?"
Syaikh menjawab hal itu tidak boleh, karena biasanya menunjukkan menentang qadha' dan qadar Allah. Lalu syaikh mengatakan, "Saya harus mengatakan --sebagai penutup-- saya katakan, "Hukum ini khusus hanya dari Jama'ah Islamiyah. Mereka mengira memberi fatwa untuk diri mereka sebagian orang atau untuk jama'ah mereka sen-diri dan anggota-anggotanya, bahwa jika ditawan oleh penguasa yang dzalim maka boleh baginya bunuh diri. Dari mana mereka mendapatkan hukum ini? Bukankah kaum muslimin generasi awal juga mengalami hal yang dialami oleh mere-ka, orang-orang belakangan itu? Apakah Rasu-lullah memberi mereka fatwa dengan fatwa seper-ti ini? Fatwa ini berngkat dari kebodohan; Perta-ma. Terhadap Al Qur'an dan As Sunah. Kedua. Teges-gesa dalam menegakkan kewajiban, yaitu menegakkan hukum dengan Islam, dengan Al Qur'an dan As Sunah. Bagiamana mungkin orang yang tergesa-gesa berfatwa dengan fatwa yang menyelisihi Al Qur'an dan As Sunah akan mene-gakkan hukum dengan Al Qur'an dan As Sunah?". [dari buku Fatawa Syaikh Al Albani hal. 364-365].
Sebenarnya saya tidak tahu bagaimana syaikh Al Albani meridhai dirinya menuduh orang lain pa-dahal beliau belum pernah bertemu dengan mere-ka dan mengetahui keadaan mereka secara sem-purna, dengan tuduhan-tuduhan bodoh, tergesa-gesa, berfatwa dengan fatwa yang menyelisihi Al Qur'an dan As Sunah? Meskipun demikian, saya akan menanyakan kepada beliau, semoga Allah memaafkan kami dan beliau, "Kenapa anda tidak mengecek lebih lanjut apakah benar Jama'ah Isla-miyah mengeluarkan fatwa ini? Apakah anda te-lah menemui seorang anggota Jama'ah Islamiyah yang mengatakan hal ini? Apakah anda telah membaca tulisan-tulisan Jama'ah Islamiyah ada fatwa seperti ini?"
Saya yakin, syaikh Albani belum melakukan ini semua. Jika sudah, tentunya beliau tidak akan berkata seperti yang telah beliau katakan seka-rang ini. Sebenarnya menisbahkan fatwa tersebut kepada Jama’ah Islamiyah tidaklah benar. Syaikh tidak berhak menanyakan dalilnya kepada kami, bukankah semestinya beliau dan pihak yang ber-tanya kepada beliau lah yang mendatangkan buk-ti karena hukum asal adalah tidak adanya penis-bahan fatwa tersebut dan fatwa lainnya kepada Jama'ah Islamiyah, kecuali bila ada bukti.
Meski demiian, kami sebutkan di sini sebuah bukti kepada syaikh Albani yang menjelaskan ti-dak benarnya apa yang beliua katakan, yaitu pen-jelasan resmi Jama'ah Islamiyah yang menya-takan tidak keluarnya fatwa yang menyerukan ke-pada anggotanya yang ditangkap dan diinterogasi untuk melakukan usaha bunuh diri. Dalam penje-lasan resmi tersebut disebutkan, "Sesungguhnya Jama'ah Islamiyah belum dan tak akan pernah mengeluarkan fatwa seperti ini, karena Islam jelas telah mengharamkan bunuh diri dengan dalil-dalil yang tetap dan qath'i." Penjelasana res-mi tersebut juga menerangkan bahwa fatwa ini adalah kedustaan pihak pemerintah Mesir agar bi-sa membunuh lebih banyak lagi anggota Jama'ah Islamiyah yang ditangkap, lalu mengaku bahwa mereka bunuh diri dengan landasan fatwa palsu tersebut. [Pembaca bisa menelaah teks lengkap penjelasan resmi Jama'ah Islamiyah dalam lam-piran di akhir buku ini].
Akhirnya saya katakan kepada syaikh, "Dari-pada mencela orang yang anda tidak mengenal mereka, Bukankah akan lebih baik bila anda me-ngatakan, "Kalau apa yang kau tanyakan ini be-nar maka jawabannya begini dan begini." Atau anda menjawab dengan jawaban umum seperti anda mengatakan," Hal itu secara syar’i tidak bo-leh," tanpa perlu menunjuk perorangan dan tidak tergiring oleh berita-berita yang adan tidak bisa mengecek kebenarannya?"

KELIMA :
Penjelasan Penting Mengenai Kondisi di Mesir

Hal penting yang perlu diingatkan di sini, banyak sekali orang berbicara tentang peristiwa yang terjadi di Mesir dan negeri-negeri lainnya, namun mereka tidak mengetahui banyak kondisi yang sebenarnya dari negara tersebut. Akibatnya timbullah kesalahan dalam menyimpulkan sebuah hukum. Contoh mudahnya adalah apa yang kami sebutkan sebelum ini tentang tuduhan bahwa Jama'ah Islamiyah Mesir mengeluarkan fatwa bolehnya bunuh diri bagi anggotanya yang ditang-kap dan diinterogasi pemerintah. Contoh lain yang lebih penting, bahwa peristiwa yang terjadi beberapa tahun belakangan ini di Mesir bukanlah usaha menjatuhkan pemerintah Mesir, melainkan usaha darurat mempertahankan diri. Jama'ah Islamiyah Mesir memang menyatakan wajibnya keluar dari pemerintah kafir, namun Jama'ah Isla-miyah Mesir memandang untuk mengakhirkan hal itu sampai persiapan untuk itu sempurna, sehing-ga maslahat keluar dari penguasa kafir adalah maslahat rajihah (kuat). Sebagai ganti dari itu se-mua, konsentrasi dialihkan kepada dakwah, men-tarbiyah anggota, menyebarkan aqidah shahihah, konsentrasi dengan menuntut ilmu dengan diser-tai merubah kemungkaran yang dhahir yang mampu dirubah.
Namun pemerintah sekuler Mesir tetap tidak memberi kesempatan kepada Jama'ah Islamiyah Mesir untuk meneruskan dakwah seperti ini sam-pai waktu memetik buahnya. Pemerintah sekuler Mesir terus berusaha memberangus dakwah ini. Pemerintah memulai dengan penangkapan besar-besaran dan penyiksaan di luar batas kemanu-siaan, menahan wanita-wanita, menyerbu masjid-masjid, membunuh para dai di jalan-jalan dan serambi masjid. Mereka tidak mempunyai alasan untuk melakukan itu semua, kecuali untuk men-cekik dakwah dan mencegah perkembangannya. Bahkan tujuan utama pemerintah ini tidak ter-sembunyi lagi, yaitu menghancurkan Jama'ah Islamiyah Mesir dan jama'ah-jama'ah lain yang disebutnya dengan kaum fundamentalis. Seorang yang mengerti tentang pemerintah seperti peme-rintahan Mesir ini tentu juga mengetahui, bahwa setelah jama'ah-jama'ah "fundamentalis" ini berhasil dihancurkan, usaha pemerintah tidak akan selesai. Mereka akan meneruskannya de-ngan jama'ah-jama'ah yang terkadang disebutnya sebagai jama'ah "moderat", seperti ikhwanul muslimin dan lain-lain.
Jama'ah Islamiyah Mesir pada tahun 1408 H telah mengeluarkan sebuah buku kecil dengan judul "Laporan Penting", dalam buku itu Ja-ma'ah Islamiyah Mesir menulis nama-nama dan jumlah anggota Jama'ah Islamiyah Mesir yang ditahan, disiksa, dibunuh, penahanan wanita dan pengguguran kandungan wanita-wanita anggota-nya oleh rezim pemerintah sekuler Mesir. Di akhir buku kecil tersebut, Jama'ah Islamiyah melon-tar-kan sebuah pertanyaan, "Apakah jika kami me-ngangkat senjata setelah ini semua terjadi, untuk membela nyawa kami, kami masih tetap dikata-kan da'i-da'i keras dan teroris?"
Dari sini Jama'ah Islamiyah melihat kondisinya adalah membela diri yang tidak mungkin ditunda-tunda. Tak diragukan lagi jihad membela diri (de-fensif) tidak disyaratkan syarat-syarat yang ter-dapat pada jihad menyerang (ofensif). Yang harus dilaksanakan adalah membela diri semampunya sesuai sarana yang ada. Sikap orang-orang yang membela diri ini mengatakan, "Jika pemerintah yang durjana ini tidak bertujuan kecuali untuk membunuh kami, maka itu hanya akan terjadi se-telah kami membuat mereka merasakan gelas ke-matian sebelum mereka menuangkan gelas ke-matian tersebut kepada kami. Kami harus menim-pakan kepada mereka pelajaran yang membuat mereka berfikir seribu kali sebelum mereka berfi-kir sekali lagi untuk memerangi para dai."
Sebagai akibat dari pemahaman ini, kita lihat para pemuda melawan tentara-tentara penakut yang menamakan dirinya secara dusta tentara-tentara keamanan, yang akan menciduk mereka. Mereka tidak menyerah, tetapi tetap berperang hingga terbunuh atau Allah menyelamatkan me-reka dari tentara-tentara penakut tersebut. Mere-ka memahami betul perkataan imam Ahmad me-ngenai kondisi seperti ini, "Saya tidak senang jika ia ditawan. Jika ia berperang itu lebih aku sukai karena ditawan itu urusannya berat. Hendaklah ia berperang, meskipun mereka memberi jaminan keamanan karena mereka mungkin saja menging-kari jaminan tersebut." [Al Furu' karya Ibnu Muflih VI/201-202].
Para pemuda yang memberikan perlawan ini mengerti betul, urusannya tak begitu saja selesai dengan masuknya mereka ke penjara. Mereka akan disiksa dengan siksaan di luar ambang batas kemanusiaan sampai mereka mau menunjukkan tempat saudara-saudaranya dan mengakui tudu-han yang dilontarkan para penginterogator, pada-hal perbuatan yang dituduhkan tersebut tidak mereka lakukan. Belum lagi penghinaan terhadap saudara muslim yang tertawan ini dari pemerin-tah yang durjana ini. Para pemuda ini mengerti betul, mereka akhirnya pasti akan dibunuh, sebagian mereka dihukum mati melalui apa yang mereka namakan mahkamah militer. Tak diragu-kan lagi ia bertempur sampai mati dan tidak menyerah, dalam kondisi seperti ini adalah lebih baik dan lebih mulia.
Para pemuda tadi sudah berusaha memberi-tahukan kondisi sebenarnya tyang terjadi di Mesir ini kepada saudara-saudara mereka, sesama umat Islam, namun usaha ini terbentur di satu pi-hak oleh keterbatasan sarana dan di lain pihak mass media pemerintah yang senantiasa me-mutar balikkan fakta tentang para da'i dan muja-hidin dengan menggambarkan mereka sebagai kelompok teroris yang tak mempunyai keinginan selain merusak stabilitas nasional.
Untuk membantu menyampaikan kondisi se-benarnya yang terjadi di Mesir, di akhir buku ini kami lampirkan sebuah penjelasan resmi Jama'ah Islamiyah yang telah disebarkan bertepatan dengan hari Iedul Adha tahun 1413 H. Penjela-sana tersenut ditulis oleh saudara Thal'at Yasin, seorang da'I dan pimpinan Jama'ah Islamiyah. Ketika pemerintah Mesir melancarkan penum-pasan terhadap "teroris", ia memimpin gerakan militer. Dalam penjelasana tersebut, ia mengisah-kan dengan bahasa yang menggetarkan bagaima-na seorang pemuda muslim berubah, dari sekedar berdakawah dengan lisan, menjadi seorang mu-jahid yang mengangkat senjata demi membela dien, nyawa dan kehormatan. Tak lebih dari satu tahun setelah penjelasan resmi ditulis, saudara Thal'at Yasin telah terbunuh di tangan tentara pemerintah. Departemen Dalam Negeri mengata-kan ia terbunuh saat melawan tentara pemerin-tah yang akan menawannya. Kita berdoa kepada Allah semoga menerimanya di barisan syuhada' dan menerima amalnya.

KEENAM :
Kalimat terakhir

Kalimat terakhir ini saya tujukan kepada be-liau syaikh Al Albani hafidzahullah, sebagai bentuk nasehat yang Allah wajibkan atas kaum muslimin. Saya katakana, "Wahai syaikh, telah banyak majelis anda yang membahas orang-orang yang tidak sependapat dengan anda seperti dalam ma-salah-masalah yang kami sebutkan pada lem-baran-lembaran sebelum ini, atau di tempat lain. Kami menyaksikan --sebagaimana orang lain me-nyaksikan-- sikap anda yang sangat keras terha-dap orang yang tidak sependapat dengan anda. Anda menuduh mereka bodoh, sedikit ilmu, menyelisihi firqah najiyah, dan tuduhan-tuduhan lain yang anda sebutkan dalam banyak majelis. Boleh jadi inilah pendapat anda terhadap orang-orang yang tidak sependapat dengan anda. Na-mun apa pendapat anda mengenai para penguasa sekuler yang memegang kekuasaan di negeri-negeri kaum muslimin, berhukum dengan selain hukum Allah dan menimpakan bermacam-macam siksaan kepada para da'i? Sekalipun anda tidak meyakini kafirnya mereka, kami mengira paling tidak anda meyakini mereka itu fasiq, dzalim dan jauh dari syari’at Allah.
Jika anda tidak mampu mengkritik mereka secara terang-terangan, apakah anda tidak bisa bersikap seimbang dalam perkataan anda, misal-nya dengan mengatakan --selain keras terhadap orang-orang yang tidak sependpat dengan anda--,"Sesungguhnya sebab kerusakan yang terjadi adalah par penguasa yang tidak berhukum de-ngan hukum Allah, kalau mereka berhukum de-ngan syari’at Allah tentulah mereka telah mampu menyelesaikan berbagai problem yang ada."
Bahkan saya meminta syaikh untuk melaku-kan hal yang lebih mudah dari hal ini, hendaklah beliau memberikan nasehat yang lunak kepada para penguasa tersebut ; beliau menerangkan ke-pada mereka wajibnya menerapkan syariah Allah, bersikap lemah lembut kepada rakyat dan bera-mal sholih untuk kebaikan umat. Jika syaikh Al Albani berpendapat hal ini sama sekali tak ada gunanya, kenapa beliau tidak pernah memperhi-tungkan kerusakan yang ditimbulkan oleh sera-ngan beliau terhadap orang-orang yang tidak se-pendapat dengan beliau? Bukankah mereka juga saudara ebliau yang mencintai dan menghormati beliau, banyak di antara mereka yang belajar melaui buku-buku beliau atau mengambil manfaat dari beliau? Apakah lantang menyuarakan kebe-naran itu hanya di hadapan orang-orang lemah tertindas, yang dhahir amal mereka menunjukkan mereka beramal hanya demi kebenaran semata?
Secara jujur saya katakan kepada syaikh, "Sungguh kalimat-kalimat anda ini kepada para pemuda Mesir yang disiksa ini lebih menyakitkan dari siksaan cemeti para penyiksa. Karena para penyiksa itu sudah sama-sama diketahui memu-suhi dakwah. Dari mereka tak mungkin ditunggu selain pemberangusan dan penyiksaan para da'i. Adapun anda, para pemuda yang disiksa ini tetap melihat anda dengan menganggap anda seorang ulama umat Islam, mereka meminta bantuan kepada anda meski sekedar doa yang benar. Te-tapi ternyata mereka mendapati anda --tanpa kesengajaan anda-- berada di parit para thaghut, anda membela para thaghut dan membodoh-bo-dohkan mereka yang mengkafirkan para thaghut, anda menuduh mereka dengan tuduhan-tuduhan keji. Sungguh para thaghut adalah orang yang paling bahagia dengan perkataan-perkataan anda, wahai syaikh yang terhormat. Mereka meman-faatkannya semaksimal mungkin untuk merun-tuhkan semangat para pemuda dan menggoyang kepercayaan para pemuda terhadap para ulama mereka dengan membuat perselisihan antara para pemuda dakwah dengan para ulama mereka.
Terakhir saya katakan kepada syaikh, sesung-guhnya rasa cinta kami kepada beliaulah yang mendorong kami menulis tulisan ini sebagai se-buah koreksi, nasehat dan kecintaan terhadap perbaikan. Saya berdoa kepada Allah untuk diri saya sendiri, untuk anda dan segenap kaum mus-limin agar dikarunia keikhlasan dalam berkata dan berbuat, kembali kepada kebenaran dan hus-nul khatimah. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas hal itu. Amien.






LAMPIRAN-LAMPIRAN

Lampiran Pertama
Penjelasan yang diterbitkan oleh Jama'ah Islamiyah Mesir
Di hari Iedul Adha 1413 H
Berjudul

" Ucapan Selamat dari Seorang Mujahid "

Untukmu wahai saudaraku, dan setiap muslim adalah saudaraku, saya sampaikan ucapan selamat di hari ied mubarak ini. Saya melihat anda tak mengenalku, tapi aku mengenalmu… pada hari ied tahun yang lalu aku bersamamu… kita berjalan bersama meuju sholat ied… suara takbir membahana… tapi peluru-peluru berhamburan… mereka ingin suara peluru mengalahkan suara takbir. Ketika kita duduk di tempat sholat, aku menoleh kepadamu untuk mengucapkan selamat hari ied tapi kulihat di kedua matamu air mata kesedihan yang tertahan… kutundukkan kepalaku dalam keadaan sedih, lalu aku beranjak pergi. Selama beberapa hari aku menangis karena melihat air mata kesedihan yang tertahan di kedua matamu… kesedihan telah membunuhku dan membunuhmu, setiap kali kita mendengar jeritan umat Islam yang disiksa, setiap kali kita melihat antrean umat Islam yang ditawan, setiap kali kita melihat darah para syuhada' mengalir, mengalir di atas segala benda, di atas mimbar-mimbar, di beranda-beranda masjid, di jalan-jalan…

Ya, di atas segala benda darah-darah syuhada' mengalir. Kesedihan membunuh kita ketika kita mendengar berondongan peluru ingin membungkam suara muadzin, setiap kali kita mendengar jeritan minta tolong wanita-wanita muslimah yang menjaga kehormatannya… duhai, duhai, siapakah yang akan menolong mereka???… Saya terdiam diri selama beberapa hari, bertanya kepada diri sendiri, sampai kapan seperti ini?... Sampai kapan seperti ini?
Jawaban datang dari rabb kita :

"Dan sekiranya Allah tidak menahan kejahatan sebagian manusia dengan sebagian manusia lainnya, tentulah bumi telh rusak. Akan tetapi Allah Maha melimpahkan pemberian-Nya kepada seluruh alam."

" Dan kenapa kalian tidak berperang di jalan Allah sementara orang-oang lemah tertindas dari kalangan laki-laki, perempuan dan anak-anak mengatakan," Wahai rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri yang penduduknya dzalim ini. Dan jadiklanlah untuk kami seorang penolong pelindung, dan jadikanlah untuk kami seorang penolong dari sisimu."

Kedua ayat ini menyadarkanku, tanpa ragu-ragu lagi aku segera mencari senapanku, kutemukan, kuangkat, kuhapus debu-debu yang menutupinya, detik itu juga kurasakan aku memegang harta termahal yang kumiliki… kuisi dengan peluru… peluru-peluru yang ini untuk mereka yang membunuh saudara-saudara kita di atas mimbar dan di beranda masjid… peluru-peluru yang ini untuk mereka yang menyiksa kita… peluru-peluru yang ini untuk mereka yang menangkapi imam-imam masjid… peluru-peluru yang ini untuk mereka yang melindungi komplek-komplek prostitusi… peluru-peluru yang ini untuk mereka anjing-anjing yang mencabik kehormatan para wanita muslimah yang menjaga kehormatannya.
Untukmu wahai saudaraku, dan setiap muslim adalah saudaraku… kalau kamu meilhatku ketika aku menenteng senapan ini, kemudian aku bergegas ke arah mereka, kalau kau melihat mereka lari dari hadapanku bagaikan larinya tikus, kalau kau melihatku menutup telingaku dari tuduhan-tuduhan orang-orang munafiq, pengecut dan para ulama negara yang membuat kebohongan, mereka memintaku untuk melemparkan senjata… kalau kau melihatku pada hari itu, wahai saudaraku… tentulah kau akan menghapus air mata kesedihan dari kedua matamu lalu tersenyum… ayolah, saudaraku, tersenyumlah karena aku bahagia melihatmu tersenyum.
Untukmu wahai saudaraku, dan setiap muslim adalah saudaraku… ku kirim ucapan selamat ied untukmu, tahun ini mungkin engkau tak melihatku di sampingmu, tapi janganlah kau mengira aku telah meninggalkan jalan (perjuangan), bahkan aku berdiri di depanmu, di sana, aku lindungi jalan untukmu, aku berdiri di sana, di hadapanmu, jari-jariku memegang picu senapan agar suara peluru mereka tidak mengalahkan suara takbir… aku berjanji kepadamu akan membunuh setiap orang yang berusaha membungkam suara takbir.
Untukmu wahai saudaraku, dan setiap muslim adalah saudaraku… kutujukan doa keselamatan, maka doakanlah aku mendapat kemenangan dan mati syahid, besok ketika mereka membunuhku, mengkoyak-koyak badanku, mereka akan mencercaku… kalau engkau bisa membelaku wahai saudaraku, (walau dengan sebuah kalimat) kerjakanlah, jika kau snggup katakanlah,"Dia saudaraku, ia dulu di sampingku. Tetapi ketika ia melihat air mata kesedihan yang tertahan di kedua mataku, ia berdiri, mengangkat senapannya dan berangkat, katakanlah kepada manusia," Dia saudaraku, bukan seorang teroris, bukan seorang perampok, tapi ia seorang yang membuka jalan dakwah.
Untukmu wahai saudaraku, dan setiap muslim adalah saudaraku… ku sampaikan harapanku untukmu di hari ied, angkatlah suara takbirmu, saya bahagia mendengar takbir ied dalam keadaan berdiri di sana, di hadapanmu. Kubukakan jalan untukmu dan kutinggikan suara takbir, sebagaimana engkau juga begitu.





Lampiran Kedua

Kedzaliman Kerabat Dekat

Banyak sekali tulisan-tulisan memojokkan yang ditulis oleh kaum sekuler dan sisa-sisa kaum komunis, yang memburukkan citra para da'i, terkhusus lagi Jama'ah Islamiyah Mesir.
Orang banyak tak mempedulikan tulisan yang penuh dengan kebohongan yang sangat jelas ini. Tulisan-tulisan ini tak lebih dari kebohongan te-rang-terangan yang mudah diketahui oleh akal sehat, atau tak lebih dari kambing yang ingin me-mecahkan batu yang kokoh dengan tanduknya yang lemah.
Namun yang memprihatinkan adalah muncul-nya tulisan-tulisan seperti itu melalui sebuah kajian ilmiah yang serius. Bagaimana pengaruh-nya jika kajian tersebut berasal dari seorang pe-nulis yang mempunyai hubungan erat dengan harakah islamiyah, bahkan termasuk seorang aktivis harakah islamiyah? Kalau keadaannya seperti itu, tentulah urusannya lebih besar seba-gaimana dikatakan :

Kedzaliman kerabat sendiri lebih menyakitkan
bagi jiwa melebihi goresan pedang yang terasah tajam

Saya katakan ini semua sehubungan dengan sebuah alinea yang saya baca dalam sebuah buku berjudul "Sayid Qutb minal Milad ila al Istisyhad (Sayid Qutb dari kelahiran hingga mati syahid)", tulisan Dr. Sholah Abdul Fattah al Khalidi. Secara garis besar buku ini sebuah buku yang baik. Pem-baca akan merasakan kerja keras penulisnya da-lam membahas, meneliti dan menguak kehidu-pan ustadz Sayid Qutb rahimahullah. Karena itu saya sangat kaget ketika membaca alinea terse-but, di mana penulisnya mengtakan, "Buku Ma'a-lim (fi Thariq) dan Fi Dzilal (Al Qur'an) juga diba-ca oleh kelompok-kelompok aktivis Islam lainnya, seperti jama'atul muslimin yang dibentuk oleh Syukri Musthafa rahimahullah dan jama'ah jihad yang sebagian anggotanya membunuh presiden Mesir Anwar Sadat. Mereka menyimpulkan dari buku Ma'alim beberapa pendapat yang asing, pemahaman-pemahaman yang salah dan takwi-lan-takwilan batil. Mereka menjadikan pemaha-man-pemahaman tersebut metode dalam berdak-wah dan beramal. Mereka menisbahkannya kepa-da Sayid utb dan menganggap beliau sebagai pencetus pertamanya. Pemahaman tersebut se-perti : mengkafirkan muslim yang tidak berga-bung dengan jama'ah, haramnya bekerja di yaya-san-yayasan sosial, wajibnya uzlah hati dan materi bagi anggota jama'ah, menjauhi masjid-masjid umat Islam karena merupakan masjid dhirar, dan lain sebagainya. Padahal Sayid Qutb tidak mengatakan pendapat-pendapat ini, sekali-pun mereka mengaku-aku pendapat ini ada dalam buku Ma'alim…" [Sayid Qutb minal Milad ila al Istisyhad hal. 557].
Demikian pengarang buku mengatakan –se-moga Allah memafkan kita dan memaafkannya--. Sejak awal kami katakan, kami tidak menuduh pengarang termasuk mereka para pengkritik yang menyebarkan berita-berita bohong untuk membu-rukkan citra para dai. Perjalanan hidup beliau dalam menulis buku ini menolak tuduhan ini.
Yang lebih kuat --wallahu a'lam-- beliau me-nerima pendapat-pendapat tersebut dari bebera-pa media massa, atau mendengarnya dari orang-orang yang riwayatnya tidak teguh kemudian beliau menukil pendapat-pendapat tersebut dari mereka karena berbaik sangka kepada mereka. Meski demikian hal ini tidak melepaskannya dari tang-gung jawab. Kami mempunyai beberapa catatan atas nukilan kami dari perkataan pengarang buku di atas, kami sebutkan secara garis besar sebagai berikut :

Pertama: Ada catatan yang kelihatannya prinsipil, bahwa jama'ah yang membunuh Anwar Sadat adalah Jama'ah Islamiyah. Demikianlah jama'ah tersebut menamakan dirinya, dengan nama ini pula jama’ah tersebut menerbitkan buku-bukunya dan menjalankan kegiatan-kegia-tannya. Adapun penamaan jama’ah jihad, itu adalah nama yang diberikan oleh pihak aparat ne-gara di Mesir, kemudian dikutip oleh mass media.
Jama'ah Islamiyah ketika tidak menamakan dirinya dengan nama jama'ah jihad, bertujuan untuk menegaskan pemahaman yang syumul (konphrehensif) dalam amal islamy. Benar jihad adalah puncak ketinggian Islam, namun ia bukan satu-satunya jalan yang ditempuh oleh jama'ah Islamiyah. Disamping jihad, Jama'ah Islamiyah juga menempuh dakwah dan amar makruf nahi mungkar. Ketiganya dijalankan dengan penuh ke-seimbangan.
Yang mendorong saya untuk meralat nama ja-ma'ah adalah saya mendapati pengarang tidak menggunakan nama yang diberikan oleh pe-nguasa Mesir terhadap jama'ah Syukri Musthafa, yaitu nama "At Takfir wal Hijrah." Penggarang menggunakan nama yang dipakai oleh Syukri untuk menamai jama'ahnya, yaitu jama'atul mus-limin, padahal nama ini mengandung kesalahan syar’i yang tidak tersembunyi lagi bagi penga-rang. Maksud Syukri dengan nama ini adalah pe-ngakuan dirinya dan pengikutnya sajalah ja-ma'atul muslimin itu. Dengan demikian, orang yang tidak bergabung dalam jama'ahnya bukan seorang muslim.
Ketika saya melihat pengarang memakai na-ma jama'atul muslimin, saya ingin menerangkan bahwa nama yang benar untuk jama'ah yang anggotanya membunuh Anwar Sadat adalah "Jama'ah Islamiyah".

Kedua: Dengan prihatin saya katakan bahwa pengarang telah terjatuh dalam kesalahan yang beliau sendiri membantahnya jika dilakukan orang lain. Pengarang ingin mengingkari orang-orang yang menisbahkan perkataan-perkataan yang ti-dak benar dan pemahaman yang asing dan batil kepada Sayid Qutb rahimahullah, di mana Sayid Qutb berlepas diri darinya. Namun pengarang jus-tru terjatuh dalam kesalahan yang sama, dengan menisbahkan kepada orang lain bebe-rapa pendapat yang mereka berlepas diri darinya.
Bahkan saya menduga kesalahan pengarang lebih besar dari kesalahan orang-orang yang be-liau ingkari. Pengarang menyebutkan bahwa o-rang-orang yang membuat pendapat-pendapat asing dan batil telah membaca Ma'alim dan Fi Dzilal, artinya mereka berpegangan kepada apa yang mereka baca dari tulisan Sayid Qutb, seka-lipun salah dalam memahaminya. Adapun penga-rang sama sekali tidak berpegangan kepada satu-pun tulisan-tulisan orang-orang yang beliau tuduh tadi.
Sesungguhnya yang membuat kita terheran-heran, pengarang ---padahal ia terkenal se-bagai seorang penulis yang sangat berhati-hati dalam menulis--- tidak menyebutkan sumber-sumber dari nukilannya dalam alinea tersebut. Menjadi hak kami untuk menanyakan kepada beliau, dari mana beliau mendapatkan data-data beliau ten-tang Jama'ah Islamiyah? Jama'ah Islamiyah me-miliki lebih dari dua puluh studi dan kajian yang menerangkan pemikiran-pemikirannya. Apakah pengarang telah membaca sebuah di antaranya? Kemudian kami tanyakan lagi, apakah beliau telah bertemu dengan salah seorang pimpinan Ja-ma'ah Islamiyah atau sebagian anggotanya yang akan memberinya data-data tentang Jama'ah Islamiyah ?
Besar kemungkinannya beliau belum mem-baca satupun dari buku-buku Jama'ah Islamiyah dan juga belum bertemu dengan seorangpun dari anggota Jama'ah Islamiyah. Kalau sudah, tentu-lah beliau tidak akan mengatakan seperti yang beliau katakan dalam bukunya tadi.
Kami terima alasan kenapa pengarang tidak mengetahui hakekat pemikiran Jama'ah Islamiyah karena memang sebuah buku Jama'ah Islamiyah pun belum sampai kepadanya. Namun yang tidak bisa kami terima adalah beliau menisbahkan ke-pada Jama'ah Islamiyah, beberapa pendapat yang tidak dikatakan oleh Jama'ah Islamiyah, tidak ju-ga pernah terjadi dialog dengan seorang anggo-tanya.
Kami terangkan di sini beberapa hal yang tidak diketahui oleh pengarang, yaitu :

1. Jama'ah Islamiyah selamanya tak pernah mengatakan kafirnya seorang muslim yang tidak bergabung dengannya. Anggota Jama-'ah Islamiyah bahkan merupakan pihak ter-depan yang menolak pemahaman pengkafi-ran di Mesir, bahkan Jama'ah Islamiyah ber-pendapat seorang yang melakukan sebuah kesyirikan dikarenakan tidak mengetahui hal itu kesyirikan, ia dimaafkan karena ketiodak tahuannya. Ia tidak dikafirkan sampai telah tegak hujah syar’iyah. Jama'ah Islamiyah mempunyai pembahasan mengenai hal ini yang telah dimuat dalam majalah Al Murabe-ton dengan judul "Takfirul Mu'ayyan Baina Al Ghuluw wal Taqshir " (mengkafirkan personal antara sikap terlalu keras dan ter-lalu lemah). Barang siapa yang tidak meng-kafirkan orang yang terjatuh dalam kesyiri-kan karena ketidak tahuannya, bagaimana mungkin mengkafirkan orang yang tidak ber-gabung dengan jama'ah tertentu? Maha Suci Allah dari kedustaan yang nyata ini. Jama'ah Islamiyah juga tetap menghadirkan dalam berbagai seminar yang diadakannya para da'i yang tidak bergabung dengan Jama'ah Isla-miyah, bahkan boleh jadi tidak bergabung dengan jama'ah manapun seperti syaikh Sho-lah Abu Ismail rahimahullah, Syaikh Ahmad Mahlawi dan lain-lain. Para anggota Jama'ah Islamiyah juga tetap bergantian mendengar pengajian-pengajian mereka dan sholat di belakang mereka.

2. Jama'ah Islamiyah tidak mengatakan haram-nya bekerja pada yayasan-yayasan sosial. Anggota-anggota Jama'ah Islamiyah tetap bekerja sebagai dokter, guru, dan lain seba-gainya. Justru banyak anggota Jama'ah Isla-miyah tidak diperbolehkan bekerja pada bi-dang-bidang yang seharusnya menjadi hak mereka, hanya disebabkan karena mereka bergabung dengan Jama'ah Islamiyah, baik di universitas-universitas, sekolah-sekolah, pa-brik-pabrik atau yayasan-yayasan. Sudah diketahui bersama bahwa Dr. Umar Abdurah-man saat ini tidak diperkenankan menerus-kan tugasnya sebagai dosen di Universitas Al Azhar, padahal beliau adalah dosen dan ketua jurusan tafsir. Contoh selain beliau ba-nyak, namun cukuplah kita ketahui bersama bahwa Khalid Al Islambuli yang membunuh Anwar Sadat adalah seorang perwira angka-tan bersenjata Mesir. Memang nash-nash Syar’i mengharamkan beberapa pekerjaan, seperti bekerja di pabrik minuman keras dan bank ribawi. Dalam hal ini, Jama'ah Islamiyah menetapi hukum syar’i.

3. Pernyataan bahwa Jama'ah Islamiyah mewa-jibkan anggotanya melakukan uzlah dari ma-syarakat merupakan pernyataan yang aneh. Setiap orang yang mengikuti berbagai jama-'ah di Mesir akan merasakan keterlibatan pa-ra anggota Jama'ah Islamiyah di tengah-tengah masyarakat, di desa-desa dan kota-kota berdakwah, bergaul bersama masyara-kat dan memberikan bantuan serta pelaya-nan kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Bahkan pemerintah Mesir sendiri berpikir ulang jika akan menghantam Jama'ah Islami-yah dengan tujuan menghalangi Jama'ah Islamiyah melayani masyarakat. Mereka ta-kut bila hal itu dikerjakan akan membuat masyarakat mencintai anggota-anggota Ja-ma'ah Islamiyah dan membela mereka, seba-gaimana hal ini telah terjadi di daerah 'Ainu Syams seperti dimuat dalam laporan koran pemerintah, Al Ahram tanggal 30 Januari 1989 M, setelah pemerintah menggulung pa-ra anggota Jama'ah Islamiyah di daerah ter-sebut.
Kita tidak perlu jauh-jauh, dalam buku "Mitsaqul amal al Islami" hal. 150, yang menggambarkan pemikiran Jama'ah Islamiyah telah disebutkan," ...Siapakah yang memberi fatwa untuk dirinya sendiri dan masyarakat, pada zaman sekarang harus beruzlah, mencurahkan dirinya untuk sholat dan dzikir semata, meninggalkan kewajiban memberi pengajaran kepada orang yang tidak tahu, memberi nasehat kepada orang-orang yang sombong, beramar makruf nahi mungkar, menyiapkan kekuatan, jihad melawan musuh, membebaskan tanah air dan menegakkan syari’at?"

4. Tinggal permasalahan menjauhi masjid-mas-jid dengan anggapan masjid-masjid tersebut adalah masjid dhirar. Inipun merupakan tu-duhan batil yang paling jelek. Pemuda-pemu-da Jama'ah Islamiyah memenuhi masjid-masjid dan berdakwah. Mereka memahami betul meninggalkan sholat jama'ah merupa-kan sebuah bid'ah, sekalipun dikarenakan imam melakukan suatu bid'ah. Terkadang memang mereka menjauhi masjid tertentu, tapi dengan suatu alasan seperti di dalamnya ada kuburannya, padahal telah jelas adanya larangan sholat di tempat tersebut. Meski demikian secara umum, mereka tidak me-ninggalkan masjid-masjid dan mereka tidak bosan memberi nasehat dan peringatan.

Akhirnya, kita kembali ke penjelasan awal. Kami memohon pengarang untuk mendatangkan bukti-bukti atas tuduhan yang dilontarkannya, bukankah bukti menjadi kewajiban bagi si penuduh ?

Ketiga: Setelah kita jelaskan kesalahan pengarang dalam menisbahkan beberapa penda-pat kepada Jama'ah Islamiyah, kami ingin meya-kinkan pengarang dan pihak lain bahwa Jama'ah Islamiyah menghormati ustadz Sayid Qutb rahi-mahullah dengan sebesar-besar penghormatan. Beliau mempunyai kedudukan tersendiri dalam diri para anggota Jama'ah Islamiyah. Namun Ja-ma'ah Islamiyah tidak menisbahkan manhajnya kepada Fi Dzilal atau Ma'alim, Jama'ah Islamiyah tidak mengatakan mengambil pikiran-pikirannya dari kedua buku tersebut, sekalipun sering meng-gunakan pendapat-pendapat beliau rahimahullah sebagai penguat; dikarenakan beliau adalah seo-rang tokoh da'i Islam masa ini.
Kami menegaskan sekali lagi bahwa Jama'ah Islamiyah tak pernah seharipun, menisbahkan ke-pada ustadz Sayid Qutb rahimahullah, pendapat-pendapat yang tidak berasal dari diri beliau dan mengatakan pendapat-pendapat tersebut terda-pat dalam fi Dzilal dan Ma'alim.

Keempat : Termasuk bersikap jujur dalam hal ini adalah saya harus membersihkan nama baik jama'ah yang menamakan dirinya Jama'atul Muslimin dari sebagian apa yang dikatakan oleh pengarang. Memang benar Syukri Musthafa me-ngatakan banyak hal yang dinisbahkan oleh pengarang kepadanya, namun yang bisa diketahui Syukri tidak menisbahkan pendapat-pendapatnya tersebut kepada Sayid Qutb. Penulis tulisan ini (Abu Isra' Al Asyuthi-pent) telah membaca seba-gian tulisan tangan Syukri --semoga Allah me-ngampuninya-- dan berdialog dan berdebat de-ngan banyak pengikutnya. Dari itu semua, saya bisa mengatakan bahwa Syukri sama sekali tidak mendasarkan pendapat-pendapatnya kepada seo-rang ulama pun, baik ulama dahulu maupun ulama belakangan. Ia berpendapat hujah itu ha-nya Al Qur'an dan As sunah semata. Ia berpen-dapat kamus bahasa arab saja sudah cukup untuk memahami Al Qur'an dan As Sunah, dengan ban-tuan dalil-dalil fitrah atau dalil-dalil akal. Sayid Qutb dalam pandangan Syukri hanyalah seorang manusia seperti manusia lainnya, ia tidak menda-sarkan pemikirannya kepada Sayid Qutb dan tidak menisbahkan pemikirannya kepada Sayid Qutb. Boleh jadi memang Syukri terpengaruh dengan pemikiran Sayid Qutb pada masa awal-awal di penjara, namun pembicaraan kita kali ini bukan-lah tentang pemikiran-pemikiran Syukri namun tentang dasar-dasar pemikiran jama'ah Syukri.
Sebagai penutup, kami benar-benar mengha-rap Dr. Sholah meneliti ulang tulisannya sesuai data yang kami sampaikan, kami masih berharap kebaikan yang banyak pada diri beliau dan se-sungguhnya kembali kepada kebenaran itu lebih baik dari terus menerus mempertahankan kebati-lan.







Lampiran ketiga :
Teks Penyataan Sikap Jama'ah Islamiyah Mesir
Terkait dengan apa yang dinisbahkan kepada Jama'ah Islamiyah Mesir berupa seruan bunuh diri kepada anggota yang tertangkap
Judul Pernyataan sikap

"Penjelasan tentang Khabar Bohong"

Kantor-kantor berita beberapa waktu yang lalu memberitakan bahwa Jama'ah Islamiyah Mesir telah mengeluarkan sebuah penjelasan yang beri-si seruan kepada para anggota Jama'ah Islamiyah yang tertangkap untuk melakukan bunuh diri, demi mencegah mengaku pada saat interogasi.
Di sini kami wajib menjelaskan sebagai berikut:
• Jama'ah Islamiyah belum dan tak akan pernah mengeluarkan penjelasan seperti ini, karena Islam telah mengharamkan bunuh diri dengan dalil-dalil yang tetap dan qath'i.
• Pemerintah Mesir yang bobrok telah membuat kedustaan ini dan menyebar luaskannya agar bisa membunuh lebih banyak lagi anggota Jama'ah Islamiyah yang tertangkap, lalu me-ngatakan bahwa mereka mati bunuh diri dengan memakai alasan penjelasan dusta ini. Sudah sama-sama diketahui metode seperti ini bukanlah hal yang baru bagi rezim thaghut Mesir, pembunuhan syaikh Kamal As Sananiri tidaklah jauh dari kita…Bahkan satu hari sete-lah menyiarkan penjelasan yang dusta ini, pemerintah thaghut Mesir membunuh seorang anggota Jama'ah Islamiyah di Aswan dan me-nyatakan ia mati karena menjatuhkan dirinya dari gedung dewan keamanan nasional !!!
Kelihatannya rezim thaghut Mesir tak pandai membuat sandiwara palsu ini, semua pihak mengetahui seorang tawanan di dalam gedung dewan keamanan nasional tidak bisa bergerak meski hanya sejauh satu meter, karena kedua matanya ditutup, kedua tangan dan kakinya di-rantai.
Terakhir… Setelah jelas bahwa saudara yang ditahan pasti akan dibunuh dan dibunuh, maka kami mengajak saudara-saudara kami kaum mu-jahidin dari anggota Jama'ah Islamiyah ketika mereka akan ditangkap, janganlah menyerah, te-tapi terus berperang sampai menang atau meng-gapai syahid dengan izin Allah…

Sesungguhnya seorang ksatria akan terhibur ketika mampu menimpakan kerugian kepada musuhnya sebelum ia mati.

Wahai pemerintah Mesir yang murtad…
Kami tak akan berperang sendirian setelah ini, kita tidak sama… yang terbunuh di antara kalian berada di neraka, sedang yang terbunuh di antara kami berada di surga insya Allah, cukuplah Allah sebagai pelindung kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.

Jama'ah Islamiyah Mesir
25 April 1993 M

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Apapun tanggapan anda, silahkan tulis...